Universitas Airlangga Official Website

Olahraga Aerobik: Solusi Non-Obat yang Efektif untuk Mengatasi Neuropati Diabetik

Group of young sporty people doing exercises together in bright and spacious gym. Happy men and women doing aerobics exercises lifting high knees in gym. Fitness, sport, aerobics and people concept.

Penyakit diabetes mellitus telah menjadi epidemi global, dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahunnya. Penyakit ini ditandai dengan kadar gula yang tinggi  dalam jangka waktu yang lama hingga menyebabkan berbagai macam komplikasi berbahaya apabila tidak terkontrol dengan baik. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai dari diabetes mellitus adalah diabetic peripheral neuropathy (DPN) atau neuropati diabetik. Komplikasi ini dapat menyebabkan nyeri hebat, mati rasa, hingga gangguan berjalan, yang pada akhirnya sangat memengaruhi kualitas hidup penderita. Kondisi DPN ini umumnya menyerang saraf tepi, terutama di area tungkai dan kaki. Gejala awal yang paling sering muncul meliputi kesemutan, nyeri seperti terbakar, sensasi seperti ditusuk jarum, atau bahkan kehilangan rasa di kaki. Menurut data dari Indonesia, sekitar 27,6% pasien diabetes mellitus mengalami komplikasi mikrovaskular seperti retinopati, nefropati, dan neuropati. Dari jumlah ini, lebih dari 63% mengalami neuropati. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko jatuh, luka kronis, hingga amputasi.

HbA1c atau hemoglobin terglikasi adalah parameter penting yang digunakan dokter untuk mengevaluasi sejauh mana gula darah seseorang terkontrol selama 2–3 bulan terakhir. Nilai HbA1c yang tinggi menandakan kadar glukosa dalam darah sering berada di atas normal, yang berisiko menimbulkan berbagai komplikasi diabetes. Menurunkan HbA1c menjadi target utama dalam manajemen diabetes mellitus. Namun, menurunkan HbA1c tidak selalu harus menggunakan obat. Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa olahraga bisa menjadi solusi alami yang efektif dan aman.

Kami melakukan penelitian dengan desain tinjauan sistematis dan meta analisis dengan mengkaji empat uji klinis terkontrol secara acak yang melibatkan 187 pasien DPN. Intervensi yang dilakukan adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang, seperti berjalan cepat di treadmill, bersepeda statis, atau jogging ringan. Durasi program olahraga berkisar antara 8 hingga 12 minggu, dengan frekuensi 3 hingga 6 kali per minggu, dan durasi 60–135 menit per minggu. Hasil yang kami dapatkan dari penelitian ini sangat menjanjikan: (1) Kami mendapakan Penurunan HbA1c secara signifikan pada kelompok yang melakukan olahraga dibandingkan kelompok yang tidak; (2) Peningkatan kecepatan hantaran saraf/Nerve conduction velocity (NCV) pada saraf sural (sensorik) yang menunjukkan perbaikan fungsi saraf; serta (3) Efek positif terhadap kualitas hidup, terutama dalam hal sensitivitas dan pengurangan nyeri.

Bagaimana Olahraga Mempengaruhi Gula Darah?

Olahraga aerobik dapat meningkatkan sensitivitas insulin, yaitu kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin secara lebih efisien dalam menurunkan kadar gula darah. Bahkan pada jaringan yang resisten terhadap insulin, olahraga tetap dapat memfasilitasi penyerapan glukosa melalui jalur non-insulin, seperti peningkatan ekspresi GLUT-4 yang merupakan protein pengangkut glukosa ke dalam sel otot. Selain itu, olahraga juga membantu menurunkan kadar lemak tubuh dan indeks massa tubuh/body mass index (BMI), yang pada akhirnya memperbaiki profil metabolik secara keseluruhan. Efek gabungan dari semua mekanisme ini membantu menurunkan kadar HbA1c dalam darah. Selain memperbaiki kadar gula darah, olahraga aerobik juga berdampak langsung pada sistem saraf. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya kecepatan hantaran listrik pada saraf sural, saraf sensorik utama di kaki. Olahraga mendorong peningkatan aliran darah ke jaringan saraf, mengurangi stres oksidatif, dan merangsang pertumbuhan kembali cabang-cabang saraf kecil (neuroregenerasi). Menariknya, perbaikan lebih nyata terjadi pada saraf sensorik dibanding saraf motorik seperti peroneal. Ini mungkin karena saraf sensorik lebih responsif terhadap perubahan glikemik dan aliran darah mikro, serta lebih sedikit terpengaruh oleh trauma mekanik dibandingkan saraf motorik.

Rekomendasi umum berdasarkan hasil studi ini adalah melakukan olahraga aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu. Contohnya:

  • Jalan cepat di treadmill selama 30 menit, 5 kali seminggu.
  • Bersepeda statis 45 menit, 3–4 kali seminggu.
  • Kombinasi jogging ringan dan aktivitas harian aktif.

Intensitas yang dianjurkan adalah 40–70% dari denyut jantung cadangan (heart rate reserve), sesuai dengan pedoman dari American Diabetes Association dan WHO.

Dengan semakin banyaknya penderita diabetes, terutama di usia produktif, strategi pengelolaan yang efektif, terjangkau, dan minim efek samping sangat dibutuhkan. Olahraga bukan hanya murah dan aman, tetapi juga memiliki efek jangka panjang yang menguntungkan bagi metabolisme tubuh dan sistem saraf. Dengan demikian, olahraga aerobik bukan sekadar gaya hidup sehat, tetapi kini terbukti ilmiah sebagai salah satu terapi utama untuk penderita diabetes mellitus dengan komplikasi neuropati. Bagi penderita DPN, memulai program olahraga secara terstruktur bisa menjadi langkah awal menuju pemulihan. Olahraga juga bermanfaat sebagai upaya pencegahan sebelum timbul kondisi diabetes. Jika Anda menderita diabetes mellitus dan mengalami gejala neuropati seperti kesemutan atau nyeri kaki, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis. Mulailah dari langkah kecil, karena setiap langkah adalah investasi besar untuk masa depan Anda.

Penulis: Dr. Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si

Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Aerobic exercise improves HbA1c levels and sensory outcomes in diabetic peripheral neuropathy: A systematic review and meta-analysis yang dimuat pada jurnal ilmiah Acta Biomed 2025; Vol. 96, N. 2: 16893.

Link artikel asli dapat dilihat pada:

https://www.mattioli1885journals.com/index.php/actabiomedica/article/view/16893