Universitas Airlangga Official Website

Dapatkah Asupan Natrium Berlebih Menyebabkan Kelebihan Berat Badan?

Peningkatan berat badan saat ini merupakan fenomena yang menjadi permasalahan penting di dunia karena berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Berbagai faktor melatarbelakangi kejadian kelebihan berat badan dan obesitas seperti faktor genetik, asupan berlebih, aktifitas fisik, lingkungan dan faktor emosional. Utamanya, asupan makanan merupakan penyebab peningkatan berat badan. Surplus zat gizi makro dari karbohidrat dan lemak merupakan faktor utama. Namun, hubungan ketidakseimbangan asupan sodium dan peningkatan berat badan diteliti lebih lanjut beberapa tahun terakhir.

Garam meja merupakan bahan makanan penyumbang sodium terbesar. Pedoman diet Amerika Serikat merekomendasikan untuk membatasi konsumsi garam dibawah 6 g atau setara dengan 2.300 miligram natrium per hari. Namun, rata-rata konsumsi garam dunia melebihi hingga 200% dari rekomendasi harian. Dalam rentang 1975-2016, prevalensi obesitas juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat. Lebih dari 1,9 miliar orang dewasa didunia mengalami kelebihan berat badan, dan 650 juta di antaranya mengalami obesitas. Berbagai penelitian mulai menggali mekanisme potensial hubungan antara asupan natrium dengan peningkatan berat badan, kelebihan berat badan dan obesitas. Berdasarkan fenomena tersebut, tinjauan literatur terkait hubungan asupan natrium dengan kelebihan berat badan menarik untuk dikaji.

Kami meninjau 11 artikel dengan desain studi observasional terkait pembahasan mengenai hubungan antara asupan natrium dan kelebihan berat badan melalui penentuan indikator obesitas secara umum (BMI), obesitas sentral (WHtR/WC) dan penilaian distribusi lemak dengan komposisi tubuh dalam rentang 10 tahun terakhir (2013-2022) pada kelompok dewasa (>19 tahun). Penilaian asupan natrium menggunakan semi quantitative food frequences questionaire (SQ-FFQ) dan ekskresi natrium urine 24 jam (24hUNa). dan  penentuan status gizi khususnya kategori kelebihan berat badan dan obesitas menggunakan indeks massa tubuh (BMI). Obesitas sentral dapat ditentukan melalui lingkar pinggang (WC) dan/atau rasio pinggang-tinggi (WHtR). Sementara, indikator penilaian adiposit lain mulai dikembangkan untuk mendukung BMI dan WC yaitu dengan mengukur komposisi tubuh sehingga dapat mengetahui distribusi lemak dalam tubuh.

Temuan dari tinjauan literatur menyebutkan 10 studi memiliki hubungan positif antara asupan/ekskresi natrium urin 24 jam (24hUNa) dengan kelebihan berat badan, 10 studi pengukuran obesitas sentral menggunakan lingkar pinggang (WC), rasio pinggang-tinggi (WHtR), dan rasio pinggang pinggul (WHR), serta terdapat 3 artikel yang menunjukkan adanya perbedaan komposisi tubuh (massa lemak dan massa bebas lemak) pada subjek yang mengkonsumsi natrium berlebih ditinjau dari asupan dan ekskresi natrium. Asupan natrium berkaitan dengan peningkatan berat badan dan risiko kelebihan berat badan peningkatan berat badan hingga 2,75 kg, peningkatan lingkar pinggang hingga 2,15 cm dan peningkatan massa lemak hingga 0,91 kg. Berbagai mekanisme potensial yang mendasari antara lain peningkatan asupan energi, peningkatan volume ekstraseluler, peningkatan adipositas, dan perubahan leptin plasma.

Asupan tinggi garam berperan serta meningkatkan asupan makanan berenergi tinggi. Makanan yang memiliki densitas energi tinggi cenderung memiliki kadar garam yang tinggi pula seperti keju, kerupuk, keripik, dan gorengan sehingga meningkatkan asupan kalori total. Konsumsi garam yang tinggi juga berkaitan dengan peningkatan asupan minuman tinggi kalori karena garam memiliki sifat menarik air hingga menimbulkan perasaan haus. Asupan dengan densitas energi tinggi seperti lemak berkontribusi terhadap peningkatan massa lemak tubuh yang bermanifestasi pada peningkatan berat badan.

Mekanisme selanjutnya yang mungkin terjadi adalah peningkatan volume ekstraseluler Pemberian asupan garam lebih tinggi mengakibatkan peningkatan hiperosmolalitas transien di vena portal dan hati sehingga mengakibatkan perubahan osmolalitas serum. Peningkatan tekanan osmosis menyebabkan peningkatan zat terlarut sehingga menarik pelarut (air) yang ada dalam ekstraseluler sehingga menyebabkan retensi air yang berakibat pada peningkatan berat badan. Pengkajian sebuah penelitian menyebutkan bahwa pengurangan asupan garam awal sebesar 10 g (160 mmol) menjadi kurang dari 5g (80 mmol), berimbas pada pengurangan berat badan lebih dari 1 kg yang disebabkan oleh berkurangya volume cairan ekstraseluler.

Mekanisme peningkatan berat badan yang tidak dimediasi oleh asupan energi telah dibuktikan pada hewan coba. Diet tinggi garam menginduksi white adipose tissue (WAT) dan konsentrasi leptin plasma. Peningkatan WAT disebabkan oleh pola konsumsi, pengeluaran energi serta hipertrofi dan hiperplasia sel. Namun, pada penelitian tersebut, hewan coba mengkonsumsi jumlah makanan yang sama selama masa coba. Peningkatan adipositas pada hewan coba diinduksi oleh metabolisme glukosa yang berkontribusi pada peningkatan massa lemak. Peningkatan kapasitas untuk memasukkan glukosa ke dalam lipid dan aktivitas enzimatik lipogenik yang lebih tinggi mungkin telah mendorong hipertrofi adiposit dan akumulasi lemak yang berlebihan sehingga mampu meningkatkan berat badan.

Akhirnya, terdapat keterkaitan antara konsumsi garam berlebih dilihat dari asupan natrium dengan peningkatan berat badan dan kelebihan berat badan dilihat dari status gizi, obesitas sentral dan komposisi tubuh pada populasi orang dewasa. Namun, mekanisme terjadinya hubungan tersebut masih perlu dipelajari lebih lanjut. Pembatasan konsumsi natrium terutama pada garam meja perlu dilakukan untuk mencegah resiko gangguan kardiovaskular dan kelebihan berat badan.

Penulis : Annisaa Wulida Furqonia, S.Gz

Informasi penelitian lebih lengkap dapat diakses pada :

Furqonia, A.W., Farapti, & Notobroto, H.B. (2023). Is Excess Sodium Intake a Risk Factor for Overweight?: A Systematic Review. Amerta Nutrition, 3(7). 459-467.