Universitas Airlangga Official Website

Bahasa, Identitas, dan Kontestasi di Kampung Ampel Surabaya

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kampung Ampel dikenal sebagai salah satu titik awal masuknya Islam di Jawa Timur. Namun, lebih dari sekadar situs religi dan sejarah, kawasan ini juga merupakan ruang perjumpaan budaya yang kompleks. Beragam kelompok etnis—Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa—hidup berdampingan dan membentuk wajah sosial Kampung Ampel yang kosmopolitan. Keberagaman ini tercermin secara nyata dalam lanskap bahasa yang hadir di ruang-ruang publiknya.

Lanskap linguistik tidak hanya dipahami sebagai kumpulan tanda, papan nama, atau tulisan di ruang publik, tetapi juga sebagai representasi relasi kuasa, ideologi, dan identitas sosial. Sejumlah ahli bahkan berpendapat bahwa studi lanskap linguistik setua praktik menulis itu sendiri, karena bahasa selalu hadir dan bermakna dalam ruang sosial.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang menggabungkan sosiolinguistik dan linguistik terapan, penelitian ini menganalisis bagaimana bahasa digunakan, ditempatkan, dan diposisikan dalam ruang publik Kampung Ampel. Analisis dilakukan melalui teori geosemiotik Scollon, yang menekankan pentingnya lokasi, posisi, dan konteks sosial suatu bahasa dalam membangun makna. Bahasa tidak berdiri netral; penempatannya di ruang publik selalu berkaitan dengan fungsi, audiens, dan ideologi tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mendominasi lanskap linguistik Kampung Ampel secara monolingual. Dominasi ini sejalan dengan kebijakan bahasa nasional Indonesia yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Meskipun kawasan ini dihuni oleh komunitas multietnis dan multibahasa, penggunaan bahasa daerah atau bahasa etnis lain relatif terbatas dalam ruang publik formal.

Temuan ini memperlihatkan adanya kontestasi yang halus namun signifikan. Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi praktis, tetapi juga sebagai simbol identitas nasional yang menghubungkan berbagai kelompok etnis dan linguistik di Indonesia. Dalam konteks Kampung Ampel, bahasa Indonesia menjadi medium yang menegosiasikan keberagaman sekaligus menegaskan kesatuan.

Penutup:

Lanskap linguistik Kampung Ampel mencerminkan bagaimana identitas nasional Indonesia dibangun dan direproduksi melalui praktik bahasa sehari-hari. Ruang publik menjadi arena penting tempat bahasa bekerja bukan hanya untuk menyampaikan makna, tetapi juga untuk membentuk identitas, kekuasaan, dan kebersamaan di tengah keberagaman. 

Nama Penulis: Ni Wayan Sartini, Bramantio, Rima Firdaus, Nadya Afdholy, Salimulloh Tegar Sanubarianto

Link Jurnal:

https://journals.bilpubgroup.com/index.php/fls/article/view/10376