Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Selain berdampak pada metabolisme gula darah, diabetes juga berperan besar dalam terjadinya berbagai komplikasi jangka panjang. Salah satu komplikasi yang paling sering dan paling serius adalah Penyakit Ginjal Kronis (PGK).
PGK adalah kondisi penurunan fungsi ginjal yang berlangsung perlahan dan menetap selama minimal tiga bulan. Pada tahap lanjut, kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal yang memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi. Secara global, diabetes melitus telah diakui sebagai penyebab utama PGK, terutama di negara berkembang dan negara dengan jumlah penderita diabetes yang tinggi.
Proses Terjadinya Kerusakan Ginjal akibat Diabetes
Ginjal memiliki fungsi utama menyaring darah untuk membuang sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh. Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang tinggi secara kronis menyebabkan perubahan pada pembuluh darah kecil di ginjal serta sel-sel penyusun unit penyaringan ginjal (glomerulus).
Pada tahap awal diabetes, ginjal mengalami peningkatan kerja yang dikenal sebagai hiperfiltrasi, yaitu kondisi ketika ginjal menyaring darah dalam jumlah yang lebih besar dari normal. Keadaan ini sering kali tidak menimbulkan keluhan dan bahkan dapat berlangsung selama beberapa tahun. Namun, hiperfiltrasi yang berlangsung lama justru mempercepat kerusakan struktur ginjal.
Gula darah tinggi juga memicu proses peradangan, stres oksidatif, dan aktivasi jalur biologis yang menyebabkan kematian sel ginjal serta penumpukan jaringan ikat yang mengakibatkan struktur ginjal menjadi lebih kaku dan kemampuan penyaringan darah menurun secara bertahap. Proses inilah yang mendasari terjadinya PGK pada penderita diabetes.
Faktor Risiko yang Mempercepat Kerusakan Ginjal
Tidak semua penderita diabetes akan mengalami PGK, tetapi risikonya meningkat bila terdapat faktor tambahan. Durasi diabetes yang panjang merupakan salah satu faktor terpenting, karena paparan gula darah tinggi yang berlangsung lama meningkatkan akumulasi kerusakan jaringan.
Tekanan darah tinggi juga berperan besar dalam mempercepat penurunan fungsi ginjal. Tekanan darah yang tidak terkontrol meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah ginjal dan memperberat kerusakan yang telah dipicu oleh diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi diabetes dan hipertensi memberikan risiko yang jauh lebih besar dibandingkan salah satu kondisi saja.
Faktor lain yang turut berkontribusi antara lain kadar gula darah yang tidak stabil, obesitas, gangguan profil lemak darah, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta faktor genetik atau riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.
Manifestasi Klinis yang Sering Tidak Disadari
Salah satu karakteristik PGK akibat diabetes adalah perkembangannya yanglambat dan minim gejala pada tahap awal. Banyak penderita tidak merasakan keluhan apa pun meskipun proses kerusakan ginjal sudah berlangsung.
Tanda paling awal biasanya adalah munculnya albumin dalam urine, yang hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. Seiring berjalannya waktu, fungsi ginjal menurun dan dapat disertai penurunan laju filtrasi ginjal. Pada tahap yang lebih lanjut, barulah muncul gejala klinis seperti pembengkakan pada tungkai, kelelahan akibat anemia, gangguan keseimbangan cairan, serta perubahan kadar elektrolit dalam darah. Oleh karena gejala sering muncul terlambat, pemeriksaan rutin fungsi ginjal menjadi sangat penting bagi penderita diabetes, bahkan ketika tidak ada keluhan yang dirasakan.
Upaya Pencegahan dan Pengelolaan
PGK pada diabetes dapat dicegah atau diperlambat melalui pendekatan yang komprehensif. Pengendalian kadar gula darah secara konsisten merupakan langkah utama untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut. Selain itu, pengelolaan tekanan darah dan kadar lemak darah juga berperan penting dalam menjaga kesehatan ginjal.
Pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin, meliputi pemeriksaan urine dan darah, dianjurkan dilakukan secara berkala untuk mendeteksi perubahan sejak dini. Deteksi dini memungkinkan intervensi dilakukan sebelum kerusakan menjadi berat.
Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dari pencegahan. Menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengatur pola makan yang seimbang, membatasi asupan garam, serta menghentikan kebiasaan merokok terbukti mendukung perlindungan fungsi ginjal.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan terapi diabetes menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tersedia obat-obatan yang tidak hanya menurunkan kadar gula darah, tetapi juga memiliki efek protektif terhadap ginjal dan sistem kardiovaskular. Penggunaan obat-obatan ini, sesuai dengan indikasi medis, dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal.
Kesimpulan
Diabetes melitus merupakan faktor utama dalam terjadinya PGK melalui berbagai mekanisme yang melibatkan perubahan metabolik, peradangan, dan kerusakan struktural ginjal. Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga pemeriksaan rutin menjadi kunci deteksi dini.
Resiko dan laju progresivitas PGK pada penderita diabetes dapat ditekan melalui pengelolaan gula darah dan tekanan darah yang baik, penerapan gaya hidup sehat, serta pemanfaatan terapi yang tepat. Pendekatan yang terencana dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga fungsi ginjal dan kualitas hidup jangka panjang.
Penulis: I Ketut Ngurah Sajjana Kirthana Pamecut, Hayuris Kinandita Setiawan, Satriyo Dwi Suryantoro, Eka Arum Cahyaning Putri
Informasi detail dari review artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.ijscia.com/the-role-of-diabetes-mellitus-in-the-development-of-chronic-kidney-disease-a-review/
Pamecut, I. K. N. S. K., Setiawan, H. K., Suryantoro, S. D., Putri, E. A. C. (2025). The Role of Diabetes Mellitus in the Development of Chronic Kidney Disease: A Review. International Journal of Scientific Advances (IJSCIA), Volume 6| Issue 6: Nov – Dec 2025, Pages 1089-1094 URL: https://www.ijscia.com/wp-content/uploads/2025/11/Volume6-Issue6-Nov-Dec-No.978-1089-1094.pdf





