Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang paling sering dialami perempuan dan pengobatannya sering melibatkan terapi sistemik seperti kemoterapi, terapi target, maupun terapi hormonal. Walaupun terapi ini dapat meningkatkan harapan hidup, pengobatan juga dapat memengaruhi sel-sel darah dan sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan berbagai efek samping. Penelitian ini dilakukan secara prospektif pada 106 perempuan penderita kanker payudara di dua rumah sakit rujukan di Indonesia. Pemeriksaan darah dilakukan sebelum terapi dimulai, satu minggu setelah terapi, dan tiga minggu setelah terapi. Selain itu, pasien juga mengisi kuesioner kualitas hidup dan gejala yang menilai keluhan seperti kelelahan, nyeri, mual, gangguan tidur, diare, dan penurunan nafsu makan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien datang dengan kanker stadium lanjut dan menjalani berbagai jenis terapi sistemik. Pada minggu pertama setelah pengobatan, terjadi penurunan tajam jumlah sel darah putih, terutama neutrofil yang berperan penting melawan infeksi. Kondisi ini menunjukkan adanya penekanan sementara pada sumsum tulang akibat terapi kanker. Namun, pada minggu ketiga, sebagian besar jumlah sel darah mulai membaik kembali. Sebaliknya, anemia atau penurunan kadar hemoglobin justru menjadi semakin sering ditemukan selama pengobatan berlangsung. Penelitian ini juga mengevaluasi beberapa penanda peradangan tubuh yang dihitung dari pemeriksaan darah rutin, seperti neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), platelet-to-lymphocyte ratio (PLR), monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), dan pan-immune-inflammation value (PIV).
Penanda-penanda ini berubah secara bermakna selama terapi dan mencerminkan perubahan sistem imun serta respons tubuh terhadap pengobatan kanker. Salah satu temuan penting adalah nilai MLR yang lebih tinggi pada pasien yang tidak bertahan hidup selama periode penelitian, sehingga penanda ini berpotensi digunakan sebagai indikator prognosis dini. Hubungan antara hasil laboratorium dan gejala yang dirasakan pasien umumnya bersifat lemah hingga sedang. Jumlah sel darah putih dan neutrofil yang rendah berhubungan dengan keluhan kelelahan dan diare yang lebih berat. Namun, sebagian besar parameter darah tidak selalu mencerminkan secara langsung bagaimana kondisi pasien dirasakan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa evaluasi pasien kanker sebaiknya tidak hanya mengandalkan pemeriksaan laboratorium, tetapi juga mempertimbangkan keluhan dan kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pemantauan dini terhadap perubahan darah dan kondisi klinis pasien selama siklus awal terapi kanker payudara agar efek samping dapat dikenali dan ditangani lebih cepat.
Penulis:
dr. Henry Sutanto
dr. Merlyna Savitri, Sp.PD, K-HOM, FINASIM
dr. Een Hendarsih, Sp.PD, K-HOM, FINASIM
Prof. Dr. Ami Ashariati, dr., Sp.PD, K-HOM, FINASIM
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14796694.2026.2656388





