Universitas Airlangga Official Website

Dari Psikologi ke WALHI: Kiprah Alumnus UNAIR yang Aktif Menyuarakan Isu Lingkungan

Wahyu Eka Styawan, Alumni Psikologi UNAIR yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif sekaligus Koordinator Riset dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur. (Foto: Narasumber)
Wahyu Eka Styawan, Alumni Psikologi UNAIR yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif sekaligus Koordinator Riset dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur. (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS – Alumnus Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali membuktikan bahwa ilmu psikologi tidak hanya berkaitan dengan ranah klinis. Sebagai seorang Direktur Eksekutif sekaligus Koordinator Riset dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur, Wahyu Eka Styawan SPsi MSc, aktif menyuarakan pentingnya isu lingkungan serta menjalin kerja sama dengan badan dalam negeri maupun luar negeri. 

Sejak masa kuliah, Wahyu telah memiliki ketertarikan pada cabang psikologi sosial. Ketertarikan inilah yang kemudian mengantarnya untuk berkiprah di WALHI Jawa Timur. “Sudah terencana dari awal menjadi mahasiswa baru, memang niatnya mau mendalami psikologi sosial agar lebih dekat dengan masyarakat. Saya aktif mengikuti kegiatan kajian, diskusi filsafat, penulisan, komunitas diskusi, hingga berkecimpung di dunia seni,” ungkapnya.

Wahyu mengungkapkan bahwa sebagian besar tugasnya saat ini adalah membangun jejaring nasional dan internasional untuk menyuarakan isu lingkungan. Riset yang terus dikembangkan kemudian digunakan sebagai dasar kampanye ke daerah-daerah yang membutuhkan. 

“WALHI itu kekuatannya pendidikan. Jadi, kami mengadakan seperti halnya sekolah seputar lingkungan, sekolah ekologi, kelas pemuda, dan membuka kesempatan bagi warga umum untuk menjadi sukarelawan. Kegiatan ini menyasar universitas hingga warga umum agar dapat turut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan,” jelasnya. 

Menurut Wahyu, keterlibatannya di WALHI menghadirkan tantangan tersendiri, mulai dari keamanan hingga tekanan psikologis. Ia mengakui bahwa ilmu psikologi yang diperolehnya semasa kuliah sangat membantunya dalam menjalankan tugas.

“Memang yang berat ini masalah keamanan ya, kita pernah mendapat ancaman saat menghadapi orang yang tidak menyukai kehadiran kita. Selain itu, tekanan pekerjaan dan rasa jenuh bisa menjadi tantangan dari sisi psikologis. Nah, di sini ilmu psikologi sangat berguna, mulai dari membantu komunikasi hingga memetakan untuk analisis sosialnya,” imbuhnya. 

Wahyu berpesan kepada generasi muda untuk turut menjaga lingkungan melalui langkah-langkah sederhana. Ia menekankan pentingnya memelihara air dengan menghabiskan makanan kita setiap harinya. “Lingkungan itu hidup kita, contohnya air. Jadi kita harus melindunginya dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengambil air secara berlebihan, dan habiskan makanan kalian karena di sebutir nasi itu berapa liter air yang dibutuhkan dari mulai menanak hingga mencuci piring,” pesannya.

Kiprah Wahyu menegaskan bahwa UNAIR tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga pribadi yang mampu memberi dampak luas bagi lingkungan dan masyarakat. Kontribusinya menjadi cerminan keberhasilan kampus dalam mencetak agen perubahan.

Penulis: Putri Andini

Editor: Khefti Al Mawalia