Mahasiswa program studi Kimia Abraham Alexs Tanu Wijaya berfoto bersama mahasiswa Teknik Lingkungan Lia Farihatus Sa’diyah seusai mempresentasikan gagasan ekstraksi limbah sawit tanpa pelarut kimia dalam ajang Seminar Pangan Nasional 2026 yang diadakan Universitas Riau. (Foto: Istimewa)

Bebas Pelarut Kimia, Mahasiswa UNAIR Rumuskan Pengolahan Limbah Sawit Berbasis Air

62 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Tumpukan jutaan ton limbah industri kelapa sawit nasional hingga kini masih memicu keresahan lingkungan akibat proses pengolahannya yang minim inovasi ilmiah dan berisiko mencemari alam sekitar. Merespon persoalan tersebut, dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas inovasi pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Inovasi tersebut ia sampaikan melalui ajang Seminar Pangan Nasional 2026 yang diadakan Universitas Riau pada Sabtu (17/10/2026). Abraham Alexs Tanu Wijaya dari program studi Kimia bersama Lia Farihatus Sa’diyah dari Teknik Lingkungan mengusung pemetaan parameter ekstraksi air subkritis untuk menjawab tantangan hilirisasi teknologi pertanian berkelanjutan.

Ciptakan Produk Bernilai Bebas Zat Berbahaya 

Inovasi gagasan mahasiswa UNAIR ini menawarkan solusi teknologi hijau. Inovasi ini mengonversi residu lignoselulosa sawit menjadi prekursor surfaktan ramah lingkungan dan bioaditif energi bernilai tinggi. Abraham merumuskan teknologi ekstraksi air subkritis yang murni memanfaatkan air sebagai pelarut utama. Hal itu untuk mengeliminasi total penggunaan bahan kimia korosif layaknya proses industri konvensional masa kini.

“Ide ini berangkat dari keresahan saya melihat melimpahnya limbah industri sawit yang terbuang sia-sia. Padahal, proses konversi konvensional masih menggunakan pelarut organik berbahaya,” ungkap Abraham.

Siasati Kendala Dana Melalui Kajian Presisi 

Menghadapi tantangan mahalnya biaya operasional uji coba laboratorium berskala besar, tim mahasiswa mengambil langkah cerdas dengan mengalihkan pendekatan riset menuju metode tinjauan literatur sistematis. Mereka menelusuri secara ketat ribuan artikel dari empat pangkalan data ilmiah dunia selama tiga minggu penuh. Itu mereka lakukan demi merumuskan batas parameter suhu atau waktu operasi yang paling optimal. “Tantangan utama bagi kami adalah menyaring dan memilah secara saksama ribuan artikel ilmiah. Pemilahan tersebut untuk mempertahankan referensi primer yang benar-benar ideal,” jelas mahasiswa program studi Kimia tersebut.

Secara kalkulasi ekonomi, pendekatan produksi berbasis air ini menjanjikan potensi keuntungan maksimal bagi pengusaha lokal. Karena pengadaan bahan baku limbah memakan biaya hampir nol rupiah. Tim mahasiswa menargetkan publikasi artikel ilmiah dalam jurnal universitas terkemuka sebagai landasan awal sebelum mereka melanjutkan proses pengujian nyata pada skala laboratorium. “Kami berharap penelitian ini segera berlanjut ke tahap uji coba laboratorium untuk memvalidasi nilai eksak rendemen produk sesuai rumusan teoretis yang telah kami temukan,” pungkas Abraham.

Penulis: Nabila Afifah Abida
Editor: Ragil Kukuh Imanto

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top