Basidiobolomycosis adalah infeksi jamur langka yang disebabkan oleh organisme bernama Basidiobolus ranarum. Biasanya, infeksi ini menyerang kulit dan jaringan subkutan pada anak-anak dan remaja yang tinggal di wilayah tropis, seperti Indonesia, dimana iklim lembap dan hangat memudahkan penyebarannya.
Pasien biasanya menunjukkan benjolan keras, berwarna merah, dengan ukuran yang bisa bertambah besar secara perlahan. Pada kasus ini, seorang gadis berusia 14 tahun mengalami benjolan di paha kanannya yang semakin membesar selama tujuh bulan. Gejala ini kadang disalahtafsirkan sebagai tumor, radang, atau infeksi lain seperti tuberkulosis kulit. Ciri khas dari basidiobolomycosis adalah adanya benjolan yang keras dan tidak nyeri, seringkali tidak menunjukkan gejala lain seperti demam atau nyeri. Pada pemeriksaan mikroskopis, ditemukan struktur jamur besar yang dikelilingi oleh deposit eosinofilik yang disebut fenomena Splendore-Hoeppli, yang merupakan tanda khas infeksi ini. Pemeriksaan kultur jamur juga memperkuat diagnosis dengan menunjukkan organisme Basidiobolus. Infeksi ini sering terlambat terdiagnosis karena gejalanya mirip dengan kondisi lain seperti granuloma, abses, atau tumor. Jika tidak ditangani segera, infeksi dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam dan menyebabkan deformitas atau kerusakan jaringan yang permanen.
Pengobatan utama adalah menggunakan obat antijamur dari golongan azole, seperti ketokonazol atau itraconazol. Pada kasus ini, pasien diberi ketokonazol selama enam bulan, yang menyebabkan penurunan besar pada ukuran benjolan dan perbaikan kondisi kulit secara signifikan. Penggunaan antifungal terbukti aman dan efektif dalam mengatasi infeksi ini jika dilakukan secara tepat dan konsisten.
Kesimpulan dari kasus ini basidiobolomycosis adalah infeksi jamur yang jarang dan bisa membingungkan karena gejalanya tidak spesifik. Oleh karena itu, penting bagi dokter dan tenaga medis di daerah tropis untuk mengenali tanda-tanda infeksi ini. Dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang tepat, mayoritas kasus dapat sembuh dan mencegah komplikasi yang serius.
Penulis: dr. Sulaksanaswastho Suyoso
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://ejpd.com/index.php/journal/article/view/2837
Basidiobolomycosis in a 14-year-old girl.
Sulaksanaswastho Suyoso, Maylita Sari, Linda Astari, Evy Ervianti, Sunarso Suyoso, Raniah Baswedan





