Di era serba digital ini menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pesan gizi, terutama ditambah dengan adanya pandemi COVID-19 yang membatasi kegiatan secara luring. Di Indonesia, posyandu dilakukan setiap bulan dan dalam pelaksanaannya, orang tua balita yang mengalami gizi kurang akan diberikan pendidikan dan penyuluhan gizi di Posyandu/Terpadu. posyandu di tingkat desa, namun pandemi COVID-19 yang berlangsung lebih dari dua tahun menyebabkan banyak posyandu berhenti beroperasi; sehingga pendidikan gizi tidak dapat dioptimalkan. Literatur sebelumnya tentang sistem panduan gizi berbasis digital multifaset melalui internet, email, dan pesan teks membahas faktor-faktor yang dapat dimodifikasi yang terkait dengan obesitas dini pada masa kanak-kanak dan mendukung pertumbuhan yang sehat. Hal ini menekankan perlunya mengembangkan pendidikan gizi berbasis digital.
Penelitian di Jakarta, Indonesia, menunjukkan 17,1% ibu mencari informasi tentang MP-ASI melalui media elektronik, sisanya 30% dari petugas kesehatan, 22% dari kader/kader kesehatan Posyandu, dan 18,6% dari keluarga. Menariknya lagi, sebuah studi kualitatif di Amerika pada tahun 2020 menemukan bahwa sumber online saat ini digunakan oleh para ibu, terutama mereka yang berada dalam kelompok berpenghasilan rendah, sebagai sumber utama untuk mencari informasi gizi, bukan petugas kesehatan. Oleh karena itu, Edukasi Gizi Berbasis Online menjadi salah satu saluran yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya untuk memberikan Edukasi Gizi dengan berbasis bukti ilmiah yang relevan.
Hasil ini didapatkan dari sebuah penelitian intervensi quasiexperiment dengan one pretest and posttest design group berupa edukasi dan konseling selama 8 hari untuk meningkatkan pengetahuan gizi ibu, sikap, norma subyektif, persepsi kontrol perilaku, efikasi diri, dan niat praktik kesehatan komplementer. makanan.
Intervensi dalam penelitian ini terdiri dari kombinasi 10 sesi pendidikan gizi selama 8 hari berturut-turut berdasarkan teori konstruk perilaku terencana. Sepuluh sesi sengaja dikembangkan berdasarkan informasi yang dibutuhkan selama pemberian makanan pendamping yang diambil dari 10 prinsip pemberian makanan pendamping WHO, dan durasi intervensi juga dipilih secara sengaja berdasarkan beberapa alasan; yaitu (1) memberi kesempatan kepada ibu untuk membaca semua materi yang diberikan serta mengikuti kegiatan langsung; (2) tidak memakan waktu terlalu lama untuk mencegah kelelahan atau kehilangan semangat. Setiap sesi ditujukan untuk meningkatkan satu atau lebih konstruksi dalam theory of planned behavior.
Hasil studi menunjukkan bahwa intervensi pendidikan gizi online WhatsApp 10 sesi berdasarkan t theory of planned behavior secara signifikan meningkatkan pengetahuan, sikap, norma subyektif, kontrol perilaku yang dirasakan, efikasi diri, dan niat untuk memberikan MP-ASI bergizi pada ibu. Peningkatan aspek-aspek tersebut diyakini saling terkait seperti yang dijelaskan oleh konstruk TPB. Disarankan kepada pembuat kebijakan seperti Kementerian Kesehatan untuk menyesuaikan dan melanjutkan upaya pendidikan gizi dengan mengintegrasikan pendidikan gizi online WhatsApp dengan program promosi kesehatan yang ada. Program ini juga dapat menambah kelas yang sudah ada sebelumnya seperti kelas ibu hamil atau kelas kesehatan di setiap kecamatan. Kami menyarankan studi lebih lanjut untuk menggunakan aplikasi atau platform media sosial lain selain WhatsApp namun masih banyak digunakan oleh masyarakat untuk membandingkan keefektifan masing-masing platform. Selain itu, studi lebih lanjut juga dapat mengukur praktik kesehatan sebagai hasil intervensi.
Penulis: Qonita Rachmah, Junaida Astina, Dominikus Raditya Atmaka, and Leli Khairani
Judul Artikel: The Effect of Educational Intervention Based on Theory of Planned Behavior Approach on Complementary Feeding: A Randomized Controlled Trial
Artikel dapat ditemukan pada link berikut: https://www.hindawi.com/journals/ijpedi/2023/1086919/
Penulis Artikel Populer: Qonita Rachmah





