Jumlah susu yang dikonsumsi setiap tahunnya oleh masyarakat Indonesia meningkat karena meningkatnya kesadaran akan konsumsi susu untuk manfaat kesehatannya. Susu memiliki manfaat kesehatan karena merupakan sumber kalsium untuk mengembangkan gigi dan tulang dan membantu orang membangun kekebalan tubuh. Hasil bergizi susu dapat dipengaruhi oleh pengelolaan kesehatan untuk memproduksi susu sapi. Memelihara ternak sehat sangat penting ketika beternak sapi perah karena dapat menghasilkan yang terbaik ketika sehat. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan ketika itu kesehatan sapi mulai dari masalah penyakit, pengobatan, dan pencegahan.
Salah satu bakteri berbahaya yang dapat mencemari susu dan berpotensi menyebabkan penyakit adalah Staphylococcus aureus. Selama itu ditangani dengan tidak tepat, susu terkontaminasi dengan bakteri berbahaya dapat dengan mudah terinfeksi kapan saja dan di mana saja. Beberapa faktor risiko kontaminasi bakteri meliputi tangan kotor petani saat memerah susu, peralatan susu kurang higienis, tidak bersih lingkungan kandang sapi, tempat pembuangan kotoran terdekat, dan jarak antara kandang sapi ke sumur. Selama memerah susu dan pengolahan, kontaminasi S. aureus pada susu dimungkinkan. Pada sapi perah, bakteri S. aureus kontaminasi dapat mengakibatkan iritasi ambing atau mastitis, menurunkan produksi dan kualitas susu.
Kontaminasi S. aureus sering tidak mengakibatkan perubahan fisik pada susu, itu jelas berbahaya karena konsumen tidak dapat mendeteksi keberadaannya. Salah satu masyarakat di Kabupaten Kediri di desa Medowo yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai peternak sapi perah. Desa Medowo menghasilkan 11.500 liter susu setiap bulan.
Resistensi bakteri telah berkembang karena Indonesia penggunaan antibiotik yang ekstensif oleh peternakan sapi perah. Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol cenderung membuat mikroorganisme yang sebelumnya rentan menjadi lebih resisten. Peternak sapi perah di Kediri sering mempraktikkan penggunaan antibiotik berdasarkan pengalaman dalam pengobatan sendiri. Kurangnya pemahaman peternak meningkat kemungkinan masalah baru dan pembentukan multidrug-resistant (MDR) pada kuman S. aureus. Selain itu, belum ada penelitian khusus yang dilakukan menjelaskan prevalensi resistensi S. aureus yang ditemukan di sapi perah di Kediri, khususnya di Desa Medowo. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki keragaman dan prevalensi Staphylococcus aureus dengan mengisolasi dari susu sapi perah di Kediri, khususnya di Desa Medowo, dan resistensi antibiotiknya.
Munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotic bertepatan dengan meningkatnya prevalensi obat-obatan antimikroba dan pengenalan obat baru. Kegagalan antibiotik untuk melawan bakteri ini dikenal sebagai resistensi antibiotik. Perubahan atau pertukaran plasmid antar anggota dari spesies bakteri yang sama memberi kuman kemampuan terhadap kelangsungan hidup bakteri. Metode uji difusi cakram adalah paling sering digunakan untuk menentukan status sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.
Hasil tes sensitivitas antibiotik digunakan untuk membuat profil resistensi antibiotik yang berfungsi sebagai data ilmiah untuk pengendalian infeksi. Data aktif profil resistensi antibiotik juga dapat digunakan untuk melacak prevalensi resistensi antibiotik di berbagai organisme dan lokasi geografis.
Banyak faktor yang menyebabkan berkembangnya resistensi antibiotik pada mikroorganisme, termasuk penggunaan yang tidak tepat (irasional) dan prevalensi pengobatan mandiri yang dilakukan masyarakat. Juga memberikan kontribusi adalah kenaikan dalam biaya perawatan kesehatan yang tidak perlu, pemerintah lalai pengawasan distribusi antibiotik, dan ketiadaan penelitian ahli akan menemukan antibiotik baru. Meskipun S. aureus secara alami rentan terhadap antibiotik, juga memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menjadi resisten terhadap hampir setiap antimikroba yang terungkap. Penularan membuat adanya S. aureus yang resisten terhadap antibiotik dalam susu berbahaya bagi sektor kesehatan masyarakat.
Ekspresi gen resistensi laten, gen dengan penentu resistensi atau mutasi genetik, adalah yang utama untuk koloni bakteri bertahan hidup. Selain itu, kromosom mengkodekan sebagian besar informasi bakteri, resistensi multidrug pada bakteri berkembang karena mutasi multistep yang secara bertahap meningkat resistensinya.
Penggunaan antibiotik biasanya meningkat sebagai respons terhadap peningkatan prevalensi penyakit pada sapi, yang bisa menyebabkan tingkat residu antibiotik yang lebih tinggi dalam susu dan kemungkinan tingkat resistensi bakteri yang lebih tinggi terhadap antibiotik. S. aureus resisten terhadap obat-obatan dapat menyebar melalui beberapa faktor risiko, termasuk sapi ambing, tubuh sapi, debu di udara, pemerahan yang tidak sehat peralatan, dan manusia yang kurang aseptis saat pemerahan. Studi ini mengungkapkan bahwa S. aureus adalah multidrug-resistant, dan penggunaan yang rasional dan bijaksana antibiotik diperlukan. Selain itu, ada risiko memperoleh resistensi antibiotik saat menggunakan antibiotik spektrum luas dan penerapan yang tidak tepat teknik pengobatan.
Kesimpulannya, menurut temuan ini investigasi, ditemukan 23 S. aureus yang resistan terhadap berbagai obat (MDR). Isolat tersebut ditemukan di beberapa peternakan sapi perah di desa Medowo, Kabupaten Kediri. Penelitian tambahan tentang resistensi bakteri di peternakan sapi perah di Kabupaten Kediri sangat mendesak untuk menghentikan terjadinya penyakit manusia yang disebabkan oleh bakteri dari sususapi perah atau penyakit bawaan susu. Selanjutnya, metode untuk menggunakan antibiotik secara bijaksana dan efektif diperlukan untuk mengelola infeksi yang disebabkan oleh S. aureus yang resistan terhadap berbagai obat.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Putra GDS, Khairullah AR, Effendi MH, Lazuardi M, Kurniawan SC, Afnani DA, Silaen OSM, Waruwu YKK, Millannia SK, Widodo A, Ramadhani S, Farizqi MTI, Riwu KHP. 2023. Detection of multidrug-resistant (MDR) Staphylococcus aureus isolated from dairies milk in Medowo Village of Kediri District, Indonesia. Biodiversitas 24: 423-430.
DOI: 10.13057/biodiv/d240149





