UNAIR NEWS – Tingginya angka stunting di Kelurahan Tlogopatut, Kecamatan Gresik, menjadi alarm serius bagi kesehatan anak di wilayah tersebut. Tenaga kesehatan di Puskesmas Kebomas menyebutkan bahwa kasus stunting di Kelurahan Tlogopatut tergolong cukup masif, dengan satu dari empat anak tercatat mengalami masalah stunting. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi edukatif yang menyasar langsung kelompok rentan di tingkat masyarakat.
Merespons kondisi tersebut, Kelompok Belajar Bersama Komunitas ke-7 (BBK 7) Universitas Airlangga menggelar kegiatan sosialisasi stunting bertajuk “Gencar Gizi” pada Sabtu, 10 Januari 2026 di RW 2 Kelurahan Tlogopatut, Gresik. Kegiatan ini dipusatkan di posyandu RW 2 dan menyasar kelompok paling rentan dalam pencegahan stunting, yakni ibu hamil dan ibu balita.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan balita, lalu pemberian imunisasi sebagai langkah deteksi dini terhadap risiko gangguan tumbuh kembang anak. “Kita memang selalu ada pendampingan dari pihak puskesmas, terkait imunisasi itu bisa dilakukan di posyandu, sehingga harapannya memudahkan warga untuk mengakses imunisasi” ujar Ibu Sri Endawati selaku ketua PKK RW 2.
Setelah pemeriksaan, tim BBK 7 membagikan brosur edukasi stunting kepada seluruh peserta. Brosur tersebut memuat penjelasan mengenai stunting, mulai dari definisi, penyebab, dampak, hingga langkah pencegahannya. Stunting dijelaskan sebagai kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan metode interaktif. Satu orang perwakilan mahasiswa menyampaikan materi secara langsung di hadapan peserta, sementara anggota lainnya mendampingi ibu hamil dan ibu balita secara personal untuk memastikan isi brosur dipahami dengan benar. Pendekatan ini dipilih untuk menghindari sosialisasi yang bersifat satu arah dan memastikan pesan kesehatan benar-benar tersampaikan.
Dalam materi sosialisasi, tim BBK 7 menekankan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi anak, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu, seperti anemia dan kurang energi kronis, rendahnya pemberian ASI eksklusif, infeksi berulang pada anak, serta sanitasi lingkungan yang buruk. Dampak stunting pun disoroti secara tegas, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mulai dari pertumbuhan fisik terhambat, perkembangan motorik terlambat, hingga penurunan kemampuan kognitif dan produktivitas di masa dewasa.
Kegiatan Gencar Gizi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being dengan mendorong peningkatan kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan. Upaya edukasi dan pendampingan di tingkat komunitas menjadi langkah konkret dalam mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan berkelanjutan. Melalui kegiatan Gencar Gizi ini, tim BBK 7 UNAIR berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting dapat meningkat, tidak hanya sebagai isu kesehatan anak, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Penulis: Tim BBK 7 Tlogopatut





