HIV menjadi salah satu problem besar di bidang kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Virus ini menyerang sistem imunitas dan dapat berkembang menjadi AIDS jika tidak dikelola dengan baik. Penularan terjadi melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik secara bersama, serta penularan dari ibu kepada bayi selama kehamilan dan proses kelahiran. Salah satu fakta yang sering kurang dipahami oleh masyarakat adalah bahwa HIV memiliki banyak variasi genetik. Variasi tersebut menyebabkan pola penyebarannya berbeda di setiap negara, termasuk Indonesia, sehingga pendekatan deteksinya tidak dapat diseragamkan.
Meskipun HIV belum memiliki solusi penyembuhan, terapi yang ada saat ini dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi. Kunci utama terletak pada identifikasi awal, karena semakin cepat individu mengetahui status HIV-nya, maka akan segera pula pengobatan dimulai dan risiko penyebaran dapat diminimalkan. Di lapangan, berbagai metode untuk pengujian HIV telah diterapkan. Tes cepat (RDT) menjadi pilihan yang banyak digunakan karena hasilnya yang cepat dan tidak memerlukan alat tambahan, sehingga sangat sesuai untuk wilayah yang minim fasilitas. Namun, akurasi dari tes cepat belum sepenuhnya bisa dipastikan karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasilnya, seperti kondisi kesehatan, penggunaan obat, dan karakteristik populasi yang diuji. Sementara itu, CDC di AS kini merekomendasikan penggunaan tes kombinasi antigen dan antibodi sebagai langkah awal dalam skrining. Di Indonesia, panduan nasional masih mengandalkan tes antibodi sebagai pemeriksaan pertama.
Penelitian UNAIR ini menyoroti pentingnya penggunaan tes HIV yang cepat dan akurat untuk meningkatkan deteksi dini di Indonesia, terutama di wilayah dengan akses terbatas pada fasilitas laboratorium. Studi dilakukan pada 262 peserta, baik pasien HIV maupun relawan sehat, untuk menilai kinerja dua metode pemeriksaan utama: tes antibodi (rapid test) dan tes antigen p24 (ELISA). Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang tingkat sensitivitas dan spesifisitas masing-masing metode. Selain itu, Informasi ini juga sangat penting untuk menguatkan strategi terkait deteksi dini HIV, terutama bagi kelompok resiko tinggi serta area yang sulit dijangkau oleh layanan kesehatan.
Penelitian ini menganalisis pola deteksi antibodi dan antigen HIV pada 131 pasien HIV dan 131 individu sehat di Indonesia dengan menggunakan rapid test antibodi dan ELISA p24 untuk deteksi antigen spesifik HIV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deteksi antibodi HIV melalui rapid test memiliki performa yang jauh lebih tinggi dibandingkan deteksi antigen, dengan sensitivitas sebesar 97,7% dan spesifisitas mencapai 100%. Hampir seluruh pasien HIV memberikan hasil reaktif terhadap antibodi spesifik HIV, sedangkan tidak satu pun individu sehat menunjukkan reaktivitas terhadap antibodi tersebut. Sebaliknya, deteksi antigen p24 hanya menunjukkan positivitas sebesar 25,2% pada kelompok pasien HIV yang telah terkonfirmasi reaktif melalui rapid test antibodi dan positif HIV berdasarkan pemeriksaan PCR. Selain itu, 3,1% individu sehat juga menunjukkan hasil positif antigen p24, namun hasil PCR-nya negatif, sehingga mengindikasikan kemungkinan false positive, terutama pada fase awal serokonversi.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa hasil deteksi antibodi tidak dipengaruhi oleh faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, atau status pernikahan, serta tidak berkaitan dengan penggunaan ARV maupun durasi terapi. Sebaliknya, deteksi antigen p24 sangat dipengaruhi oleh faktor klinis, terutama penggunaan ARV dan durasi pengobatan. Antigen lebih sering ditemukan pada pasien yang terinfeksi melalui jalur seksual dan terutama pada mereka yang menjalani terapi ARV kurang dari 3 bulan. Tidak ada pasien yang menggunakan ARV lebih dari 3 bulan yang masih menunjukkan antigen positif, yang sejalan dengan pemahaman bahwa ARV menurunkan kadar antigen seiring penurunan viral load. Hasil ini juga menunjukkan bahwa penggunaan ELISA antigen pada individu sehat dapat menghasilkan false positive, terutama pada populasi dengan prevalensi HIV rendah.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa antibodi merupakan indikator yang lebih stabil dan andal untuk mendeteksi infeksi HIV, karena tetap terdeteksi hampir pada seluruh pasien terinfeksi, termasuk mereka yang menjalani pengobatan ARV. Sebaliknya, antigen p24 sangat bergantung pada fase infeksi dan status terapi, sehingga tidak ideal digunakan sebagai metode skrining tunggal di tingkat populasi. Walaupun antigen penting untuk mengidentifikasi infeksi fase awal sebelum antibodi terbentuk, temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa sensitivitasnya di kelompok pasien HIV Indonesia relatif rendah. Oleh karena itu, strategi skrining berbasis rapid test antibodi masih menjadi pilihan yang paling praktis dan efektif di Indonesia, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas laboratorium.
Sebagai kesimpulan, penelitian ini menegaskan bahwa faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan status perkawinan memiliki hubungan dengan status HIV, tetapi antibodi HIV tetap menjadi indikator yang paling kuat dan konsisten untuk skrining dan diagnosis awal. Antigen p24 memiliki peran terbatas dan perlu interpretasi hati-hati karena sensitivitas rendah serta potensi false positive. Kombinasi keduanya dapat memberikan gambaran fase infeksi, namun rapid antibodi tetap menjadi alat skrining yang paling relevan untuk digunakan secara luas di Indonesia.
Penulis: Dr. Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Khairunisa SQ, Yamani LN, indriati DW, et al. (2025). Dual antibody and antigen tests for HIV detection among Indonesians. Acta Biomedica. 96(5):17237. Available oline at Dual antibody and antigen tests for HIV detection among Indonesians | Acta Biomedica Atenei Parmensis





