Universitas Airlangga Official Website

Cacar Unta: Ancaman Tersembunyi bagi Peternakan Unta

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Cacar unta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus cacar unta (CMLV), anggota genus Orthopoxvirus (OPV) dari famili Poxviridae (Balamurugan dkk., 2013). Meskipun kasus pada manusia juga telah didokumentasikan, unta merupakan korban utama penyakit ini (Fashina, dkk., 2022). Penularan cacar unta secara enzootik terjadi di hampir setiap zona perkembangbiakan unta, kecuali Australia (Eckstein dkk., 2022). Pada tahun 1909, cacar unta pertama kali terdeteksi di India; namun, pada tahun 1972, galur baru virus cacar unta diperoleh dan diberi nama virus orthopox (AL-Eitan dkk., 2024). Pada tahun 1975, laporan infeksi eksperimental dan karakteristik CMLV tertentu dipublikasikan (Shchelkunova dan Shchelkunov, 2022). Cacar unta hanya menyerang peternakan unta, terutama di negara-negara terbelakang, dan berdampak negatif terhadap perekonomian karena menyebabkan kerugian besar dalam hal penurunan berat badan unta, penyakit, kematian, dan produksi susu (Balamurugan dkk., 2013).
Paling sering menyerang unta muda antara usia dua dan tiga tahun, wabah penyakit cacar unta pada kawanan sering dikaitkan dengan penyapihan atau nutrisi yang tidak memadai, dan dalam kasus ekstrem, dapat berakibat fatal (Zhu dkk., 2019). Terdapat tingkat morbiditas, mortalitas, dan tingkat fatalitas kasus (CFR) masing-masing sebesar 30–90%, 1–15%, dan 25%, yang terkait dengan penyakit ini (Prabhu dkk., 2015). Hewan yang pulih mengembangkan kekebalan seumur hidup terhadap infeksi ulang. Cacar unta menyebar melalui kontak langsung dengan hewan
yang sakit, baik melalui aerosol maupun abrasi kulit (Bulatov dkk., 2024). Air dapat menjadi sumber infeksi ketika virus tersebar ke lingkungan melalui koreng, air liur, dan sekresi unta yang sakit (Narnaware, dkk., 2021).
Infeksi lokal ringan hingga infeksi sistemik serius merupakan salah satu gejala klinisnya. Gejala penyakit ini meliputi lesi kulit, pembesaran kelenjar getah bening, dan demam (Arog dkk., 2024). Lesi kulit dimulai sebagai makula eritematosa, berkembang menjadi papula dan vesikel, dan akhirnya berubah menjadi pustula satu hingga tiga hari setelah demam dimulai (Alkharusi dkk., 2023). Lesi ini awalnya muncul di hidung, cuping telinga, kelopak mata, dan kepala. Lesi kulit kemudian dapat meluas ke perineum, genitalia, kelenjar susu, leher, dan anggota badan (Ayelet dkk., 2013). Lesi akibat cacar dapat menyebar ke seluruh tubuh dalam bentuk lokal. Penyembuhan membutuhkan waktu empat hingga enam minggu. Selaput lendir mulut, sistem pernapasan, dan sistem pencernaan terkait dengan lesi cacar dalam bentuk sistemik (Narnaware dkk., 2021).
Diagnosis banding melalui pemeriksaan laboratorium diperlukan karena cacar unta dapat didiagnosis sementara berdasarkan tanda klinis dan lesi cacar, tetapi akan tertukar dengan gangguan virus lain seperti ektima infeksius (parapoxvirus) dan papilomatosis (papillomavirus) (Aregawi dan Feyissa, 2016). Untuk diagnosis cacar unta, sejumlah prosedur disarankan, termasuk imunohistokimia, uji PCR konvensional, isolasi kultur sel, mikroskop elektron transmisi (TEM), dan adanya antibodi penetralisir (Pfeffer dkk., 1998a). Hingga saat ini, vaksin berbasis CMLV merupakan satu-satunya cara untuk mencegah cacar unta, tetapi metode ini belum umum diterapkan (Gieryńska dkk., 2023). Pengobatan hewan yang sakit juga dapat diuntungkan dengan tersedianya antivirus (Dahiya dkk., 2016).

Kesimpulan Cacar unta adalah penyakit menular berbahaya yang terutama menyerang unta di negara-negara miskin. Penyakit ini memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

Dampaknya terhadap populasi unta dan harus dikurangi melalui langkah-langkah pengelolaan dan pencegahan yang efektif, seperti imunisasi dan teknik diagnostik yang lebih baik.

M Gandul Atik Yuliani, Aswin Rafif Khairullah, Nanik Hidayatik, Arindita Niatazya Novianti, Bantari Wisynu Kusuma Wardhani, Ikechukwu Benjamin Moses, Andi Thafida Khalisa, Sheila Marty Yanestria, Dea Anita Ariani Kurniasih, Ima Fauziah, Kartika Afrida Fauzia, Muhammad Khaliim Jati Kusala, Syahputra Wibowo, Abdul Hadi Furqoni, Bima Putra Pratama, Arif Nur Muhammad Ansori

Review Article

Journal of Advanced Veterinary Research (2025)  Volume 15, Issue 4, 535-546

 http://www. Advetresearch.com