Di tengah ramainya perbincangan tentang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), ada satu simpul penting dalam ekosistem pengetahuan yang sering luput dari sorotan, yaitu perpustakaan. Padahal, seperti banyak orang mengetahui bahwa perpustakaan bukan sekadar ruang sunyi penuh rak buku, melainkan jantung dari peradaban literasi, riset, dan demokrasi pengetahuan. Ketika AI semakin mengubah cara manusia mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi, pertanyaan mendasarnya bukan lagi “perlukah perpustakaan mengadopsi AI?”, tetapi “sejauh mana perpustakaan siap melakukannya secara bertanggung jawab?”
Potensi besar ini dihadapkan pada realitas tantangan implementasi secara signifikan, yang bersifat teknis, organisasional, dan menakar kemampuan sumber daya manusia. Sebuah studi komprehensif mengenai Kesiapan AI di Perpustakaan Malaysia menjadi cermin yang penting, tidak hanya bagi negara tersebut tetapi juga bagi seluruh kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, yang sedang gencar mendorong agenda transformasi digital nasional. Penelitian ini berfokus pada kesiapan perpustakaan Malaysia berdasarkan enam dimensi penting, yaitu: infrastruktur, keterampilan teknis, dukungan manajemen, kebijakan dan regulasi, pendanaan, serta pelatihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk memberikan analisis komprehensif dan sistematis mengenai kesiapan perpustakaan di Malaysia dalam mengadopsi Kecerdasan Buatan (AI).
Unit analisis dalam studi ini adalah organisasi, khususnya perpustakaan. Oleh karena itu, responden yang ditargetkan adalah kepala perpustakaan yang memiliki wewenang untuk memberikan wawasan yang informatif mengenai kesiapan institusi mereka dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 71 pustakawan diundang melalui email untuk berpartisipasi dalam survei.
Kesiapan yang Masih “Moderat”: Antara Harapan dan Kenyataan Temuan penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan secara umum berada pada tingkat kesiapan yang moderat. Skor rata-rata (mean score) untuk berbagai dimensi mengkonfirmasi posisi ini. Sementara ada kekuatan yang jelas, terutama dalam aspek infrastruktur dasar dan dukungan manajemen, tantangan yang lebih dalam terletak pada perencanaan strategis, etika, dan keberlanjutan finansial.
1. Infrastruktur: Kecepatan Internet yang Baik, tetapi Penyimpanan Data Meragukan
Dari sudut pandang infrastruktur, kesiapan perpustakaan Malaysia dinilai moderat secara keseluruhan (Skor Rata-rata Keseluruhan: 3,43). Kecepatan dan keandalan koneksi internet untuk mendukung penggunaan perangkat lunak AI tanpa gangguan memiliki skor tertinggi (3,66). Ini menunjukkan bahwa fondasi konektivitas dasar cukup memadai. Pemeliharaan dan pembaruan perangkat keras dan lunak secara berkala juga berada pada tingkat yang moderat (3,46), mengindikasikan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Namun, keraguan muncul pada aspek-aspek krusial yang berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik AI. Ketersediaan komputer dengan daya pemrosesan dan memori yang cukup untuk menjalankan aplikasi AI secara efektif mendapat skor sedikit lebih rendah (3,32). Yang paling mengkhawatirkan adalah skor terendah untuk penyediaan ruang penyimpanan (storage space) yang memadai, baik di server lokal maupun cloud, untuk menyimpan set data AI (datasets) dan file terkait (3,27).
Memang penggunaan data AI seringkali berukuran sangat besar. Skor rendah ini menyoroti area kritis yang memerlukan investasi besar. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI, perpustakaan harus melakukan penilaian kebutuhan yang lebih mendalam yang disesuaikan dengan pengguna AI spesifik dan berkolaborasi dengan departemen IT atau institusi akademik untuk mendapatkan sumber daya dan keahlian tambahan, sehingga meningkatkan arsitektur data dan sistem mereka.
2. Dukungan Manajemen: Iklim Inovasi yang Positif, Komunikasi yang Perlu Ditingkatkan
Dukungan dari manajemen sangat penting terutama faktor kepemimpinan yang menentukan arah seluruh perjalanan suatu organisasi. Secara keseluruhan, dukungan manajerial menunjukkan tingkat yang positif tetapi moderat (Skor Rata-rata Keseluruhan: 3,42).
Manajemen menunjukkan upaya yang baik dalam mendorong lingkungan yang mendukung di mana staf diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi alat AI, yang menerima skor tertinggi dalam dimensi ini (3,59). Promosi budaya inovasi teknologi dan pencarian masukan dari staf mengenai pemilihan alat AI juga moderat (3,38). Ini mencerminkan tingkat dorongan dan inklusi staf yang memadai dalam keputusan terkait AI.
Akan tetapi, efektivitas saluran komunikasi untuk menjaga staf tetap terinformasi tentang inisiatif AI perpustakaan memiliki skor yang sedikit lebih rendah (3,32). Kepemimpinan yang aktif harus memastikan bahwa inisiatif AI selaras dengan tujuan organisasi dan didukung oleh rencana implementasi yang jelas. Di sini, komitmen manajemen yang tinggi sangat penting untuk mengamankan pendanaan, memfokuskan organisasi, dan mengikuti jalur strategis yang koheren. Memperkuat komunikasi dapat meminimalkan risiko dan memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan.
3. Sumber Daya Manusia dan Pelatihan: Semangat yang Tinggi, Keterampilan dan Etika yang Tertinggal
Aspek sumber daya manusia (SDM) adalah jantung dari setiap inisiatif teknologi. Kesiapan SDM secara keseluruhan berada pada tingkat moderat (Skor Rata-rata Keseluruhan: 3,24), menunjukkan bahwa staf memiliki kemauan, tetapi kapasitas perlu ditingkatkan.
Poin terkuat dalam dimensi ini adalah kemauan staf untuk beradaptasi dengan teknologi baru, termasuk alat AI, dan secara aktif mencari peluang untuk mengintegrasikannya ke dalam tugas sehari-hari mereka (3,70). Ini adalah modal sosial yang sangat berharga. Sayangnya, kemauan ini tidak sepenuhnya diimbangi dengan keterampilan. Keterampilan teknis yang diperlukan untuk memahami dan mengoperasikan alat dan aplikasi AI secara efektif berada pada tingkat moderat (3,13). Kemampuan pemecahan masalah (troubleshooting) juga moderat (3,07).
Yang paling rendah dan paling kritis adalah pemahaman mendalam staf tentang implikasi etika yang terkait dengan teknologi AI (3,06). Mengingat perpustakaan adalah institusi publik yang terkait erat dengan isu-isu hak cipta, privasi data, dan akses informasi yang adil, pemahaman yang lemah tentang etika AI adalah celah yang perlu diperbaiki.
Maka, dimensi Pelatihan menjadi vital. Budaya belajar berkelanjutan di perpustakaan Malaysia berada di atas rata-rata, tetapi harus diubah menjadi inisiatif yang lebih terfokus dan konsisten. Program pelatihan harus ditargetkan secara spesifik untuk membangun kompetensi teknis dan, yang terpenting, menanamkan prinsip-prinsip etika AI. Ini juga harus mencakup strategi untuk mengatasi kecemasan karyawan tentang AI dan kekhawatiran hilangnya pekerjaan.
Dua Batu Sandungan Utama: Pendanaan dan Regulasi
Meskipun kesiapan umum bersifat moderat, dua dimensi menonjol sebagai area tantangan terbesar dan paling membutuhkan perhatian segera, yaitu:
4. Pendanaan: Tantangan Keberlanjutan Finansial Institusi Nirlaba
Sebagian besar perpustakaan beroperasi sebagai entitas nirlaba, dan pengamanan dukungan finansial adalah hambatan signifikan. Ketersediaan sumber daya keuangan yang didedikasikan untuk mengembangkan, menerapkan, dan memelihara solusi AI secara langsung mempengaruhi kapasitas institusi untuk beralih ke operasi berbasis AI.
Temuan menunjukkan adanya beberapa provisi finansial, tetapi terdapat variabilitas yang signifikan dalam pengeluaran dan, khususnya, dana kontingensi. Beberapa perpustakaan memiliki anggaran khusus dan penilaian keuangan rutin, sementara yang lain menghadapi kekurangan sumber daya yang parah, menciptakan tantangan dalam mempertahankan inisiatif AI jangka panjang.
Pendanaan yang terbatas tetap menjadi kendala utama, meskipun AI menawarkan potensi transformatif. Untuk mencapai keberhasilan AI jangka panjang, diperlukan peningkatan perencanaan keuangan dan persetujuan anggaran yang signifikan, termasuk dana kontingensi untuk pemeliharaan, pembaruan, dan peningkatan sistem. Investasi strategis ini akan memungkinkan perpustakaan untuk tetap relevan secara teknologi dan memenuhi harapan pengguna di dunia digital.
5. Kebijakan dan Regulasi: Kebutuhan Kerangka Etika yang Kuat
Kesiapan dari sudut pandang kebijakan dan regulasi memerlukan peninjauan struktur organisasi, kerangka hukum, dan prinsip etika yang memandu penerapan AI. Di Malaysia, kebijakan dan regulasi AI menunjukkan penetapan yang moderat, tetapi menyisakan ruang untuk perbaikan. Ada kebijakan yang berlaku, namun inkonsistensi dalam implementasi menunjukkan prioritas yang berbeda-beda di antara perpustakaan.
Ketiadaan langkah-langkah regulasi yang kuat dapat membuat potensi bahaya AI—seperti pelanggaran privasi, bias algoritmik, dan penggunaan yang tidak etis—membayangi manfaat yang dimaksudkan. Bagi perpustakaan, ini berarti merumuskan kebijakan yang jelas tentang cara AI harus diintegrasikan ke dalam operasi sehari-hari, memastikan penggunaannya mencerminkan nilai-nilai institusional dan melayani kepentingan publik.
Penguatan dan klarifikasi kebijakan sangat penting untuk memastikan tidak ada celah, terutama dalam lingkup aplikasi AI dan keamanan data. Harus ada protokol yang jelas untuk menangani kekhawatiran publik tentang AI guna meningkatkan transparansi dan kredibilitas. Harmonisasi kebijakan internal dengan standar global dan praktik terbaik juga dianjurkan untuk mempromosikan perilaku etis dan efektivitas operasional. Ini adalah prasyarat mutlak dalam penggunaan AI secara bertanggung jawab, yang meningkatkan kepercayaan pengguna dan menjamin kepatuhan terhadap pedoman.
Penerapan AI menjanjikan revolusi dalam layanan perpustakaan. Fungsi-fungsi rutin, seperti pengindeksan, katalogisasi, dan administrasi, dapat diotomatisasi, membebaskan pustakawan untuk beralih fokus pada peran yang lebih bernilai tinggi: memberikan bantuan penelitian khusus dan layanan yang disesuaikan (personalisasi) kepada pengguna. Lebih jauh lagi, AI dapat digunakan untuk analitik data tingkat lanjut, mengoptimalkan alokasi sumber daya, meningkatkan akurasi katalogisasi, dan menciptakan antarmuka pengguna yang lebih interaktif, mengubah perpustakaan menjadi sistem yang tangkas dan berpusat pada pengguna (user-centered systems). Perpustakaan modern semakin muncul sebagai lingkungan yang kaya data (data-rich environment) di mana AI dimanfaatkan untuk memfasilitasi penelitian dengan memanfaatkan Big Data.
Jalan ke Depan: Kerangka Strategis untuk Perpustakaan Indonesia
Hasil riset tentang kesiapan AI di perpustakaan Malaysia, sebenarnya menyajikan cermin jujur bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Gambarnya relatif seragam: kesiapan adopsi AI berada di tingkat sedang, dengan infrastruktur dan dukungan manajemen yang lumayan, tetapi tertatih-tatih dalam hal pendanaan, kebijakan, dan kompetensi sumber daya manusia. Ini bukan kabar baik, sekaligus bukan kabar buruk. Ia adalah alarm yang berbunyi tepat waktu.
Kerangka enam dimensi dalam penelitian ini mulai dari infrastruktur, keterampilan teknis, dukungan manajemen, kebijakan dan regulasi, pendanaan, serta pelatihan, diadopsi sebagai roadmap strategis untuk menilai dan meningkatkan kesiapan AI di seluruh jaringan perpustakaan nasional Indonesia.
Para pengambil kebijakan dan administrator perpustakaan di Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar dari kesenjangan yang teridentifikasi:
- Prioritas Pendanaan Strategis: Alokasi anggaran harus secara eksplisit mencakup investasi dalam infrastruktur data yang dibutuhkan AI (seperti penyimpanan cloud atau server berdaya tinggi) dan pengembangan sistem AI itu sendiri.
- Urgensi Kebijakan Etika dan Hukum: Harus segera dibentuk kebijakan internal yang ketat mengenai privasi data pengguna, transparansi algoritma, dan mitigasi bias. Kesiapan AI adalah juga kesiapan etika.
- Pengembangan Kapasitas yang Tepat Sasaran: Program pelatihan harus dirancang untuk menutup kesenjangan antara kemauan staf dan keterampilan teknis. Ini harus mencakup pelatihan intensif mengenai etika AI.
Laporan dari Malaysia ini berfungsi sebagai peta diagnosis yang jelas. Sekarang, yang diperlukan adalah tindakan kolektif dan strategis dari semua pemangku kepentingan, dari kementerian hingga kepala perpustakaan, untuk memastikan bahwa institusi pengetahuan kita tidak hanya mengikuti revolusi digital, tetapi memimpinnya. Kegagalan untuk mengatasi kesenjangan kritis, terutama dalam hal pendanaan dan kerangka kebijakan, akan membuat perpustakaan berisiko stagnasi, dan akan membatasi peran transformatif mereka dalam mencapai cita-cita digital nasional.
Pada akhirnya, kesiapan AI di perpustakaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses berkelanjutan menuju reinvensi diri. Perpustakaan Malaysia telah menunjukkan niat dan fondasi awal. Tantangan keuangan dan kebijakan adalah halangan nyata, tetapi bukan penghalang yang tak teratasi. Momentum transformasi digital nasional harus dimanfaatkan untuk menempatkan perpustakaan sebagai pusat literasi digital dan inovasi berbasis AI yang inklusif.
Masa depan perpustakaan bukanlah tentang menggantikan peran manusia dengan mesin, tetapi tentang memperkuat peran pustakawan sebagai kurator pengetahuan, pemandu literasi digital, dan penjaga etika informasi di dunia yang semakin digerakkan oleh data. Dengan mengatasi kesenjangan dalam pendanaan, kebijakan, dan kompetensi, perpustakaan Malaysia tidak hanya akan siap menghadapi AI, tetapi juga dapat memimpin pemanfaatannya untuk kebaikan publik yang lebih luas.
Penulis: Mohamad Noorman Masrek, Mohamad Rahimi Mohamad Rosman, Shamila Mohamed Shuhidan, Mohammad Fazli Baharuddin, Fitri Mutia, Tri Soesantari, Helmy Prasetyo Yuwinanto dan Ragil Tri Atmi
Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/artificial-intelligence-readiness-in-malaysian-libraries-an-asses/





