Universitas Airlangga Official Website

Cut-Off Konsentrasi Serum Amyloid A pada Sapi Wagyu

Foto oleh wagyu.co.uk

Pemeriksaan status kesehatan ternak merupakan salah satu faktor penting dalam produksi sapi. Deteksi penyakit secara dini menjadi perhatian utama dokter hewan saat ini. Respon yang tidak spesifik terhadap berbagai rangsangan termasuk trauma, infeksi, pembedahan, neoplasia, adanya penyakit kronis, atau proses inflamasi atau peradangan yang sedang berlangsung disebut acute phase response (APR). Tugas utama dari sistem pertahanan awal ini adalah untuk menghilangkan agen yang mengganggu homeostasis (keadaan makhluk hidup mempertahankan kondisi dan proses fisiologis yang stabil). Selama reaksi homeostasis ini, produksi acute-phase proteins (APPs) mengalami perubahan. APP dapat bertindak sebagai biomarker inflamasi, sehingga memungkinkan peneliti untuk mempelajari perkembangan respon inflamasinya. Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa APP tidak hanya berguna untuk memantau proses inflamasi untuk tujuan diagnostik dan prognostik tetapi juga untuk menganalisis berbagai kondisi non-inflamasi, seperti kehamilan, persalinan, penyakit metabolik, dan stres lingkungan dan manajemen. Salah satu APP utama pada sapi adalah serum amyloid A (SAA).

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai batas konsentrasi SAA pada sapi Japanese black sehat dan sakit yang didiagnosis secara klinis. Sampel yang gunakan dalam penelitian ini sebanyak 289 serum darah sapi. Memiliki usia berbeda dan dalam tahap yang berbeda dari siklus reproduksi tanpa tanda-tanda penyakit klinis yang terlihat (sehat), didukung dengan hasil uji metabolic profile test (MPT) rutin di laboratorium klinis. Sebagai perbandingan, 66 serum darah sapi yang telah diperiksa oleh dokter hewan dan didiagnosis sakit dengan gejala klinis ditetapkan sebagai kelompok sapi yang sakit.

Beberapa metode analisis kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur konsentrasi SAA, dalam penelitian ini pengukuran konsentrasi SAA dilakukan dengan metode lateks aglutinasi turbidimetric immunoassay (LATIA) menggunakan penganalisis kimia klinis otomatis. Keuntungan analisis SAA menggunakan sistem LATIA adalah (1) kemungkinan untuk melakukan pengukuran banyak sampel dalam satu pengujian, dan (2) deteksi status inflamasi tidak hanya dapat dilakukan pada sapi yang sehat dan sakit, tetapi juga dapat dilakukan pada sapi tanpa gejala klinis (sub-klinis).

Terdapat perbedaan signifikan pada konsentrasi SAA rata-rata antara kelompok sapi sehat (2,8 ± 3,2 mg/L) dan kelompok sapi sakit (54,8 ± 76,8 mg/L). Konsentrasi SAA rata-rata pada kelompok yang sakit kira-kira 20 kali lebih tinggi dari pada kelompok yang sehat. Berdasarkan nilai dari kurva receiver operating characteristic (ROC), diperoleh cut-off SAA sebesar 6,5 mg/L. Dalam penelitian ini, 31 dari 289 ekor sapi dalam kelompok sehat diperkirakan memiliki status inflamasi (SAA ≥6,5 mg/L) tanpa gejala klinis (sub-klinis). Konsentrasi SAA dapat dipertimbangkan sebagai parameter klinis untuk deteksi dini status kesehatan sapi serta penentuan prognosisnya. Hal ini dapat menjadi penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesuburan ternak.

Penulis: Oky Setyo Widodo, drh., M.Si

Link: https://www.mdpi.com/2306-7381/9/5/198