Universitas Airlangga Official Website

Avina Sebut Dukungan Sosial Jadi Kunci Ketahanan dan Agensi Perempuan

UNAIR NEWS – Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyelenggarakan kuliah tamu dalam rangka memperingati Hari Kartini pada Senin (21/04/2025). Kuliah tamu bertajuk The Role of Social Support in Women’s Empowerment: Building Resilience and Agency itu menghadirkan Avina Nadhila Widarsa dari Australian National University sebagai narasumber utama. 

Dalam paparannya, Avina menekankan pentingnya dukungan sosial dalam memberdayakan perempuan di tengah tantangan struktural dan kultural yang masih mengakar. Ia menyoroti bahwa dukungan dari keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas sangat berpengaruh dalam membangun ketahanan (resilience) dan agensi perempuan.

Avina membuka sesi dengan membahas kehidupan Raden Adjeng Kartini sebagai pionir kesetaraan gender di masa kolonial. Kartini tidak hanya menolak praktik poligami dan pernikahan dini, tetapi juga memperjuangkan pendidikan sebagai jalan emansipasi bagi perempuan. 

“Perjuangan Kartini adalah refleksi awal dari pentingnya dukungan sosial dalam mengubah realitas perempuan,” ujar Avina.

Meski Indonesia mengalami kemajuan dalam partisipasi pendidikan dan kerja perempuan, Avina menekankan masih adanya kesenjangan yang perlu dijembatani. Salah satunya adalah kesenjangan upah yang masih mencapai 23 persen serta tingginya kasus kekerasan berbasis gender yang dilaporkan sepanjang 2024.

Dukungan sosial, menurutnya, menjadi elemen kunci dalam menghadapi tantangan tersebut. “Perempuan dengan dukungan keluarga, terutama dari ayah atau suami, 65 persen lebih mungkin untuk melanjutkan pendidikan tinggi,” jelas Avina.

Ia juga menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan sebagai agen transformasi gender melalui kurikulum yang sensitif gender, program mentoring, serta penyediaan layanan dukungan seperti pusat perempuan dan fasilitas penitipan anak di kampus.

Lebih lanjut, Avina menekankan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya tentang kesetaraan angka, tetapi juga kemampuan untuk bertahan dalam tekanan serta mengambil keputusan atas hidupnya sendiri. “Resiliensi dan agensi adalah dua hal yang harus ditanamkan sejak dini. Perempuan harus mampu menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar penonton,” tuturnya.

Di akhir, Avina mengajak mahasiswa untuk terus memperkuat jejaring dukungan dan memperjuangkan ruang yang aman dan setara bagi perempuan. “Kemenangan perempuan bukanlah menjadi lebih unggul dari laki-laki, tetapi lebih unggul dari versi dirinya yang dulu,” pungkasnya mengutip semangat Kartini.

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia