Setiap tahun, masih banyak bayi baru lahir yang meninggal, terutama pada bulan pertama kehidupan. Salah satu penyebab utamanya adalah gangguan pernapasan atau sesak napas. Masalah ini sering terjadi di daerah terpencil atau fasilitas kesehatan dengan keterbatasan alat dan tenaga medis. Penelitian ini menceritakan pengalaman tenaga kesehatan dalam menggunakan alat bantu napas sederhana, murah, dan efektif untuk menolong bayi yang mengalami sesak napas sebelum dirujuk ke rumah sakit umum daerah atau rumah sakit yang lebih lengkap . Kasus yang dibahas adalah seorang bayi laki-laki berusia 1 jam yang mengalami napas sangat cepat, tampak sesak, mengeluarkan suara mengerang saat bernapas, serta tangan dan kakinya tampak kebiruan. Bayi tersebut dibawa ke Puskesmas Lawahing di daerah Alor, Nusa Tenggara Timur. Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, diketahui bayi mengalami gangguan pernapasan tingkat sedang.
Puskesmas Lawahing tidak tersedia alat bantu napas modern yang mahal seperti ventilator. Oleh karena itu, tenaga kesehatan menggunakan bubble CPAP modifikasi berbiaya rendah, yaitu alat bantu napas yang dirakit dari selang oksigen bayi dan botol berisi air. Alat ini bekerja dengan cara memberikan tekanan udara secara terus-menerus ke saluran napas bayi, sehingga paru-paru tetap terbuka dan oksigen dapat masuk dengan lebih baik. Hasilnya sangat menggembirakan. Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, kondisi bayi menunjukkan perbaikan yang jelas antara lain napas bayi menjadi lebih lambat dan teratur, kadar oksigen dalam darah meningkat, warna kebiruan pada tangan dan kaki berkurang dan tanda-tanda sesak napas menurun. Setelah kondisinya stabil, bayi kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Keunggulan alat bantu napas ini adalah biayanya sangat murah (kurang dari 1 dolar AS), mudah dibuat, tidak memerlukan listrik yang rumit, dan bisa digunakan di puskesmas atau bahkan saat perjalanan rujukan dengan tabung oksigen. Alat ini sangat bermanfaat bagi daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Namun, artikel ini juga menekankan bahwa alat tersebut harus digunakan oleh tenaga kesehatan terlatih, karena tetap ada risiko jika tidak dipantau dengan baik, seperti iritasi hidung atau gangguan lainnya. Oleh sebab itu, bayi yang menggunakan alat ini harus terus diawasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bubble CPAP modifikasi berbiaya rendah dapat menjadi solusi sementara yang efektif untuk menyelamatkan nyawa bayi baru lahir yang sesak napas, terutama di daerah terpencil. Penulis menganjurkan agar metode ini diteliti lebih lanjut dan dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari rekomendasi nasional di Indonesia, sehingga semakin banyak bayi yang dapat tertolong.
Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)
Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/low-cost-modified-bubble-continuous-positive-airway-pressure-for-/





