Universitas Airlangga Official Website

Di Balik Air Minum Dalam Kemasan: Menakar Risiko BPA dalam Tegukan Air Harian

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Siapa di antara kita yang tidak pernah minum air dari botol plastik atau galon? Di tengah mobilitas yang tinggi, Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) telah menjadi penyelamat dahaga praktis bagi jutaan masyarakat Indonesia setiap harinya. Namun, di balik kepraktisan tersebut, terselip sebuah perbincangan hangat yang sering membuat kita khawatir, yaitu Bisphenol A atau BPA.

Bisphenol A atau BPA adalah zat kimia yang kerap digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat jenis plastik keras yang biasanya digunakan untuk wadah makanan dan botol minum. Isu bahwa zat ini bisa luruh ke dalam air dan mengganggu kesehatan sering kali memicu kepanikan. Lalu, bagaimana fakta sebenarnya di lapangan?

Untuk menjawab keresahan ini, tim peneliti dari Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, melakukan sebuah riset langsung di kawasan Tambak Wedi, Surabaya. Mereka menguji 10 merek air minum kemasan yang beredar di pasaran dan memeriksa dampaknya langsung pada 96 warga setempat. Hasil uji laboratorium menggunakan metode sensitif tingkat tinggi (GC-MS) menunjukkan bahwa seluruh merek air minum yang diuji masih berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia maupun otoritas keamanan pangan Eropa (EFSA).

Dari 10 merek yang diteliti, tim menemukan variasi kandungan BPA yang sangat tipis. Merek ‘A’ mencatatkan angka tertinggi sebesar 0,099 mg/L, sementara merek ‘G’ memiliki kandungan terendah yaitu 0,082 mg/L. Meski ada yang lebih tinggi, angka-angka ini masih jauh dari kategori berbahaya untuk dikonsumsi harian.

Bagaimana dengan Risiko Kesehatannya?

Melalui analisis risiko kesehatan lingkungan, para peneliti menghitung potensi bahaya jangka panjang, baik risiko non-kanker maupun risiko kanker. Kabar baiknya, indeks risiko menunjukkan angka yang sangat rendah (jauh di bawah ambang batas bahaya).

Penelitian ini juga mengaitkan pola konsumsi warga dengan keluhan kesehatan mereka. Hasilnya, konsumsi air kemasan ini tidak menunjukkan adanya hubungan yang memicu gangguan hormon berat, gangguan reproduksi, ataupun kanker pada warga setempat.

Namun, ada satu temuan menarik yang memerlukan perhatian: peneliti menemukan adanya hubungan positif yang tergolong lemah antara paparan air kemasan dengan keluhan sensitivitas imun atau alergi ringan pada tubuh. Walaupun hubungannya lemah, hal ini menjadi pengingat bahwa tubuh kita tetap merespons keberadaan zat asing tersebut. Tubuh kita adalah sistem yang sangat peka, dan temuan tentang respons imun tadi adalah “alarm kecil” yang mengingatkan kita untuk tidak meremehkan apa yang masuk ke dalam tubuh. Kabar baiknya, kita tidak perlu panik secara berlebihan karena air kemasan di sekitar kita saat ini terbukti ilmiah masih aman. Kuncinya kini ada di tangan kita sebagai konsumen: mulailah lebih bijak dalam menyimpan dan memperlakukan botol plastik, atau beralihlah ke wadah ramah lingkungan (BPA-free) jika memungkinkan. Ingat, sehat itu dimulai dari kebiasaan kecil kita hari ini!

Penulis: Sudarmaji, SKM., M.Kes

Artikel ini disadur dari penelitian ilmiah berjudul “Assessment of bisphenol A in bottled drinking water and its environmental health risk implications” yang dipublikasikan pada jurnal AIMS Environmental Science (2025) 10.3934/environsci.2025046.