Universitas Airlangga Official Website

Keterampilan CPR: Solusi Darurat untuk Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Henti jantung mendadak adalah keadaan darurat kritis yang perlu intervensi segera untuk mencegah kematian. Salah satunya adalah dengan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). CPR adalah prosedur penyelamatan nyawa dalam kondisi darurat saat pernapasan atau detak jantung seseorang terhenti, contoh kasusnya seseorang terkena serangan jantung, hampir tenggelam dan kecelakaan. Ada banyak orang meninggal terkena serangan jantung mendadak padahal ada orang di sekitar yang sebenarnya bisa menolong dnegan melakukan CPR. Namun hal ini tidak dilakukan oleh orang di sekitar penderita. Kenapa? Karena di masayarkat kita, masih banyak orang yang kecenderungan tidak percaya diri untuk  melakukan CPR.  

Individu dengan keterampilan CPR secara alami memiliki rasa urgensi yang tinggi dalam situasi untuk menyelamatkan nyawa. Adanya hambatan, seperti takut menyebabkan bahaya atau takut dihukum bisa menghalangi individu untuk campur tangan untuk melakukan resusitasi saat keadaan kritis. Efikasi diri atau kepercayaan diri serta keterampilan CPR memainkan peran penting dalam tindakan CPR segera saat ada orang sekitar mengalami henti jantung.

Maka diperlukan program pelatihan yang meningkatkan efikasi diri serta meningkatkan kemauan dan terampil melakukan CPR. Konstruksi melalui pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan kesiapan publik untuk menanggapi keadaan darurat jantung dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi niat untuk CPR, seperti sosial dan budaya, lingkungan, pengalaman pribadi, pendidikan, faktor demografis seperti usia dan jenis kelamin, dan kebijakan dan aksesibilitas.

Penelitian menunjukkan bahwa norma sosial dan dukungan masyarakat dapat meningkatkan kemauan untuk tampil CPR. Misalnya, program pelatihan berbasis komunitas yang mendorong interaksi sosial meningkatkan partisipasi dalam pelatihan CPR dan kesediaan untuk bertindak dalam keadaan darurat. Individu dengan pelatihan CPR sebelumnya lebih mungkin untuk bertindak dalam keadaan darurat. Demikian pula, individu dengan pengalaman darurat sebelumnya lebih mungkin untuk segera memberikan pertolongan.

Faktor demografis seperti usia dan jenis kelamin juga mempengaruhi Niat CPR. Individu yang lebih muda lebih mungkin melakukan CPR daripada individu yang lebih tua, sebagian karena

perbedaan dalam pelatihan. Akhirnya, Faktor kebijakan dan aksesibilitas memainkan peran penting. Program pelatihan CPR yang dapat diakses dan terjangkau meningkat partisipasi publik dan kesiapan untuk bertindak.  Individu yang menerima pelatihan CPR terbukti kepercayaan diri mereka meningkat dan memiliki kemampuan untuk melakukan prosedur, secara positif dan memengaruhi kesediaan mereka untuk bertindak.

Norma subjektif, yang melibatkan pengaruh sosial, juga merupakan unsur penting. Studi mengungkapkan bahwa individu lebih cenderung melakukan CPR ketika mereka percaya rekan-rekan mereka, keluarga, atau kolega mendukung tindakan tersebut. Kontrol perilaku yang dirasakan, atau kepercayaan pada kemampuan CPR seseorang, adalah faktor kunci lainnya. Individu dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi lebih mungkin untuk bertindak

keadaan darurat. Ini menggarisbawahi pentingnya pelatihan yang efektif untuk meningkatkan kontrol yang dirasakan dan ketrampilan CPR.

Penulis: Dr. Sri Widati.,S.Sos.,M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/jphp/article/view/6700

Sri Widati, Abdurahman Wahid, Dina Septiany, Sri Widati, Sri Haryuni, Nurma Afiani, Novita Ana Anggraini (2026). Comparative Analysis of Behavioral Theories in Promoting CPR: A Theory-Based Approach to Cardiopulmonary Resuscitation Training in Community

Journal of Public Health and PhaJurnal Penelitian Pendidikan IPA. Vol. 11 No. 12 Desember Tahun 2025

DOI : 10.29303/jppipa.v11i12.13502