Otak kecil atau serebelum pada manusia terletak di bagian bawah dari otak besar atau serebrum. Beberapa fungsi otak kecil adalah salah satu pusat koordinasi gerakan dan tonus otot dan turut mengendalikan fungsi kognitif serta keseimbangan tubuh.
Fungsi serebelum tersebut berkaitan erat dengan metabolisme gula di dalam tubuh kita. Pada kondisi hiperglikemia atau meningkatnya level gula darah di dalam tubuh seperti pada pasien diabetes mellitus, fungsi organ ini dapat mengalami gangguan. Pada level biomolekuler, sel-sel saraf atau neuron pada serebelum akan menggunakan sistem neurotransmiter yang menyeimbangkan aktivitas inhibisi dan ekstasi untuk mencegah suatu sinaps berlebih. Salah satu sistem neurotransmiter yang mengendalikan inhibisi dan penting dalam proses belajar adalah sistem asam gama amino butirat yang memiliki reseptor yang tersebar luas di jaringan otak manusia. Neurotransmiter ini akan bekerja dengan menyeimbangkan aktivitas ekstasi sistem glutamatergik, yang apabila berlebih dapat menyebabkan terjadinya kejang.
Hasil penelitian kami yang menggunakan tinjauan sistematik pada berbagai basis data ilmiah menganalisis tentang peran sistem asam gama amino butirat pada serebelum kasus hiperglikemia pada hewan coba untuk lebih memahami patologi dan potensi patofisiologi pada kondisi tersebut. Penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi Sinta dan diharapkan dapat menjadikan pembaca lebih waspada dalam menjaga kadar gula darah.
Beberapa hasil penting yang perlu dipahami yaitu hiperglikemia dapat memicu peningkatan pelepasan molekul-molekul spesies oksigen reaktif di dalam tubuh kita yang akan menyebabkan ketidakseimbangan sistem pro- dan anti-inflamasi. Apabila terjadi dalam waktu tertentu maka proses inflamasi akan meningkat dan kembali akan menyebabkan proses kaskading stres oksidatif terus berjalan dan dapat meningkatkan kematian sel-sel tubuh dan berdampak negatif bagi fungsi organ.
Proses yang lain yaitu terjadi peningkatan reaksi peradangan yang juga dapat menambah cepat kerusakan dan kematian sel. Pada serebelum, fungsi koordinasi motorik dan keseimbangan yang dikontrolnya dapat terganggu, dan nampak bahwa pada hewan coba yang mengalami hiperglikemia yang tidak terkontrol, hal ini antara lain karena ketidakseimbangan proses inhibisi dan ekstasi sistem neurotransmiter di atas.
Penelitian lebih lanjut diperlukan guna membuktikan adanya kaitan proses ini dengan sistem yang lain, maupun dengan area sistem saraf pusat yang lain, dan diharapkan dapat membantu dalam menemukan langkah yang tepat guna mencegah terjadinya gangguan anatomi fungsional akibat hiperglikemia pada susunan otak manusia.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Kalanjati, V. P., Mahdi, R. B., & Aditya, D. M. N. (2025). Cerebellar Purkinje Cells and GABA Neurotransmission in the Diabetic Rodent Models: A Systematic Review. AKSONA, 5(2), 100–108. https://doi.org/10.20473/aksona.v5i2.70359





