Universitas Airlangga Official Website

Cek Kualitas Kopi dalam Hitungan Menit: Selamat Tinggal Metode Oven yang Lambat

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bagi penikmat kopi, aroma adalah segalanya. Namun, bagi petani dan industri kopi, ada satu hal yang jauh lebih krusial: Kadar Air.

Indonesia, sebagai salah satu raksasa penghasil kopi dunia, memiliki standar ketat. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI), bubuk kopi yang aman harus memiliki kadar air maksimal 7%. Mengapa? Karena air yang berlebih adalah “undangan” bagi jamur dan bakteri, yang tidak hanya merusak rasa tetapi juga bisa memproduksi racun berbahaya.

Selama puluhan tahun, pengecekan kadar air ini menjadi proses yang melelahkan. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Universitas Airlangga dan Universitas Jember yang diterbitkan tahun 2026 membawa angin segar: sebuah metode yang mengubah pekerjaan berjam-jam menjadi hanya hitungan menit.

Bayangkan Anda ingin tahu seberapa kering baju Anda, tapi caranya adalah dengan memanaskannya di oven sampai benar-benar kering kerontang. Itulah gambaran kasar metode konvensional (gravimetri/metode oven) yang selama ini dipakai.

Dalam metode oven, sampel kopi harus dipanaskan pada suhu 105°C selama 5 jam atau lebih hingga beratnya tidak berubah lagi. Kelemahannya jelas: Sangat Lama: Butuh waktu berjam-jam hanya untuk satu pengujian; Boros Energi: Oven menyedot listrik besar secara terus-menerus; bersifat Merusak: Kopi yang sudah diuji menjadi gosong, kering, dan tidak bisa dijual atau dikonsumsi lagi.

Penelitian yang dimuat dalam Asian Journal of Green Chemistry oleh Lestyo Wulandari dan tim menawarkan solusi cerdas menggunakan teknologi NIRS (Near-Infrared Spectroscopy).

Alih-alih memanaskan kopi, alat ini “menembakkan” cahaya inframerah dekat ke bubuk kopi. Molekul air di dalam kopi akan menyerap cahaya tersebut pada pola tertentu. Semakin banyak air, semakin beda pola serapan cahayanya. Proses pemindaian ini tidak menghasilkan panas dan tidak menggunakan bahan kimia.

Tantangan dari metode cahaya ini adalah data yang dihasilkan sangat rumit. Di sinilah peran ilmu Kemometri. Para peneliti menggunakan model matematika canggih bernama Partial Least Squares (PLS) untuk menerjemahkan “bahasa cahaya” tersebut menjadi angka kadar air yang bisa kita baca.

Ibarat penerjemah handal, model PLS mengubah grafik spektrum yang rumit menjadi angka persentase kadar air yang akurat dalam waktu singkat.

Tim peneliti menguji metode ini pada tiga jenis kopi utama di Indonesia (Arabika, Robusta, dan Liberika) dengan berbagai tingkat kadar air (0,1% hingga 18%).

Hasilnya mengejutkan. Akurasi Tinggi: Hasil hitungan alat NIRS memiliki kemiripan 99,3% ($R^2 = 0.993$) dengan hasil metode oven yang memakan waktu berjam-jam; Efisiensi Waktu: Apa yang dulunya dikerjakan setengah hari kerja, kini selesai dalam hitungan menit. Kopi Tetap Utuh: Karena hanya disinari cahaya, bubuk kopi tidak rusak sama sekali dan tetap aman dikonsumsi.

Transisi dari metode oven ke metode NIRS bukan sekadar soal ganti alat, melainkan langkah besar menuju efisiensi industri kopi nasional. Dengan pengecekan yang hanya memakan waktu menit, kontrol kualitas dapat dilakukan lebih sering (intensif) tanpa menghambat rantai produksi.

Ini adalah bukti bahwa teknologi modern mampu menjaga “Emas Hitam” Indonesia tetap berkualitas tinggi, ramah lingkungan, dan efisien.


Oleh: Mochammad Yuwono

Peneliti: Lestyo Wulandari, Gunawan Indrayanto, Mochammad Yuwono

Tautan Jurnal: https://www.ajgreenchem.com/article_229139_5de5df1996520a435cd7cac78086609c.pdf