Universitas Airlangga Official Website

BEM UNAIR Dorong Pemanfaatan Energi Surya di Desa Dilem, Mojokerto

Tim Jagawana Volume 5 saat memasang PJUTS di salah satu titik Desa Dilem. (Foto: Istimewa)
Tim Jagawana Volume 5 saat memasang PJUTS di salah satu titik Desa Dilem. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Penerangan jalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat untuk menunjang aktivitas pada malam hari. Namun, beberapa titik jalan yang minim penerangan membuat warga merasa kurang nyaman ketika harus bepergian setelah matahari terbenam. Melihat kondisi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan program Jagawana Volume 5 di Desa Dilem, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa (18/8/2026) hingga Kamis (27/8/2026).

Program bertajuk Penerapan Teknologi Energi Terbarukan dan Ekonomi Sirkular di Desa Dilem tersebut merupakan penerima pendanaan SDGs UNAIR Sustain Action dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR. Melalui program ini, BEM mengenalkan pemanfaatan energi matahari sekaligus menghadirkan fasilitas penerangan yang dapat masyarakat manfaatkan secara berkelanjutan.

Menteri Lingkungan Hidup BEM UNAIR, Zaskia Darojah, menjelaskan bahwa kebutuhan penerangan menjadi alasan utama tim memilih Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) sebagai salah satu program di Desa Dilem. Tim kemudian menentukan empat titik yang paling membutuhkan penerangan. Setiap unit PJUTS menggunakan panel surya yang bekerja secara mandiri (self-charging) dengan menyerap sinar matahari pada siang hari.

Program tersebut melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup BEM UNAIR bersama Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (HME) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR melalui program HME Mengabdi. Perangkat Desa Dilem dan masyarakat setempat turut mendukung proses pemasangan.

PJUTS memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi listrik. Panel surya mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, kemudian baterai menyimpan energi tersebut untuk digunakan pada malam hari. Sementara itu, solar charge controller mengatur proses pengisian dan penggunaan baterai sebelum lampu LED menggunakan energi tersebut untuk menerangi jalan.

“PJUTS memberikan penerangan di area jalan desa yang sebelumnya gelap sehingga dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan serta memudahkan mobilitas warga pada malam hari. Selain itu, pemanfaatan energi surya secara mandiri juga dapat menghemat energi dan biaya karena tidak bergantung pada pasokan listrik PLN,” jelasnya.

Tim Jagawana Volume 5 saat memberikan edukasi kepada warga mengenai pemeliharaan PJUTS. (Foto: Istimewa)

Selain memasang fasilitas, tim HME memberikan edukasi kepada warga, terutama perangkat desa, mengenai pemeliharaan PJUTS. Tim mengajak warga menjaga kebersihan panel surya dari debu, kotoran, dan dedaunan agar penyerapan cahaya matahari tetap optimal.

Tim juga menjelaskan bahwa perawatan yang baik dapat memperpanjang masa penggunaan PJUTS hingga enam hingga tujuh tahun. Jika terjadi kendala teknis, warga dapat mengganti komponen tertentu seperti modul LED, baterai, maupun kabel pendukung secara parsial.

Kepala Desa Dilem, Heru, menyambut baik kolaborasi tersebut. “Kami sangat menyambut baik inisiatif kolaboratif ini. Harapan kami tentu ada monitoring secara berkala agar manfaat PJUTS benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh warga desa secara berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui pemanfaatan PJUTS, Jagawana Volume 5 turut mendukung SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pemanfaatan energi terbarukan dan penciptaan lingkungan desa yang lebih aman serta nyaman.

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Khefti Al Mawalia