Universitas Airlangga Official Website

Buah Tangan dari Summer Institute, Dosen FIB UNAIR Bawa Pulang Sinergi Internasional 

Dosen FIB UNAIR, Rizal Agung Kurnia SHum MPhil saat beraktivitas di Linguistics University of Nizhny Novgorod (LUNN) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Menjadi delegasi Indonesia dalam proyek internasional Summer Institute di Rusia meninggalkan kesan membanggakan bagi Rizal Agung Kurnia SHum MPhil, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). Kegiatan yang dibuka secara resmi di paviliun ATOM, VDNH, Moskow ini berlangsung selama 14 hari sejak Minggu (19/7/2026) hingga Minggu (2/8/2026). 

Sebagai inisiatif dari Kementerian Sains dan Pendidikan Tinggi Federasi Rusia, serta Lembaga Anggaran Negara Federal “Sociocenter”, proyek Summer Institute mempertemukan 125 akademisi untuk belajar di lima universitas terkemuka Rusia. Selama dua pekan, Rizal menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran dalam forum lintas negara hingga mempelajari budaya dari berbagai delegasi global.

“Selama 14 hari berada di Rusia tentu banyak hal positif yang dapat saya ambil. Misalnya, saat pembukaan saya dapat langsung melihat bagaimana sejarah perkembangan nuklir Rusia melalui Museum Atom Rosatom,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Rizal mendapatkan pengalaman menarik sekaligus sudut pandang baru tentang Rusia. Ia berhasil mematahkan anggapan bahwa nuklir negara tersebut hanya digunakan untuk perang, setelah mengetahui pemanfaatannya dalam kepentingan keberlanjutan. Seperti ususan kesehatan, transportasi hingga energi terbarukan. 

“Dulu kita menganggap bahwa nuklir Rusia hanya untuk perang. Namun, nuklir Rusia banyak dimanfaatkan untuk kepentingan damai, dari urusan kesehatan, transportasi, hingga energi terbarukan,” ujarnya.

Mempelajari etika berbahasa dalam forum akademik hingga berkesempatan untuk mengamati proses dan produk pembelajaran di Universitas Knyaginino menjadi pengalaman menarik. Di kampus tersebut, ia mendapat keistimewaan untuk mencoba mengendarai traktor yang biasa dipakai oleh para petani Rusia. Tak hanya itu, ia juga berkunjung ke Bolshoye Boldino yang merupakan tempat bersejarah bagi kesusastraan Rusia. 

Agenda berlanjut ke Kota Saranks, ibukota Republik Mordovia, di sini ia belajar seputar hal menarik Bangsa Mordovian, salah satu etnis yang hidup di Rusia. Sementara itu, saat berada di Kota Kazan Republik Tatarstan ia dan peserta Summer institute disuguhkan dengan wawasan Bangsa Tatar sekaligus gambaran bahwa Rusia memiliki keanekaragaman etnis.

“Saya pribadi menjadi sadar, bahwa Rusia mirip dengan Indonesia yang memiliki beragam etnis,” imbuhnya. 

Pada sesi kolaborasi merancang artikel bersama peneliti dari 14 negara, Rizal membuahkan sinergi pada rumpun ilmu bahasa dan sastra. Ia menggandeng kolega dari India, Uzbekistan, Vietnam, dan Rusia untuk merancang proyek yang bertajuk Образовательный международный мост без границ atau Jembatan Internasional Pendidikan tanpa Batas.

Mulanya, proyek tersebut hanya berorientasi pada kegiatan bersama yang melibatkan mahasiswa. Namun, ia menilai bahwa keterlibatan dosen dalam proyek akan menghadirkan dampak lebih besar. 

“Sehingga, kami sepakat untuk menambahkan program yang berkaitan dengan dosen ke dalam proyek. Seperti kuliah tamu dosen antar universitas, joint research, bank materi dan data bersama, dan lain sebagainya,” tuturnya. 

Sedangkan, proyek riset bersama berencana terealisasi bersama para ahli linguistik komputasi dari Linguistic University of Nizhny Novgorod (LUNN). Kolaborasi ini juga menyasar para peneliti Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) UNAIR yang berminat pada kajian Onomastika dan Etnolinguistik. 

“Meskipun, kegiatan-kegiatan ini masih terbatas pada kegiatan daring. Namun, kami tidak menutup kemungkinan adanya kegiatan luring bersama antara UNAIR dan kampus-kampus peserta proyek ini pada masa yang akan datang,” pungkasnya

Penulis: Amelia Farah Putri I. 

Editor: Yulia Rohmawati