Perawatan prostodontik merupakan serangkaian perawatan untuk menggantikan gigi dan jaringan maksilofasial yang hilang atau tidak sempurna. Tujuan perawatan prostodontik adalah untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan pasien secara umum, meningkatkan fungsi pengunyahan dan bicara, meningkatkan estetika, memulihkan dan memelihara kesehatan gigi dan jaringan yang ada serta mencegah kerusakan lebih lanjut pada struktur rongga mulut.1
Perawatan prostodontik ada berbagai macam, salah satunya adalah implan gigi. Implan gigi adalah bahan yang dipasang pada tulang rahang atau tengkorak untuk menopang gigi palsu seperti mahkota, jembatan, atau gigi palsu. Perawatan implan banyak digunakan karena hasilnya terlihat natural dan nyaman saat dipakai, implan gigi dapat bertahan lama dan peluang keberhasilan pemasangannya tinggi.2
Dasar dari implan gigi adalah osseointegrasi. Osseointegrasi adalah hubungan struktural dan fungsional tulang dan permukaan implan yang menahan beban tanpa adanya jaringan antara implan dan tulang. Interaksi kompleks ini tidak hanya melibatkan masalah biomaterial dan biokompatibilitas tetapi juga perubahan dalam lingkungan mekanis. Proses osseointegrasi melibatkan interlocking awal antara tulang alveolar dan implan. Dalam proses ini terjadi fiksasi biologis melalui aposisi dan rekonstruksi tulang secara terus menerus sehingga implan gigi dapat ditanamkan dengan baik. Osseointegrasi akan sulit tercapai jika pasien mempunyai penyakit seperti diabetes melitus atau osteoporosis.3
Solusi yang dipertimbangkan untuk membantu proses osseointegrasi adalah perawatan permukaan. Surface treatment merupakan suatu proses yang diterapkan pada permukaan suatu material untuk meningkatkan kinerja material, misalnya dengan meningkatkan ketahanannya terhadap korosi atau keausan. Salah satu perawatan permukaan yang dapat diterapkan pada implan adalah sandblasting. Proses sandblasting ini merupakan tindakan mendorong secara paksa aliran material abrasif ke dalam
permukaan material di bawah tekanan tinggi. Material sandblasted digerakkan oleh cairan bertekanan, udara bertekanan, atau roda sentrifugal. Sandblast dengan Al2O3 bertujuan untuk membuat permukaan implan menjadi sedikit lebih kasar sehingga dapat meningkatkan osseointegrasi antara implan dan tulang.4
Bahan implan yang digunakan pada penelitian ini adalah titanium alloy (Ti-6Al-4V). Titanium adalah logam biokompatibel non-alergi yang telah digunakan selama bertahun-tahun dalam pembuatan implan. Keuntungan penggunaan titanium pada implan gigi antara lain kemampuan osseointegrasi titanium yang baik, kekuatan dan ringan, serta konduktivitas termal yang rendah.5 Menurut penelitian Rohanian dan Primoazzen (2015) ditemukan patah tulang implan pada beberapa pasien, sehingga dalam tulisan ini kita akan mengkaji perbedaan kekuatan antara kedua kelompok implan titanium terhadap uji tekan setelah menerima tekanan dinamis. Dua kelompok yang diteliti adalah kelompok implan titanium yang telah diberi perlakuan permukaan berupa sandblast 50 μmAl2O3, dan kelompok implan titanium yang tidak diberi perlakuan permukaannya. Perbedaan daya yang diperoleh akan membuktikan pengaruh sandblast dengan implan Ti-6Al-4V 50 μmAl2O3.6-7
Pada penelitian ini digunakan dua kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 16 sampel Ti-6Al-4V, kelompok 1 sebagai kelompok kontrol (tanpa sandblast Al2O3) sedangkan kelompok 2 merupakan kelompok yang mendapat sandblast Al2O3 50µm. Tabel 1 merupakan hasil kuat tekan Ti-6Al-4V pada kedua kelompok. Karena sampel yang diamati antar kelompok merupakan sampel yang berbeda, artinya termasuk dalam kelompok sampel bebas. Kemudian dilakukan perbandingan hasil dengan menggunakan uji T terhadap dua sampel independen (Independent T-test). Uji-t ini digunakan untuk menguji hipotesis adanya perbedaan rata-rata yang signifikan kedua kelompok sampel. Uji ini valid dengan asumsi kedua populasi saling bebas dan masing-masing populasi berdistribusi normal dengan jumlah sampel yang sedikit. Selain itu asumsi varians kedua populasi dapat diasumsikan sama (homogen) atau berbeda (heterogen). Maka sebelum melakukan uji T independen perlu dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji homogenitas varians.
Uji normalitas yang dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk memberikan hasil p=0,86 pada kelompok 1 dan p=0,76 pada kelompok 2. Hasil diterima jika p > 0,05. Jadi dengan uji normalitas ini dapat disimpulkan bahwa sampel pada kelompok 1 dan kelompok 2 telah berdistribusi normal
Uji homogenitas varians dilakukan dengan menggunakan uji Levene yang memperoleh hasil p=0,72. Hasil data diterima jika p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa varians data bersifat homogen. Karena data pada kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji T independen.
Nama penulis : Harly Prabowo,
Link publikasi :
https://www.rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2023-16-7-50





