Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

DARI TANAH BALURAN UNTUK PERTANIAN: Harapan baru pengendalian penyakit tanaman ramah lingkungan

20 Views•3 minutes read

Tanah tidak hanya menjadi tempat tumbuh tanaman, tetapi jutaan mikroorganisme juga memiliki peran penting bagi kehidupan, termasuk bakteri yang berpotensi membantu melindungi tanaman dari penyakit. Salah satu contoh adalah bakteri-bakteri yang ditemukan di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Melalui sebuah penelitian, bakteri Bacillus cereus BT1.8 diketahui memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum, salah satu patogen tanaman yang dapat menyebabkan penyakit busuk akar dan layu tanaman. Selama ini, pengendalian penyakit tanaman masih banyak mengandalkan bahan kimia. Penggunaan bahan kimia secara berlebihan masih menjadi perhatian karena dapat memberikan dampak terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, para peneliti terus mencari alternatif pengendalian hayati yang lebih aman dan berkelanjutan. Bakteri dari genus Bacillus menjadi salah satu kandidat yang menarik karena mampu menghasilkan berbagai senyawa yang bersifat antimikroba, termasuk biosurfaktan.

Menemukan “senjata” dari mikroorganisme

Penelitian ini menggunakan tiga isolat bakteri yang diperoleh dari tanah kawasan Taman Nasional Baluran, yaitu BT1.8, BT9.1, dan SM2.3. Ketiga isolat tersebut kemudian diuji untuk mengetahui kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporum. Hasilnya cukup menjanjikan. Isolat BT1.8 menunjukkan kemampuan antijamur paling tinggi dengan tingkat penghambatan mencapai 69 persen. Artinya, bakteri tersebut mampu menekan pertumbuhan F. oxysporum secara signifikan dibandingkan isolat lainnya. Tidak berhenti pada pengujian di laboratorium, peneliti juga mencari tahu mekanisme yang mungkin mendukung kemampuan antijamur tersebut. Analisis molekuler menunjukkan bahwa BT1.8 memiliki kemiripan genetik sebesar 99,11 persen dengan Bacillus cereus ATCC1457. Karena itu, isolat tersebut kemudian diidentifikasi sebagai B. cereus BT1.8.

Gen srfAD: petunjuk penting

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah keberadaan gen srfAD pada B. cereus BT1.8. Gen tersebut berkaitan dengan biosintesis surfaktin, yaitu salah satu jenis biosurfaktan yang dapat dihasilkan oleh bakteri Bacillus. Biosurfaktan memiliki berbagai manfaat dan diketahui dapat berperan dalam menghambat mikroorganisme tertentu. Dalam penelitian ini, keberadaan gen srfAD menjadi petunjuk bahwa B. cereus BT1.8 memiliki kemampuan genetik untuk menghasilkan senyawa yang berpotensi mendukung aktivitas antijamurnya. Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa gen tersebut memiliki tingkat homologi tinggi dengan gen serupa pada Bacillus halotolerans. Ketiga isolat yang diteliti juga menunjukkan aktivitas hemolisis beta pada media agar darah. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator adanya aktivitas yang berkaitan dengan senyawa biosurfaktan. Meski demikian, pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan karakter dan mekanisme senyawa yang dihasilkan.

Dari laboratorium menuju pertanian berkelanjutan

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan B. cereus BT1.8 sebagai agen pengendali hayati. Salah satu bentuk aplikasi yang dapat dikembangkan adalah seed coating atau pelapisan benih. Dengan teknologi tersebut, bakteri berpotensi diaplikasikan pada benih sebelum ditanam sehingga dapat membantu melindungi tanaman sejak fase awal pertumbuhan. Lebih jauh, pemanfaatan mikroorganisme lokal seperti B. cereus BT1.8 menunjukkan bahwa lingkungan alami Indonesia memiliki sumber daya hayati yang sangat berharga. Mikroorganisme yang selama ini tidak terlihat oleh mata ternyata dapat menjadi bagian dari solusi bagi persoalan pertanian. Penelitian tentang B. cereus BT1.8 bukan sekadar menemukan bakteri dari tanah Baluran. Lebih dari itu, penelitian ini memberikan gambaran bahwa solusi untuk pertanian yang lebih ramah lingkungan dapat berasal dari kekayaan hayati di sekitar kita. Jika terus dikembangkan melalui penelitian dan pengujian yang lebih mendalam, bakteri penghasil biosurfaktan berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dalam pengendalian penyakit tanaman.

Penulis: F. A. Nafidiastri, Salamun, H. S. Riqina, M. Izzuddin, Ni’matuzahroh, Fatimah, A. Geraldi and N. A. Rumandani. Molecular characterization of surfactin biosynthetic gene in Bacillus cereus BT1.8 and its antifungal efficacy against Fusarium oxysporum. Brazilian Journal of Biology, 2026, vol. 86, e302463. (Terbit: 12-06-2026).

Link Jurnal:  https://doi.org/10.1590/1519-6984.302463

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top