Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif menjadi perhatian tersendiri. Di dunia hanya 40% bayi mendapat ASI eksklusif, sementara di Indonesia berdasarkan data SSGI 2021 hanya sebesar 52,5%. Di Jawa Timur tahun 2020 cakupan ASI eksklusif sebesar 61%, menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 68,2%. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif, diantaranya adalah pengetahuan dan motivasi ibu dalam menyusui serta adanya dukungan keluarga khususnya suami. Peran aktif keluarga saat menyusui akan berkontribusi dalam keberhasilan ASI eksklusif.
Pada komunitas Suku Tengger, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa 79% ibu memberikan kolostrum, tetapi hanya 60% yang berhasil menjalankan pemberian ASI eksklusif. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa prevalensi pemberian ASI eksklusif pada balita Suku Tengger adalah 38%. Rendahnya angka pemberian ASI eksklusif kemungkinan dipengaruhi oleh keyakinan yang kuat yang diyakini masyarakat Tengger. Dalam keyakinan suku Tengger, memberikan air gula dan pisang yang dihaluskan oleh seorang dukun tradisional ke mulut bayi baru lahir diharapkan dapat membuat bayi menjadi baik hati dan sopan. Selain itu, mereka memberikan madu dan kelapa muda. Selama menyusui, mereka juga melakukan beberapa praktik yang dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti membuang kolostrum karena dianggap kotor, tidak mengkonsumsi ikan untuk mencegah ASI yang berbau amis, tidak makan cabai karena dapat menyebabkan rasa pedas, dan tidak mengonsumsi sayuran hijau karena dapat membuat ASI terasa pahit.
Hasil studi Firyal, dkk (2023) dengan desain case control menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dan dukungan keluarga memiliki kekuatan hubungan yang lemah hingga sedang dengan pemberian ASI eksklusif pada baduta Suku Tengger. Sebagian besar ibu baik pada kelompok ASI eksklusif maupun non-eksklusif, memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI eksklusif. Sebagian besar ibu dalam kelompok ASI eksklusif memiliki pengetahuan yang baik (67,9%). Trend yang sama terjadi pada kelompok ASI non-eksklusif, dengan 72,4% ibu memiliki pengetahuan yang baik. Variabel pengetahuan ibu memiliki korelasi negatif yang sangat lemah dengan variabel pemberian ASI, yang mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan ibu memiliki pengaruh yang relatif lemah terhadap pemberian ASI eksklusif. Ibu di Suku Tengger Desa Wonokitri cenderung mengikuti saran dari tenaga kesehatan. Alasan paling umum bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif adalah rekomendasi dari tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter.
Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ibu pada kelompok ASI eksklusif sebagian besar mendapatkan dukungan emosional yang baik dari keluarga mereka (88,9%). Sementara pada kelompok ASI non-eksklusif memiliki distribusi yang hampir sama antara dukungan emosional yang sesuai dan cukup (51,7% dan 48,3%). Variabel dukungan emosional dari keluarga memiliki korelasi positif yang cukup kuat, artinya semakin baik dukungan emosional dari keluarga maka semakin meningkat kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Dukungan emosional dari keluarga mencakup memberikan motivasi, dorongan, dan kesabaran dalam menghadapi perilaku ibu serta menciptakan rasa nyaman dan rasa dicintai.
Terdapat beberapa faktor yang penting untuk keberhasilan ASI eksklusif, yaitu rekomendasi dari tenaga kesehatan dan dukungan emosional dari keluarga. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif serta meningkatkan dukungan keluarga agar dapat mencapai tingkat pemberian ASI eksklusif yang lebih tinggi.
Penulis: Lailatul Muniroh
Jurnal: The Relationship between Maternal Knowledge and Family Support with Exclusive Breastfeeding





