Universitas Airlangga Official Website

Cara Baru Mengedit Gen Babi untuk Masa Depan Manusia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pernahkah Anda membayangkan sebuah masa di mana kekurangan donor organ bukan lagi menjadi masalah besar? Para ilmuwan sedang mengusahakan hal ini dengan bantuan babi. Karena kemiripan anatomi dan fisiologinya dengan manusia, babi dianggap sebagai kandidat terbaik untuk menjadi “pabrik” organ atau model penelitian penyakit manusia. Namun, agar organ babi tidak ditolak oleh tubuh manusia (reaksi imun), kita perlu melakukan modifikasi genetik menggunakan teknologi “gunting gen” yang terkenal, yaitu CRISPR/Cas9. Masalahnya, memasukkan “gunting” ini ke dalam sel telur babi yang baru dibuahi (zigot) secara efisien dan aman itu tidak mudah.

Tim peneliti kami dari Jepang, Indonesia, Thailand, dan China menemukan cara jitu untuk melakukannya.

Masalah pada Metode Lama

Sebelumnya, ada dua cara utama untuk memasukkan alat pengedit gen ini:

  1. Sengatan Listrik (Elektroporasi): Menggunakan kejutan listrik kecil untuk membuka pori-pori sel. Sayangnya, efisiensinya seringkali tidak stabil.
  2. Kemasan Lemak (Lipofeksi): Membungkus alat pengedit gen dengan lapisan lemak (lipid) agar bisa menyelinap masuk ke dalam sel. Tantangannya, cara ini terkadang bisa beracun bagi sel atau kurang efektif jika dilakukan sendirian

Dalam penelitian yang dilakukan di Universitas Tokushima, Jepang, kami mencoba menggabungkan keduanya. Mereka mengetes empat skenario berbeda pada dua gen penting babi: B4GALNT2 (penyebab penolakan organ) dan GHR (pengatur ukuran organ). Hasilnya? Metode yang mereka sebut TL + EPL menjadi pemenangnya. Caranya: sel telur babi direndam dulu dalam “kemasan lemak” yang berisi alat pengedit gen (lipofeksi), baru kemudian diberikan sengatan listrik (elektroporasi).

Mengapa Ini Berhasil?

Kami menemukan bahwa cara kerja ini sangat sinergis:

  • Langkah 1: Lemak membantu alat pengedit gen menempel erat pada dinding sel telur.
  • Langkah 2: Sengatan listrik kemudian membuka pintu sel, memudahkan alat yang sudah menempel tadi untuk langsung masuk secara massal.

Hasilnya sangat mengesankan! Tingkat mutasi atau perubahan genetik yang berhasil meningkat secara signifikan dibandingkan hanya menggunakan listrik saja. Hebatnya lagi, cara ini tidak merusak sel telur. Embrio babi tetap tumbuh dengan sehat hingga tahap blastokista (tahap awal sebelum menjadi janin).

Mengapa Ini Penting bagi Kita?

Dengan metode yang lebih sederhana, murah, dan efektif ini, pembuatan babi yang gennya sudah “diperbaiki” menjadi lebih mudah dilakukan di laboratorium. Ini adalah langkah besar menuju:

  • Xenotransplantasi: Menyediakan organ babi yang aman untuk dicangkokkan ke manusia.
  • Penelitian Penyakit: Menciptakan model hewan yang lebih akurat untuk mempelajari penyakit manusia seperti Sindrom Laron.

Meskipun penelitian ini masih dalam tahap laboratorium (belum sampai ke tahap kelahiran bayi babi hidup), ini memberikan fondasi yang kuat bagi masa depan dunia medis dan peternakan presisi

Oky Setyo Widodo, drh., M.Si., Ph.D.

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga