Layanan kesehatan mental telah mengalami pergeseran paradigma dari model perawatan institusional perawatan yang dilakukan di masyarakat. Dia memungkinkan pasien untuk lebih dekat dengan komunitas mereka dengan tujuan berfokus pada pemberdayaan, keterlibatan dan pemulihan. Sebagai tambahan, kepedulian masyarakat dapat membantu lebih berkembang perawatan terpadu, mengurangi waktu rawat inap dan meningkatkan fokus pada kebutuhan pasien. Namun, ada kendala yang terjadi yaitu terbatasnya jumlah tenaga kesehatan jiwa, yang dapat menciptakan masalah kritis dalam penyediaan perawatan yang dapat diakses untuk orang dengan penyakit mental.
Petugas kesehatan masyarakat atau biasa disebut Kader adalah anggota masyarakat yang berasal dari lingkungan pasien yang pernah dilatih untuk memberikan dukungan pendidikan, dan koordinator perawatan pasien. Kehadiran kader kesehatan dapat melengkapi tenaga kesehatan yang memiliki beban tinggi dan mungkin menjadi kunci untuk meningkatkan ketersediaan dan akses kebutuhan dasar pelayanan kesehatan khususnya di daerah yang sulit dijangkau, sehingga dapat menjembatani kesehatan kesenjangan kesetaraan. Kader kesehatan menerima mental pelatihan kesehatan sesuai dengan tugasnya dan fungsi. Selain itu juga kader kesehatan memiliki peran dalam deteksi dini orang dengan gangguan jiwa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kader kesehatan dalam deteksi dini gangguan jiwa dipengaruhi oleh sikap (p<.05), pengalaman (p<.05), motivasi (p<.05), kompensasi (p<.05) , I dan manfaat tindakan (p <.05). Kader harus selalu mengembangkan kemampuannya dalam deteksi dini gangguan jiwa. Puskesmas I diharapkan selalu mendukung kader kesehatan dalam pelaksanaan deteksi dini gangguan jiwa.
Penulis: Arifal Aris, Ah. Yusuf, Rizki Fitryasari, Siti Solikhah, Suhariyati, Abdul Rokhman, Virgianti Nur Faridah





