Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi peningkatan jumlah penyandang diabetes melitus yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Prevalensi diabetes menjadi 8,6% di tahun 2014. Di Indonesia, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15 tahun meningkat dari 1,5% di tahun 2013 menjadi 2% pada tahun 2018.
Penyandang diabetes melitus berisiko mengalamo komplikasi penyakit kronis. Maka dari itu, penyandang diabetes melitus perlu mengendalikan kadar gula darah. Salah satu bentuk pengelolaan diabetes melitus adalah dengan menjaga pola makan. Pola makan yang disarankan untuk penderita diabetes seperti rendah lemak dan tinggi serat dapat ditemukan pada prinsip diet vegetarian.
Diet vegetarian sendiri adalah diet yang tidak mengonsumsi daging (termasuk unggas) atau makanan laut, atau juga produk yang mengandung jenis makanan ini. Saat ini gaya hidup vegetarian terus meningkat karena memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, seperti mencegah penyakit jantung koroner, mengontrol berat badan, dan menjaga kestabilan darah yaitu tensi dan gula darah. Banyak penelitian internasional menunjukkan diet vegetarian dapat digunakan untuk pencegahan diabetes. Diet vegetarian juga terbukti berkaitan dengan kontrol glukosa darah dibandingkan dengan diet non-vegetarian.
Beberapa studi eksperimental menunjukkan bahwa diet vegetarian dapat bermanfaat untuk membantu kontrol gula darah pada pasien diabetes melitus, namun belum ada penelitian sebelumnya yang menggunakan metode case control terhadap variabel gula darah terkontrol dan tidak terkontrol pada vegetarian. Di Indonesia, sebagian besar studi terkait diet vegetarian dan diabetes melitus merupakan studi cross-sectional. Studi terakhir dilakukan pada tahun 2018 yang mungkin tidak mewakili asupan gula yang sebenarnya pada populasi karena jumlah populasi yang kurang. Mengembangkan penelitian dengan metode case-control perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan diet vegetarian dan kontrol gula darah pada pasien diabetes melitus. Dengan demikian, dapat diketahui diet vegetarian atau diet non-vegetarian yang lebih baik dalam menjaga kontrol kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2.
Metode dan Hasil
Salah satu organisasi vegetarian terbesar di Indonesia, Indonesia Vegetarian Society (IVS), rutin mengadakan kegiatan untuk meningkatkan awareness gaya hidup vegetarian. Kegiatan yang dilakukan seperti Vegan Festival memfasilitasi medical checkup gratis dan seminar, dimana peserta dibuka umum untuk vegetarian dan non-vegetarian.
Penelitian kami dilakukan secara daring dengan broadcast pesan kepada peserta medical checkup dari kegiatan Vegan Festival tersebut. Dari 46 orang pasien diabetes melitus yang terdaftar, didapatkan populasi kasus yaitu pasien dengan gula darah tidak terkontrol (24 orang), dan populasi kontrol yaitu pasien dengan gula darah terkontrol (22 orang). Responden kemudian dihubungi secara online atau door-to-door untuk kemudian mengisi kuesioner. Kuesioner berisi data umum karakteristik, asupan makan dengan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), kuisioner Morisky Scale 8-item dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Hasil pengukuran gula darah diobservasi dengan hasil lab pengukuran gula darah puasa dalam 6 bulan terakhir. Setelah data responden didapatkan, data tersebut kemudian dianalisis dengan aplikasi SPSS.
Dalam penelitian ini, diet vegetarian terbukti dapat membantu mengontrol gula darah pada pasien diabetes melitus. Penelitian kami menunjukkan hubungan yang signifikan antara perilaku diet vegetarian dengan tingkat kontrol gula darah puasa, dimana responden dengan diet nonvegetarian memiliki risiko gula darah tidak terkontrol enam kali lebih besar daripada yang menjalankan diet vegetarian. Dengan mengetahui hubungan diet vegetarian dan kontrol gula darah pada diabetes melitus tipe 2, dapat menjadi landasan untuk melakukan terapi diet tinggi serat untuk pasien diabetes melitus tipe 2 dalam mengontrol gula darah dan mencegah komplikasi penyakit kronis.
Penulis: Adisty Pavitasari, Farapti Farapti, Qonita A Rachmah, Chinnappan A Kalpana
Artikel dapat ditemukan pada link berikut:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35950253/
DOI: https://doi.org/10.2174/1573399819666220810164637
Penulis Artikel Populer: Adisty Pavitasari





