Penyempitan katup aorta, atau yang dikenal sebagai Aortic Stenosis (AS), merupakan penyakit katup jantung yang paling sering terjadi, terutama pada lansia. Salah satu komplikasi yang bisa menyertainya adalah pelebaran aorta bagian atas atau Ascending Aorta Dilatation (AAD). Jika diameter aorta ini mencapai 40 mm atau lebih, risiko kematian bisa meningkat hingga 89 kali dibandingkan orang dengan aorta normal.
Pedoman dari American College of Cardiology (ACC) menyarankan agar pasien dengan diameter aorta lebih dari 45 mm menjalani operasi katup aorta sekaligus perbaikan aorta untuk mencegah pecahnya pembuluh darah. Tapi sayangnya, pilihan ini tidak cocok untuk semua orang—terutama bagi pasien dengan kondisi katup high-risk Aortic Stenosis.
Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) hadir sebagai alternatif. Prosedur ini jauh lebih minim risiko karena tidak memerlukan operasi terbuka. TAVI adalah prosedur non-bedah untuk mengganti katup aorta yang rusak tanpa membuka dada. Metode ini menjadi pilihan bagi pasien yang tidak cocok menjalani operasi SAVR (Surgical Aortic Valve Replacement)
Studi terbaru menunjukkan bahwa tingkat kematian baik jangka pendek maupun jangka panjang tidak jauh berbeda antara pasien dengan aorta yang melebar (AAD) dan yang tidak. Bahkan, risiko meninggal selama prosedur maupun setelah 1 hingga 5 tahun tetap sama. Ini menunjukkan bahwa AAD tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian setelah TAVI.
Meski begitu, kasus diseksi aorta—yaitu robeknya dinding aorta—memang lebih sering terjadi pada pasien dengan AAD setelah menjalani TAVI. Akan tetapi, jumlah kejadiannya tetap tergolong rendah. Bahkan, dalam beberapa studi, tidak ditemukan kasus diseksi sama sekali. Artinya, meski risiko relatif meningkat, dampak klinisnya tidak terlalu besar. Selain itu kebocoran setelah pemasangan katup lebih sering terjadi pada pasien AAD setelah menjalani TAVI. Namun, teknologi katup terbaru dan teknik pencitraan yang lebih akurat seperti CT scan 3D kini bisa membantu mengurangi masalah ini. Selain itu, pemilihan jenis katup yang tepat juga sangat berperan dalam mencegah kebocoran katup.
Menariknya, walaupun komplikasi seperti diseksi dan kebocoran katup lebih sering ditemukan pada pasien AAD, hal ini tidak menyebabkan perlunya operasi lanjutan atau pemasangan katup kedua. Risiko komplikasi lain seperti serangan jantung, stroke, atau pemasangan alat pacu jantung juga ternyata tidak berbeda jauh antara pasien dengan AAD dan pasien yang tidak memiliki AAD. Setelah TAVI, fungsi pompa jantung pasien AAD memang sedikit lebih rendah dibandingkan pasien tanpa AAD. Tapi, perbedaannya sangat kecil dan tidak berdampak besar terhadap kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, tidak ada perbedaan berarti dalam kejadian serangan jantung, stroke, atau kebutuhan alat pacu jantung. Salah satu kekhawatiran lain adalah apakah TAVI bisa membuat pembuluh aorta makin melebar. Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa ukuran aorta tidak berubah secara signifikan setelah TAVI.
Menurut the 2021 ESC and EACTS guidelines, pasien dengan pembuluh aorta yang melebar hingga 45 mm atau lebih biasanya disarankan untuk menjalani operasi penggantian katup aorta secara bedah terbuka (SAVR). Ini dilakukan bersamaan dengan perbaikan pembuluh aorta yang membesar agar tidak terjadi komplikasi serius seperti robekan atau pecahnya aorta.
Memang, ada metode perbaikan endovaskular (melalui kateter) yang cukup efektif untuk menangani masalah pada pembuluh aorta bagian bawah. Tapi sayangnya, teknik ini masih sulit diterapkan pada bagian atas aorta (ascending aorta) karena struktur anatominya yang lebih rumit. Karena itu, SAVR masih menjadi pilihan utama untuk pasien dengan pelebaran aorta di bagian atas.
Namun, memilih antara SAVR dan TAVI perlu mempertimbangkan banyak faktor. Faktor yang harus dipertimbangkan, seperti pengalaman tim medis, apakah ada aneurisma di akar aorta, bentuk katup jantung pasien, berapa lama pasien diperkirakan akan hidup, hingga apakah pasien perlu terapi pengencer darah jangka panjang. Semua faktor ini harus ditimbang agar pasien mendapatkan hasil pengobatan terbaik sesuai kondisi masing-masing.
Kesimpulannya, TAVI terbukti sebagai alternatif yang aman dan efektif bagi pasien AAD yang tidak bisa menjalani operasi besar. Meskipun masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk melihat efek jangka panjangnya, TAVI menunjukkan potensinya sebagai solusi masa depan dalam dunia kedokteran jantung.
Penulis: Prof. Dr. J. Nugroho Eko Putranto, dr., Sp.JP(K)FIHA.FAsCC.
Link Publikasi : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352906725000831





