Kanker Kolorektal (CRC) menjadi salah satu jenis kanker yang terus mengalami peningkatan secara global, terutama di negara-negara berkembang yang mulai menerapkan gaya hidup “Barat”. Deteksi dini kanker kolorektal (CRC) sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi, namun negara berkembang seperti Indonesia masih menghadapi kendala berupa keterbatasan fasilitas endoskopi, kurangnya tenaga ahli, dan tingginya biaya pemeriksaan. Meskipun banyak biomarker CRC telah tersedia dan digunakan di negara maju, penerapannya masih sangat terbatas di negara berkembang. Oleh karena itu, perlu adanya identifikasi biomarker non-invasif berbasis darah yang lebih sederhana, terjangkau, dan mudah penerapannya untuk mendukung deteksi dini CRC di negara berkembang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Oita University, Jepang bekerjasama dengan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga melakukan analisis terkait biomarker yang tepat untuk Negara Berkembang.
Carcinoembryonic antigen (CEA)
CEA berperan dalam penggumpalan sel kanker kolorektal (CRC) sebagai molekul adhesi antar sel. Pada diagnosis CRC, kadar CEA tinggi ditemukan pada sekitar 70% kasus. Sebuah studi melaporkan bahwa CEA memiliki spesifisitas tinggi sebesar 88%, tetapi sensitivitas rendah sebesar 62% dalam mendeteksi CRC.
CA 19-9
CA 19-9 adalah molekul besar yang keberadaannya dapat terukur dalam aliran darah. Peningkatan CA 19-9 ditemukan pada 35–40% pasien kanker kolorektal stadium lanjut. CA 19-9 memiliki sensitivitas diagnostik 34% dan spesifisitas 55% untuk identifikasi CRC. Penggunaan kombinasi CEA dan CA 19-9 dapat meningkatkan sensitivitas diagnostik dalam mendeteksi CRC.
TPS
TPS adalah fragmen terlarut dari rantai polipeptida yang dihasilkan selama proses pembelahan mitosis, yang dapat digunakan sebagai alat diagnosis dan pemantauan kemoterapi pada beberapa jenis tumor seperti tumor kolorektal, pankreas, bronkial, dan ovarium. Sekitar 75% pasien kanker kolorektal memiliki kadar TPS yang tinggi.
TAG-72
TAG-72 telah teridentifikasi sebagai penanda serum untuk CRC dengan sensitivitas diagnostik yang rendah, yaitu antara 28%–67%. Sehingga penggunaan TAG-72 sebagai pemeriksaan skrining tunggal tidak diterapkan dalam praktik klinis. TAG-72 direkomendasikan untuk digunakan bersama marker lain (misalnya CEA atau CA 19-9) untuk meningkatkan deteksi. TAG-72 juga dianggap sebagai faktor prognostik dan berpotensi menjadi target terapi.
ctDNA
Perkembangan ctDNA sebagai biopsi cair berbasis darah telah meningkat pesat karena potensinya untuk diagnostik CRC, pemantauan respons terapi, dan penilaian prognosis. Penanda metilasi ctDNA menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk skrining CRC. Meskipun kadar ctDNA dapat meningkat pada beberapa kondisi non-kanker, penggunaannya dalam pemantauan pascaoperasi terbukti lebih unggul daripada metode tradisional dan mendukung konsep pengobatan presisi.
IGFBP-2
Kadar IGFBP-2 yang tinggi dapat membantu mengidentifikasi individu dengan risiko CRC lebih tinggi. Namun, sensitivitas dan spesifisitasnya untuk deteksi dini masih terbatas. Sehingga penggunaannya lebih tepat bila terkombinasi dengan biomarker lain.
CTC
Jumlah CTC dalam darah terbukti memiliki nilai prognostik kuat, kadar CTC rendah terkait dengan survival yang lebih baik. Sementara kadar tinggi menunjukkan progresi penyakit lebih agresif. CTC memberikan keunggulan klinis sebagai alat untuk memantau respons terapi, mengevaluasi sifat agresivitas penyakit, dan membantu menentukan terapi yang ditargetkan melalui karakterisasi molekuler.
Hematopoietic Growth Factor (HGF)
Faktor pertumbuhan hematopoietik (HGF/CSF) berperan besar dalam perkembangan dan penyebaran kanker kolorektal melalui stimulasi pertumbuhan sel kanker dan jaringan pendukungnya. Di antara berbagai penanda, M-CSF terbukti paling sensitif karena kadarnya meningkat seiring dengan progresi penyakit dan sangat terkait dengan metastasis kelenjar getah bening maupun metastasis jauh. Oleh sebab itu, M-CSF berpotensi menjadi biomarker yang lebih andal daripada G-CSF untuk diagnosis, penentuan stadium, dan prediksi progresi kanker kolorektal.
Berdasarkan analisis diatas, kombinasi TPS dan hematopoietic growth factor berpotensi menjadi metode deteksi dini CRC yang paling sesuai untuk negara berkembang karena keduanya dapat memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik ketika digunakan bersama. Tetapi, perlu studi prospektif berskala besar untuk mengevaluasi performa biomarker ini secara lebih mendalam.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada:





