UNAIR NEWS – Limbah rumah tangga seringkali berakhir begitu saja setelah masyarakat menggunakannya. Padahal, sejumlah barang bekas masih memiliki nilai guna jika masyarakat mengolahnya kembali. Berangkat dari potensi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan konsep ekonomi sirkular melalui program Jagawana Volume 5 di Desa Dilem, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa (18/8/2026) hingga Kamis (26/8/2026).
Program bertajuk Penerapan Teknologi Energi Terbarukan dan Ekonomi Sirkular di Desa Dilem tersebut merupakan penerima pendanaan SDGs UNAIR Sustain Action dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR.
Mengolah Limbah Menjadi Produk Bernilai
“Konsep ekonomi sirkular hadir untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi Desa Dilem, terutama komoditas kopi. Melalui praktik langsung, masyarakat melihat potensi barang yang sebelumnya tidak berguna untuk menghasilkan produk baru yang bernilai,” jelas Menteri Lingkungan Hidup BEM UNAIR, Zaskia Darojah.
Salah satunya melalui mata acara Lentera Asa, kegiatan yang mengajak masyarakat mengolah minyak jelantah menjadi lilin. Masyarakat terlebih dahulu menyaring minyak bekas, kemudian mencampurnya dengan bahan pemadat dan aroma terapi sebelum mencetaknya menjadi lilin yang dapat digunakan maupun dijual kembali.
Sementara itu, Eco-Craft Studio mengenalkan konsep ekonomi sirkular kepada siswa SDN Dilem melalui praktik membuat gantungan kunci dari tutup botol bekas. Kegiatan tersebut mengajak anak-anak mengenali potensi barang bekas melalui aktivitas kreatif.
Zaskia menegaskan bahwa BEM UNAIR tidak hanya mengolah limbah, tetapi juga mengembangkan potensi komoditas lokal. Melalui Ruang Seduh, tim mengenalkan teknik penyeduhan, pengolahan biji kopi, strategi pemasaran, hingga pemanfaatan sisa olahan kopi untuk meningkatkan nilai tambah bagi UMKM setempat.

Membangun Kebiasaan yang Berkelanjutan
Berbagai kegiatan tersebut turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah. Melalui pengalaman langsung, masyarakat dapat melihat bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang kotor dan tidak berguna. Sebaliknya, barang bekas dapat menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
“Setelah Jagawana Volume 5 berakhir, panitia berharap keterampilan tersebut terus berkembang di tengah masyarakat. Warga, karang taruna, maupun penggerak UMKM dapat melanjutkan praktik memilah dan memanfaatkan kembali limbah secara mandiri sehingga tercipta lingkungan yang lebih ramah sekaligus ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan,” jelas Zaskia.
Melalui program tersebut, Jagawana Volume 5 turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi ekonomi sirkular, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan potensi ekonomi lokal, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kembali limbah.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Khefti Al Mawalia





