Universitas Airlangga Official Website

Bantu Pulihkan Trauma Pascabencana, UNAIR Kembali Kirimkan Relawan ke NTT

Pelepasan mahasiswa PPDS Kedokteran Jiwa ke NTT untuk bantu pulihkan trauma masyarakat terdampak bencana (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – Bencana gempa yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu masih menyisakan luka mendalam. Tak hanya luka fisik, luka batin akibat kehilangan anggota keluarga hingga trauma akan terjadinya bencana susulan masih menjadi masalah kesehatan yang diderita masyarakat terdampak bencana.

Berangkat dari kesadaran pentingnya pemulihan trauma bagi penyintas bencana gempa NTT, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memberangkatkan relawannya untuk memberikan bantuan medis. Ialah dr Riani dan dr Laili, dua mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Jiwa (Psikiatri) Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR.

Rektor UNAIR, Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin bersama Wakil Rektor Bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis (EEPB) Prof Dr Koko Srimulyo Drs MSi resmi melepas keberangkatan kedua relawan secara simbolis, pada Kamis (10/9/2026). Rektor berharap, misi kemanusiaan ini berjalan lancar tanpa satu hambatan apa pun.

“Semoga semuanya bisa dilaksanakan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan berjalan lancar, dan bisa kembali ke sini melanjutkan pendidikan PPDS-nya,” ucapnya, di ruang Balai RUA, Lt 4 Kantor Manajemen Kampus MERR-C.

Kedua relawan tersebut akan bertolak ke NTT, tepatnya di Manggarai Timur pada Jumat (11/9/2026) pagi. Mereka akan bertugas selama satu minggu ke depan. 

Rektor UNAIR menyerahkan vest Garda Ksatria kepada dr Riani sebagai simbol pelepasan relawan PPDS FK UNAIR menuju NTT (Foto: Humas UNAIR)

Kepada UNAIR NEWS, dr Riani menuturkan bahwa keberangkatan keduanya berlatar belakang dari adanya kebutuhan skrining mengenai tingkat stres dan trauma pascabencana. Sebelumnya, mereka telah melakukan koordinasi dengan psikiater dan dinas kesehatan setempat.

“Memang tempat yang akan kami datangi yaitu Manggarai Timur, banyak anak terkena dampak, seperti stres dan cemas. Di sana juga sekolah libur, sehingga kami melakukan skrining untuk persiapan mereka sekolah agar lebih kuat,” terangnya. 

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa yang terdampak bencana juga rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Untuk itu, skrining juga akan menyasar orang dewasa hingga lansia.

Layanan medis yang nantinya akan mereka berikan antara lain edukasi teknik relaksasi dan grounding. Keduanya merupakan terapi tanpa obat-obatan, sehingga dapat dilakukan kapan saja.

“Kalau ada perasaan cemas, terapi itu bisa dilakukan. Kemudian kami skrining, jika memang ada keperluan obat akan kami berikan. Kalau misalnya obatnya tidak ada, kami akan rujuk ke rumah sakit terdekat,” imbuhnya.

Pendampingan dan layanan kesehatan mental tersebut nantinya akan diberikan pada posko pengungsian utama, juga tempat-tempat lain yang belum terjangkau. “Tentunya posko utama. Lalu kami akan telusur dengan dinas kesehatan dan psikiater di sana untuk mendatangi tempat-tempat yang betul-betul terdampak dan jauh-jauh,” tuturnya.

Hadirnya relawan PPDS FK UNAIR tersebut harapannya dapat memberikan pendampingan bagi masyarakat untuk pulih dari trauma pascabencana. Dengan demikian, perlahan mereka akan mampu bangkit dan kembali menjalani aktivitas setelah menghadai bencana.

Penulis: Yulia Rohmawati