BEM UNAIR Bekali Pelajar SMA Solusi Tepat Tangani Bullying

40 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Kementerian Kesehatan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) menggelar Equaloka Minds Vol. 2 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) C Kampus MERR-C UNAIR pada Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini membekali puluhan pelajar SMA taktik merespon perundungan (bullying) sekaligus memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Ketua Pelaksana Equaloka Minds 2026, Chindy Andini Putri menegaskan bahwa remaja sangat rentan mengalami krisis emosional. Oleh karena itu, panitia berupaya memutus rantai kekerasan ini dengan menciptakan ruang aman untuk menyelaraskan pikiran.

“Tanpa lingkungan suportif, remaja yang dinilai berbeda rentan menjadi korban. Sementara mereka dengan kontrol emosi rendah berisiko menjadi pelaku,” jelas mahasiswa Keperawatan UNAIR tersebut.

Dosen Fakultas Psikologi UNAIR, Ika Yuniar Cahyanti MPsi Psikolog mengungkap kesalahan fatal pihak sekolah yang kerap memaksakan mediasi terburu-buru. Ia menegaskan bahwa pemaksaan untuk saling bersalaman pasca-kejadian justru akan memperparah trauma psikologis pada sisi korban. “Pendidik wajib memisahkan korban dan pelaku, serta memberikan sanksi edukatif melalui asesmen psikologis yang terpisah,” ucapnya.

Panitia dan pelajar SMA membubuhkan tanda tangan komitmen anti-perundungan pada sesi Sign for Kindness di Gedung Kuliah Bersama (GKB) C Kampus MERR-C UNAIR, Sabtu (10/10/2026) (Foto: Tim Media Equaloka Minds Vol. 2)

Lebih lanjut, Ika mengimbau pendidik dan orang tua agar jeli mendeteksi dini perubahan perilaku siswa yang menjadi korban. Keengganan bersekolah pada pagi hari, sikap menyendiri, hingga barang pribadi yang sering rusak merupakan sinyal kuat adanya penindasan. “Selain kekerasan fisik, pihak sekolah juga harus menindak tegas perundungan relasional seperti pengucilan sosial dan cyberbullying,” imbuhnya.

Sebagai bentuk dukungan pemulihan emosional, panitia memfasilitasi ragam aktivitas ekspresif seperti pertunjukan teater, flashmob, workshop clay, hingga merangkai aksesori. Meremas tanah liat berfungsi sebagai medium pelepas amarah, sementara merangkai aksesori menyimbolkan proses merajut kembali penerimaan diri. Puncak acara ditutup dengan deklarasi komitmen anti-perundungan melalui sesi penandatanganan komunal bertajuk Sign for Kindness.

Pengalaman interaktif di lingkungan kampus ini terbukti memotivasi peserta untuk menempuh pendidikan di UNAIR dan menjadi agen perubahan (agent of change). Mereka didorong berani menolak kekerasan dan secara aktif merangkul teman sebaya yang menjadi korban di sekolah. Guna memastikan keberlanjutan program, BEM UNAIR siap memfasilitasi jejaring edukasi digital dan layanan konsultasi berkelanjutan.

Penulis: Nabila Afifah Abida

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top