Universitas Airlangga Official Website

C-Reactive Protein-To-Albumin Ratio: Biomarker Sederhana untuk Memprediksi Risiko Buruk pada Penyakit Arteri Perifer

Trimetazidine sebagai Harapan Baru dalam Pengobatan Penyakit Arteri Perifer
Ilustrasi penyakit arteri perifer (Foto: Halodoc)

Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah seperti nyeri saat berjalan, luka yang sulit sembuh, gangren, hingga berujung pada amputasi. Lebih jauh lagi, PAD juga meningkatkan risiko kematian apabila tidak ditangani dengan optimal. Dalam pengelolaan PAD, salah satu tantangan terbesar adalah menentukan metode yang efektif untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi mengalami komplikasi berat, terutama pada mereka yang menjalani terapi endovaskular (endovascular therapy atau EVT). Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh dr. Pandit Bagus Tri Saputra dan tim, yang dipublikasikan dalam jurnal Open Medicine, diperkenalkan penggunaan C-reactive protein-to-albumin ratio (CAR) sebagai biomarker sederhana namun potensial untuk memprediksi risiko kematian dan amputasi pada pasien PAD yang menjalani EVT.

CAR merupakan rasio antara dua parameter laboratorium yang sangat umum ditemukan dalam pemeriksaan rutin:  C-reactive protein (CRP) dan albumin. CRP merupakan indikator peradangan yang meningkat baik pada inflamasi akut maupun kronis, sementara albumin mencerminkan kondisi nutrisi dan keadaan sistemik tubuh, di mana penurunan albumin sering kali terkait dengan inflamasi kronis dan prognosis yang buruk. Kombinasi keduanya memberikan gambaran yang komprehensif mengenai keseimbangan antara peradangan sistemik dan status fisiologis tubuh. Pada pasien PAD—suatu kondisi yang sangat dipengaruhi oleh inflamasi kronis—CAR menjadi indikator sederhana namun kuat dalam menilai risiko komplikasi serius.

Melalui systematic review dan meta-analysis, penelitian ini menganalisis data dari 1.451 pasien yang berasal dari lima studi observasional, seluruhnya melibatkan pasien PAD yang menjalani terapi endovaskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan nilai CAR tinggi sebelum prosedur memiliki risiko 3,11 kali lebih tinggi untuk mengalami kematian, serta 3,62 kali lebih tinggi untuk mengalami amputasi dibandingkan pasien dengan nilai CAR rendah. Temuan ini menegaskan bahwa CAR bukan sekadar angka dalam laporan laboratorium, tetapi merupakan indikator prognostik yang kuat terkait kejadian buruk setelah prosedur.

Penelitian ini juga mengevaluasi kemampuan CAR dalam memprediksi kejadian buruk melalui analisis kurva ROC. Untuk prediksi kematian, CAR memiliki nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,75 dengan sensitivitas 77% dan spesifisitas 56%. Untuk prediksi amputasi, performa CAR bahkan lebih baik dengan AUC 0,85 serta sensitivitas 85% dan spesifisitas 52%. Selain itu, CAR memiliki nilai prediktif negatif yang tinggi, yaitu 90,5% untuk kematian dan 97,8% untuk amputasi. Artinya, pasien dengan nilai CAR rendah memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk mengalami komplikasi serius, sehingga CAR dapat menjadi alat yang handal untuk menyaring pasien yang relatif aman.

Salah satu nilai tambah utama CAR adalah kemudahannya dalam akses dan penerapannya di layanan klinis. CAR dapat dihitung dari pemeriksaan darah rutin yang sudah umum dilakukan pada pasien PAD, sehingga tidak membutuhkan biaya tambahan atau peralatan khusus. Kepraktisan ini menjadikan CAR biomarker yang sangat berguna, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya. Di sisi lain, kemampuannya dalam memprediksi risiko memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat, intervensi agresif, atau rencana tindak lanjut yang lebih intensif.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa CAR merupakan biomarker prognostik yang sederhana namun efektif dalam memprediksi risiko kematian dan amputasi pada pasien PAD yang menjalani EVT. Dengan biaya yang rendah, akses yang mudah, serta performa prediksi yang menjanjikan, CAR berpotensi menjadi bagian dari penilaian risiko standar dalam praktik klinis sehari-hari. Penerapannya secara luas dapat membantu dokter mengambil keputusan klinis yang lebih tepat, meningkatkan kualitas perawatan, serta mengurangi risiko komplikasi berat pada pasien dengan PAD.

Penulis: Pandit Bagus Tri Saputra, Dinda Dwi Purwati, Pratista Oktafia, Roy Bagus Kurniawan, Cornelia Ghea Savitri, Johanes Nugroho Eko Putranto, Chaq El Chaq Zamzam Multazam, Mario D’Oria, Firas Farisi Alkaff

DOI: 10.1515/med-2025-1280