Universitas Airlangga Official Website

Bagaiamana Hubungan Usia, Lama Melaut, Konsumsi Natrium, dan Kalium dengan Hipertensi Pada Nelayan?

Seperti diketahui, hipertensi atau yang dikenal masayarakat dengan sebutan darah tinggi, adalah silent killer bagi sebagian besar orang karena seringkali kondisi ini tidak diketahui dan gejalanya juga sering tidak terlihat. Jika tidak diketahui dan dilakukan pengobatan sedini mungkin, hipertensi dapat berujung pada stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan otak, kebutaan, hingga kematian. Bagi kelompok Nelayan, banyak diantara mereka yang  tidak menyadari bahwa sebagian dari mereka banyak menderita penyakit hipertensi. Laporan dari Kemenkes di tahun 2018 menunjukkan 36,1% dari jumlah penduduk nelayan mengalami hipertensi. Kelompok nelayan juga tergolong kelompok yang memiliki kerentanan terhadap kondisi hipertensi karena lekat dengan beberapa faktor risiko, diantaranya konsumsi kopi yang cukup tinggi, merokok, konsumsi natrium dari produk laut yang diasinkan, pola makan kurang teratur, dan lain sebagainya. Nah, penelitian kali ini akan menguraikan bagaimana hubungan usia, lama melaut, asupan kalium, dan natrium kejadian hipertensi pada nelayan.

Metode dan hasil

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana usia, lama melaut, asupan kalium, dan natrium kejadian hipertensi pada nelayan, sebuah studi potong lintang dilakukan pada 41 nelayan di Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Hipertensi diukur secara langsung menggunakan alat ukur digital, sedangkan makanan harian nelayan untuk mengetahui jumlah asupan natrium dan kalium dihitung menggunakan kuesioner frekuensi makanan semi-kuantitatif.

Rata-rata waktu lama melaut nelayan yang didapatkan dari hasil penelitian ini yaitu 11 hari. Lama melaut tidak berhubungan dengan risiko hipertensi pada nelayan. Nelayan di Desa Blimbing menghabiskan waktunya lebih banyak berada dilaut dengan kurun waktu antara 7 hari sampai 14 hari bahkan ada yang lebih apabila target muatan ikan belum terpenuhi. Lalu, lebih dari setengah nelayan sudah berusia lebih dari 40 tahun, dan faktor usia juga menunjukkan hubungan positif dengan hipertensi. Artinya, semakin tinggi usia juga semakin tinggi risiko hipertensi.

Kejadian hipertensi sebagian besar dipengaruhi oleh asupan makanan tinggi natrium. Natrium yang tinggi menyebabkan retensi air dalam tubuh sehingga terjadi peningkatan volume darah dan tekanan darah. Penelitian ini menunjukkan tendensi bahwa nelayan yang konsusmi natriumnya tinggi (>2300 mg/hari) memiliki proporsi hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan nelayan dengan asupan yang rendah, namun secara statistik tidak signifikan. Pada penelitian sebelumnya dari Siregar, dkk (2020) menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat pesisir di Kota Medan lebih sering terkena hipertensi diakibatkan kebiasaan seringnya mengonsumsi makanan yang asin yang berasal dari olahan hasil ikan dan ikan asin. Namun, dalam hal ini hubungan hipertensi dengan asupan natrium tidaklah selalu signifikan bergantung pada perbedaan pada kebiasaan konsumsi dan gaya hidup masayarakat.

Selain itu, banyak faktor yang mampu menekan kejadian hipertensi saat terdapat nilai asupan natrium yang tinggi yakni nilai asupan kalium. Kalium merupakan senyawa yang masuk dalam golongan mineral, kalium mampu menurunkan resiko kejadian hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 78% nelayan mengonsusmi kalium sesuai dengan angka yang direkomendasikan.

Penulis artikel populer: Qonita Rachmah

Penulis jurnal: Muhammad Andy Dwi Purnomo, Siti Rahayu Nadhiroh1, Qonita Rachmah

Judul artikel: Hubungan Usia, Lama Melaut, Asupan Natrium, dan Kalium dengan Kejadian Hipertensi pada Nelayan di Desa Blimbing, Paciran Lamongan Artikel lebih lengkap dapat dibaca pada:

https://www.researchgate.net/publication/376227138_Hubungan_Usia_Lama_Melaut_Asupan_Natrium_dan_Kalium_dengan_Kejadian_Hipertensi_pada_Nelayan_di_Desa_Blimbing_Paciran_Lamongan