UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) kembali menggelar Seminar dan Expo Beasiswa (SEMPOA) 2025. Agenda tahunan yang bertujuan untuk memberikan informasi seputar beasiswa itu berlangsung pada Minggu (16/11/2025) di Aula Ternate, Airlangga Shari’a and Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR.
Salah satu pemateri yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah Genada Asaika SHum. Ia merupakan alumni program studi Bahasa dan Sastra Inggris UNAIR yang lulus dengan mencatatkan beragam prestasi nasional hingga internasional. Dalam kesempatan itu, Genada membagikan pengalaman sekaligus strategi dalam meraih beasiswa luar negeri.
Menurut Genada, penyusunan portofolio yang baik merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih beasiswa. Genada mengungkapkan bahwa setelah mengalami penolakan dalam beberapa seleksi beasiswa pemerintah, ia memutuskan untuk mengikuti berbagai kompetisi sebagai upaya untuk memperkuat portofolionya.
“Setelah gagal dalam semua seleksi beasiswa pemerintah, saya coba daftar beasiswa dari luar negeri yaitu beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia (VDMI) dan Alhamdulillah-nya keterima. Tentu saja pencapaian ini bukan sekadar karena saya mau mencoba lagi terus akhirnya diterima, tetapi juga karena saya sudah banyak mengumpulkan portofolio lewat lomba dan karya ilmiah selama satu semester,” ujarnya.
Hal-hal Penting
Lebih lanjut, Genada menerangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh calon pendaftar beasiswa. Sebelum mendaftar disarankan melakukan riset terkait visi dan misi dari program beasiswa. Setiap program beasiswa memiliki fokus dan tujuan yang berbeda-beda.
“Ada beasiswa yang fokusnya adalah memberikan proyek yang berdampak pada masyarakat. Ada juga beasiswa yang fokusnya ke arah akademik, jadi teman-teman tidak harus berkontribusi, tetapi harus mendapat nilai yang bagus. Untuk itu, teman-teman perlu menyesuaikan visi dan misi program tersebut dengan diri kalian,” tuturnya.
Selain itu, penerima beasiswa memiliki kewajiban untuk dapat berdampak bagi lingkungan maupun masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya yang dilakukan Genada saat menginisiasi pembentukan komunitas SAFE Indonesia, suatu komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan dengan fokus mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 dan ke-13. Komunitas tersebut merupakan salah satu bentuk timbal balik yang Genada berikan kepada pemberi beasiswanya dari Amerika dan Italia.
“Kalian harus ingat bahwa beasiswa ini bukan titik akhir, thats the new beginning. Jadi kalau teman-teman dapat beasiswa itu adalah langkah awal untuk melakukan suatu hal atau berdampak,” ucapnya.
Genada menegaskan kepada calon pendaftar beasiswa untuk menjaga keotentikan diri dengan tidak memanipulasi data. Pemalsuan data berpotensi dapat mencabut hak penerima beasiswa hingga dituntut secara hukum.
Tanggung Jawab Penerima Beasiswa
Setelah menerima beasiswa, Genada mengatakan bahwa tanggung jawab yang dimiliki individu menjadi semakin besar. Penerima beasiswa tidak hanya menanggung nama pribadi, tetapi juga komunitas, lembaga, universitas, maupun negara. Sebagai representasi dari pihak lain, penerima beasiswa memiliki kewajiban untuk senantiasa menjaga diri, sehingga tidak memberikan pengaruh negatif.
“Jangan sampai merusak citra yang sudah dibangun oleh orang lain. Misalnya orang lain sudah bangun branding Indonesia, tetapi hanya karena kalian melakukan suatu hal tiba-tiba branding tersebut berubah,” tegasnya.
Genada berpesan untuk mencari lingkungan suportif yang dapat mendukung dalam pengembangan diri dan penyaluran kontribusi. “Jangan lupa untuk terus berkembang, apapun yang dilakukan walaupun itu susah dan senang harus diselesaikan sampai akhir,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Khefti Al Mawalia





