Universitas Airlangga Official Website

Bawa Isu Kesehatan Mental, Produk Mahasiswa FEB Raih Best Innovation dalam Business Summit

(kiri ke kanan) Aura Putricia Mahardini dan Siva Swastiwi menerima penghargaan best innovation acara ISBS 2025 (Foto: Siva Swastiwi)
(kiri ke kanan) Aura Putricia Mahardini dan Siva Swastiwi menerima penghargaan best innovation acara ISBS 2025 (Foto: Siva Swastiwi)

UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Ilmu Ekonomi (IE) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil mengharumkan nama kampus dengan meraih penghargaan Best Innovation pada ajang Indonesian Student Business Summit (ISBS) 2025. ISBS merupakan kompetisi bisnis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh WEBS (Workshop Entrepreneur Business Society). Acara berlangsung pada Sabtu (23/8/2025) hingga Minggu (24/8/2025). Puluhan tim mahasiswa dari berbagai universitas, seperti UNAIR, Telkom University, ITS, hingga UINSA ikut berkompetisi dalam ajang tersebut.

ISBS 2025 merupakan ajang kompetisi yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah menjalankan bisnis minimal tiga bulan. Selama dua hari penyelenggaraan, peserta mengikuti rangkaian acara mulai dari talkshow, sesi pitching, hingga presentasi.

Tim Rajut.ans, yang terdiri dari Siva Swastiwi dan Aura Putricia Mahardini berhasil mencuri perhatian juri berkat ide bisnis kreatif yang mereka usung. “Bersyukur, Rajut.ans bisa lolos dan berkesempatan untuk pitching lebih detail terkait bisnis kami di hadapan dewan juri,” ucap Siva.

Berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan Gen Z, akibat tekanan akademik serta tuntutan pekerjaan membuat banyak individu mencari cara sederhana namun efektif untuk mengatasi stres. Rajut.ans menawarkan solusi dengan mengangkat aktivitas merajut sebagai sarana self-healing. Nah! ranah ini (gangguan kesehatan mental, red) yang mau kita bereskan melalui bisnis kami,” ujar Siva.

Meski inovatif, Rajut.ans juga menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari stigma masyarakat terhadap isu kesehatan mental, anggapan bahwa merajut adalah hobi orang tua, hingga persaingan dengan produk massal yang lebih murah. Selain itu, membangun komunitas yang konsisten dan aktif juga menjadi tantangan tersendiri.

“Tantangannya utamanya adalah banyak orang masih memandang isu kesehatan mental masalah yang sepele dan aktivitas merajut sebagai hobi orang tua yang tidak relevan bagi Gen Z,” jelas Siva

Dalam ajang ISBS 2025, para juri turut memberikan sejumlah masukan yang berharga untuk pengembangan Rajut.ans. Salah satunya adalah agar inovasi yang ada tidak hanya terbatas pada kalangan Gen Z tetapi juga menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, juri juga menekankan pentingnya komitmen dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Mereka berharap Rajut.ans tidak hanya fokus pada sisi kreatif produk, tetapi juga konsisten menghadirkan solusi nyata yang dapat menjadi media self-healing serta sarana mindfulness bagi masyarakat.

Penulis: Rosa Maharani

Editor: Yulia Rohmawati