Universitas Airlangga Official Website

Bukan Hanya Estrogen: Mengapa Respons Obat Jantung Bisa Berbeda pada Perempuan dan Laki-Laki?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Selama ini, perbedaan risiko penyakit jantung antara perempuan dan laki-laki sering dikaitkan dengan hormon, terutama estrogen. Padahal, kajian ilmiah menunjukkan bahwa perbedaannya jauh lebih kompleks. Faktor seperti trombosit, genetik, proses peradangan, metabolisme obat, usia, pola makan, hingga respons tubuh terhadap terapi antiplatelet juga ikut berperan.

Trombosit atau keping darah adalah komponen darah yang membantu menghentikan perdarahan. Namun, bila terlalu aktif, trombosit dapat membentuk bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah. Kondisi ini dapat memicu serangan jantung, stroke, emboli paru, atau komplikasi trombosis lainnya.

Menariknya, karakteristik trombosit pada perempuan dan laki-laki tidak sepenuhnya sama. Perempuan cenderung memiliki jumlah trombosit lebih tinggi dan reaktivitas trombosit yang lebih besar. Dengan kata lain, dalam kondisi tertentu, trombosit pada perempuan dapat lebih mudah aktif. Hal ini dapat memengaruhi risiko terbentuknya bekuan darah sekaligus respons terhadap obat antiplatelet, yang oleh masyarakat sering disebut sebagai obat pengencer darah.

Perempuan dengan penyakit jantung juga sering mengalami gejala yang tidak khas. Keluhan seperti mudah lelah, mual, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di dada kadang tidak langsung dikenali sebagai tanda gangguan jantung. Akibatnya, diagnosis dan penanganan dapat terlambat. Selain itu, faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan merokok dapat memberikan dampak kardiovaskular yang lebih besar pada perempuan.

Selama ini, perbedaan tersebut sering dianggap hanya berkaitan dengan estrogen. Estrogen memang berpengaruh terhadap fungsi pembuluh darah dan trombosit. Namun, kajian ini menegaskan bahwa faktor nonhormonal juga sangat penting. Perbedaan ekspresi gen dan protein dalam trombosit, jalur peradangan, variasi genetik, pola makan, serta proses penuaan dapat memengaruhi seberapa aktif trombosit bekerja dan bagaimana tubuh merespons terapi.

Perbedaan tersebut juga berdampak pada respons terhadap obat antiplatelet, seperti aspirin, clopidogrel, ticagrelor, prasugrel, dan obat sejenis lainnya. Pada sebagian perempuan, trombosit dapat tetap cukup aktif meskipun sudah mendapat obat antiplatelet. Di sisi lain, perempuan juga dapat memiliki risiko perdarahan yang lebih tinggi pada terapi tertentu. Karena itu, pemilihan jenis obat, dosis, dan lama terapi perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.

Kajian ini juga menyoroti masalah penting dalam penelitian kardiovaskular, yaitu masih kurangnya keterwakilan perempuan dalam berbagai uji klinis. Akibatnya, sebagian rekomendasi terapi masih banyak bertumpu pada data yang didominasi laki-laki. Padahal, pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki dapat membantu dokter memberikan pengobatan yang lebih tepat, aman, dan sesuai kebutuhan pasien.

Ke depan, pendekatan kedokteran presisi menjadi semakin penting. Dengan memanfaatkan ilmu genomik, transkriptomik, proteomik, dan sistem biologi, para peneliti dapat memahami mekanisme penyakit secara lebih mendalam. Harapannya, terapi penyakit jantung tidak lagi menggunakan pendekatan “satu terapi untuk semua”, tetapi semakin disesuaikan dengan karakter biologis dan risiko setiap pasien.

Memahami perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki bukan sekadar isu akademik. Hal ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan mutu layanan, mencegah komplikasi, serta mewujudkan pengobatan kardiovaskular yang lebih aman, adil, dan personal.

Oleh:
Hendri Susilo

Dosen Fakultas Kedokteran UNAIR – Rumah Sakit UNAIR

Sumber artikel asli:
Salma ZN, Susilo H, Wungu CDK, Tandecxi G, Nugrahani ASD. Beyond solely estrogen: Sex-based differences in platelet biology and antithrombotic response. Heart Science Journal. 2026;7(2):36–42. https://doi.org/10.21776/ub.hsj.2026.007.02.6