Masalah kesuburan masih menjadi tantangan bagi banyak pasangan. Dalam banyak kasus, faktor pria memegang peran yang sama pentingnya dengan faktor perempuan. Salah satu pemeriksaan yang semakin sering digunakan untuk menilai kesuburan pria adalah pemeriksaan fragmentasi DNA sperma, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui kondisi materi genetik yang dibawa oleh sperma.
Pemeriksaan ini belum tersedia di semua fasilitas kesehatan di Indonesia. Banyak klinik dan rumah sakit masih harus mengirimkan sampel semen ke laboratorium rujukan. Kondisi tersebut kerap menimbulkan kekhawatiran bahwa penyimpanan dan pengiriman sampel semen dapat memengaruhi kualitas DNA sperma dan berdampak pada hasil pemeriksaan.
DNA sperma memiliki peran penting dalam proses pembuahan dan perkembangan embrio. Kerusakan pada DNA sperma diketahui berkaitan dengan rendahnya keberhasilan kehamilan, meningkatnya risiko keguguran, serta gangguan perkembangan embrio. Berbeda dengan pemeriksaan sperma rutin, kerusakan DNA sperma sering kali tidak terlihat dari jumlah, bentuk, atau pergerakan sperma yang tampak normal.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keamanan penyimpanan sampel semen. Penelitian ini melibatkan pria usia 20–35 tahun dengan kualitas sperma normal dan menilai apakah suhu serta lama penyimpanan memengaruhi tingkat kerusakan DNA sperma.
Sampel semen dianalisis dalam beberapa kondisi. Sebagian diperiksa segera setelah dikeluarkan, sementara sampel lainnya disimpan dalam suhu dingin menggunakan cool box selama beberapa jam, serta dibekukan dalam freezer selama beberapa hari hingga satu minggu. Seluruh sampel kemudian diperiksa menggunakan metode laboratorium untuk menilai fragmentasi DNA sperma.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan DNA sperma relatif sama pada seluruh kondisi penyimpanan yang diuji. Tidak ditemukan peningkatan fragmentasi DNA sperma pada sampel yang disimpan dalam suhu dingin maupun pada sampel yang dibekukan hingga tujuh hari. Temuan ini menunjukkan bahwa DNA sperma memiliki stabilitas yang baik selama suhu penyimpanan dijaga dengan tepat.
Temuan ini memiliki dampak penting bagi pelayanan kesehatan reproduksi pria. Klinik atau rumah sakit yang belum memiliki fasilitas pemeriksaan DNA sperma dapat tetap mengirimkan sampel semen ke laboratorium rujukan tanpa kekhawatiran berlebihan terhadap penurunan kualitas hasil pemeriksaan. Penggunaan cool box untuk pengiriman jarak dekat maupun freezer standar untuk penyimpanan sementara terbukti cukup aman.
Dengan pendekatan yang sederhana dan realistis ini, akses pemeriksaan lanjutan infertilitas pria dapat menjadi lebih luas dan merata. Pasangan yang menjalani evaluasi kesuburan juga memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pemeriksaan yang komprehensif, meskipun berada di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sarana.
Penelitian ini menegaskan bahwa penyimpanan sampel semen dengan pengaturan suhu yang tepat tidak merusak DNA sperma. Temuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan tenaga kesehatan dalam proses pengiriman dan penyimpanan sampel semen, sekaligus mendukung pemerataan layanan kesehatan reproduksi pria di Indonesia.
Penulis: Ninik Darsini, dr., M.Biomed.





