UNAIR NEWS – Meretas regulasi ternyata bukan berarti melanggar aturan. Itulah pesan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) lewat Sekolah Legislatif (SELEGTIF) I di Maleo Hall, Gedung Medang, Sabtu (17/10/2026). Peserta belajar mengubah kritik menjadi solusi bersama praktisi kepemiluan dan legislasi kampus.
Tujuannya lebih dari memahami tata tertib sidang. Panitia mengajak peserta memahami regulasi agar mampu mengkritisi kebijakan lewat mekanisme yang tepat. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga mampu berpartisipasi secara kritis dan bertanggung jawab,” ujar Ketua Pelaksana SELEGTIF I Moch Dzaki Novianto.

Demokrasi Tak Berhenti di Bilik Suara
Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur Ir Eka Wisnu Wardhana ST menegaskan bahwa demokrasi tidak berhenti pada pemilihan pemimpin. Setelah pemilihan, mahasiswa masih perlu mengevaluasi, mengawasi, dan mengontrol jalannya kepemimpinan. Di kampus, mahasiswa juga perlu mengawal program kerja pemimpin yang mereka pilih.
Mahasiswa perlu mengubah keluhan menjadi aspirasi yang terarah. Caranya, mereka menjelaskan persoalan, menyertakan alasan yang jelas, dan menawarkan solusi yang memungkinkan. Dengan begitu, aspirasi dapat dibahas secara terstruktur.
Media sosial membantu mahasiswa menyampaikan pendapat. Untuk mendorong perubahan kebijakan, mereka juga perlu mengenali pihak berwenang dan mekanisme penyampaian aspirasi yang berlaku. “Jangan berhenti pada kritik, tetapi lanjutkan dengan upaya yang terarah dan bertanggung jawab,” ujar Dzaki.
Kritik Argumennya, Bukan Orangnya
Ketua Komisi Legislasi Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) UNAIR Diinaar Rahmatina SA mengajarkan mekanisme pengambilan keputusan di persidangan. Forum mengutamakan musyawarah mufakat, lalu berlanjut ke lobi dan voting sesuai tata tertib. Memperjuangkan aspirasi, menurut materi itu, tidak selalu berarti memenangkan perdebatan.
Peserta juga belajar membedakan kritik terhadap kebijakan dengan serangan pribadi. Kritik harus bertumpu pada fakta, aturan, dan kepentingan bersama, bukan emosi. Salah satu kesalahan mahasiswa pemula, menurut panitia, adalah mengeluh tanpa dasar argumen dan solusi yang jelas.
Tidak semua persoalan perlu langsung masuk forum tertinggi. Pembahasan yang terstruktur membuat mahasiswa dapat mempertanggungjawabkan aspirasinya. Keterampilan itu berguna saat rapat, diskusi kelompok, dan perbedaan pandangan di perkuliahan.
Materi persidangan relevan bagi seluruh mahasiswa, bukan hanya anggota BLM atau DLM. Panitia berharap peserta menerapkan materi di forum organisasi dan kampus. “Kita tidak harus menjadi anggota BLM atau DLM untuk mulai berkontribusi,” ujar Dzaki.
Penulis: Nabila Afifah Abida
Editor: Yulia Rohmawati
