Gangguan aliran darah ke otak merupakan salah satu persoalan penting dalam penyakit serebrovaskular karena dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke iskemik dan gangguan neurologis menetap. Pada beberapa pasien, penyempitan atau sumbatan pembuluh darah otak menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan suplai darah yang memadai. Kondisi ini dapat ditemukan pada penyakit moyamoya maupun penyakit steno-oklusif non-moyamoya. Moyamoya sendiri ditandai oleh penyempitan progresif pada pembuluh darah utama di dasar otak yang disertai pembentukan jaringan pembuluh darah kolateral yang rapuh. Sementara itu, penyakit steno-oklusif non-moyamoya dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, terutama penyakit aterosklerosis intrakranial.
Salah satu pendekatan untuk mengatasi kekurangan aliran darah tersebut adalah operasi revaskularisasi, khususnya bypass superficial temporal artery-middle cerebral artery atau STA-MCA. Melalui prosedur ini, pembuluh darah dari luar tengkorak dihubungkan secara langsung dengan cabang pembuluh darah di permukaan otak. Tujuannya adalah menyediakan jalur tambahan bagi darah agar dapat mencapai jaringan otak yang sebelumnya mengalami hipoperfusi. Keberhasilan operasi ini tidak hanya dinilai dari terbukanya pembuluh bypass, tetapi juga dari perubahan kondisi neurologis pasien dan perbaikan perfusi jaringan otak.
Penilaian perfusi otak dapat dilakukan menggunakan computed tomography perfusion atau CT perfusi. Pemeriksaan ini membantu memperkirakan aliran darah otak, volume darah, waktu transit darah, tingkat hipoperfusi, volume infark, hingga jaringan penumbra yang masih berpotensi diselamatkan. CT perfusi juga dapat digunakan untuk memantau kondisi pasien setelah revaskularisasi. Hal ini penting karena perubahan aliran darah setelah operasi perlu dikendalikan secara hati-hati untuk menghindari komplikasi, termasuk hipoperfusi maupun hiperperfusi.
Di Indonesia, kebutuhan akan tata laksana penyakit serebrovaskular cukup besar karena beban stroke masih tinggi. Namun, layanan neurovaskular tingkat lanjut masih terkonsentrasi pada sejumlah pusat kesehatan tertentu. Data yang secara langsung membandingkan hasil operasi bypass pada pasien moyamoya dengan penyakit steno-oklusif non-moyamoya, terutama dengan menggunakan evaluasi CT perfusi, juga masih terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan bukti lokal mengenai hasil klinis dan perubahan perfusi setelah operasi menjadi penting untuk dikembangkan.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah studi kohort retrospektif dilakukan oleh Kusdiansah dkk. (2026) dari Universitas Airlangga bersama sejumlah institusi kolaborator. Penelitian yang telah diterbitkan dalam Journal of Clinical Neuroscience (Elsevier) ini bertujuan membandingkan hasil klinis awal dan profil CT perfusi setelah operasi bypass STA-MCA langsung pada pasien moyamoya dan pasien dengan penyakit steno-oklusif non-moyamoya di Indonesia.
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. Mahar Mardjono, Indonesia. Data diambil dari pasien yang menjalani bypass STA-MCA antara tahun 2021 hingga 2025. Sebanyak 68 pasien masuk dalam analisis klinis dan operatif, terdiri atas 40 pasien moyamoya dan 28 pasien non-moyamoya. Dari kelompok non-moyamoya, hampir seluruhnya memiliki penyakit aterosklerotik intrakranial. Sementara itu, data CT perfusi berpasangan sebelum dan sesudah operasi tersedia pada 41 pasien, yaitu 29 pasien moyamoya dan 12 pasien non-moyamoya.
Para peneliti mengevaluasi karakteristik pasien, parameter operasi, komplikasi awal setelah pembedahan, patensi bypass, kondisi fungsional menggunakan modified Rankin Scale atau mRS, serta sejumlah parameter CT perfusi. Analisis statistik disesuaikan dengan jenis dan distribusi data, menggunakan uji t, Mann-Whitney, chi-square atau Fisher, serta paired-samples t-test untuk membandingkan skor mRS sebelum dan sesudah operasi. Analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 31 dengan nilai p kurang dari 0,05 sebagai batas signifikansi statistik. Karena penelitian bersifat retrospektif dan jumlah kejadian komplikasi relatif sedikit, hasil komplikasi ditafsirkan secara deskriptif.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa fungsi pasien membaik secara bermakna setelah bypass pada kedua kelompok. Pada pasien moyamoya, rata-rata skor mRS menurun dari 2,08 menjadi 1,38, sedangkan pada kelompok non-moyamoya menurun dari 2,82 menjadi 1,86. Patensi bypass tercatat pada 90% pasien moyamoya dan 100% pasien non-moyamoya. Tidak ditemukan kematian perioperatif pada kedua kelompok.
Komplikasi pascaoperasi relatif jarang. Kejang terjadi pada 15% pasien moyamoya dan 7% pasien non-moyamoya. Stroke iskemik pascaoperasi ditemukan pada tiga pasien non-moyamoya atau sekitar 11%, tetapi perbedaan antara kedua kelompok tidak mencapai signifikansi statistik. Dari sisi CT perfusi, terdapat beberapa perbedaan sebelum operasi, antara lain nilai Tmax yang lebih tinggi pada kelompok non-moyamoya dan volume infark yang lebih besar pada kelompok moyamoya. Namun, pada pemeriksaan tindak lanjut, tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam berbagai parameter CT perfusi antara kedua kelompok.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa bypass STA-MCA langsung di pusat neurovaskular Indonesia diikuti oleh perbaikan fungsi yang bermakna baik pada pasien moyamoya maupun non-moyamoya. Meskipun karakteristik awal kedua kelompok berbeda, profil CT perfusi saat tindak lanjut relatif sebanding. Temuan ini mendukung kelayakan revaskularisasi langsung pada pasien yang dipilih secara tepat, tetapi juga menegaskan perlunya penelitian multicenter dengan jumlah pasien lebih besar, waktu evaluasi perfusi yang lebih terstandar, serta pemantauan jangka panjang untuk memastikan manfaat dan keamanan prosedur ini secara lebih kuat.
Penulis: Asra Al Fauzi
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0967586826003279
