Universitas Airlangga Official Website

DNA Lokus Amelogenin pada Tusuk Gigi sebagai Bukti Forensik untuk Penentuan Jenis Kelamin

Deoxyribonucleic Acid (DNA) umumnya digunakan untuk menyelesaikan kasus kejahatan. Ketika terduga pelaku diidentifikasi sampel DNAnya, maka DNA dari orang tersebut dapat dibandingkan dengan bukti DNA pada TKP. Hasil perbandingan ini dapat membantu dalam menentukan apakah tersangka melakukan kejahatan atau tidak. Dalam kasus di mana tersangka belum diidentifikasi, bukti biologis dari TKP dapat dianalisis dan dibandingkan dengan profil pelaku dalam database DNA untuk membantu mengidentifikasi pelaku. Bukti TKP juga dapat dikaitkan dengan TKP lain melalui penggunaan basis data DNA. Pemeriksaan DNA forensik untuk penentuan jenis kelamin seringkali diperlukan dalam identifikasi korban bencana, penyelidikan orang hilang, dan kasus kekerasan seksual. Analisis urutan target spesifik Y pada kromosom Y merupakan metode yang efektif untuk penentuan jenis kelamin dan memperkirakan rasio DNA pria dan wanita dalam sampel forensik campuran.

Pada kasus-kasus forensik seperti bencana massal, kecelakaan transportasi, orang hilang, atau kekerasan seksual, penentuan jenis kelamin tentu sangat membantu. DNA korban dapat digunakan dengan pengambilan sampel dari berbagai sumber seperti gigi, jaringan epitel mulut, dan air liur. Amelogenin merupakan penanda jenis kelamin yang umum digunakan. Amelogenin adalah protein epitel yang gennya ditemukan pada kromosom X dan Y. Adanya variasi pada kromosom X dan Y maka sekelompok protein dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis kelamin.

Ketika melihat sebuah film bertemakan criminal, tentu kita tahu bahwa polisi harus berhati-hati dalam olah tempat kejadiaan perkara (TKP). Setiap benda yang berada pada TKP memiliki arti penting sebagai barang bukti forensik. Ini mencakup segala sesuatu yang digunakan oleh pelaku atau korban untuk terakhir kalinya, seperti pakaian, sisir, sikat gigi, tusuk gigi, siwak, juga peralatan makan. Benda yang terkena air liur telah terbukti menjadi sumber DNA yang baik untuk identifikasi forensik. Pengambilan sampel DNA dari air liur dianggap sebagai prosedur non-invasif yang kuat untuk mengumpulkan sampel baik di laboratorium maupun di lapangan.

Rongga mulut merupakan pintu utama makanan masuk ke dalam tubuh. Ketika makanan masuk ke dalam rongga mulut, gigi akan membantu melumatkan makanan sebelum akhirnya makanan ditelan. Fungsi gigi sangat berperan dalam proses pengunyahan sehingga tak jarang ada sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Adanya sisa makanan, plak gigi, dan kalkulus pada rongga mulut menunjukkan derajat kebersihan rongga mulut. Siwak dan tusuk gigi adalah alat pembersih gigi yang paling banyak digunakan. Tusuk gigi banyak digunakan di negara-negara Asia seperti China, Korea, Jepang, dan Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia juga merekomendasikan tusuk gigi sebagai salah satu pembersih gigi untuk membersihkan celah-celah gigi yang sulit dibersihkan oleh sikat gigi. Sampel DNA dari saliva dapat dengan mudah dikumpulkan dari ujung tusuk gigi yang digunakan untuk menghilangkan sisa makanan di area antar gigi.

Penentuan jenis kelamin dengan menggunakan DNA telah membuka jalan baru untuk menjelajah ilmu forensik yang makin modern. Penerapan pemeriksaan DNA menggunakan sampel air liur dalam penentuan jenis kelamin dengan metode Short Tandem Repeat (STR) dan memakai lokus amelogenin (AMG). “Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kuantitas dan kualitas DNA pada tusuk gigi sebagai alat bukti dalam penyidikan tindak pidana. Kuantitas dan kualitas DNA yang sesuai kemudian diperiksa untuk penentuan jenis kelamin melalui visualisasi elektroforesis dari lokus AMG”, terang Arofi Kurniawan,drg.,Ph.D dosen Bagian Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

Tahap awal amplifikasi PCR adalah menganalisis kemurnian dan konsentrasi DNA, dimana syarat minimal untuk kemurnian DNA adalah 1-2 (idealnya adalah 1,8 – 2). Sedangkan untuk konsentrasi DNA untuk dapat dilakukan profiling DNA adalah 20 µg/ml. Pada penelitian ini, hasil kemurnian DNA dari sampel yang ada menunjukkan 1.11 µg/ml pada grup A (Kontrol), 1.13 µg/ml pada grup B, dan 1.09 µg/ml pada grup C sehingga syarat kemurnian DNA untuk amplifikasi PCR terpenuhi. Sedangkan hasil dari konsentrasi DNA pada grup A, B, dan C adalah 425.25 µg/ml, 796.25 µg/ml, dan 531.12 µg/ml dimana dari hasil tersebut telah memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap amplifikasi PCR sehingga dapat digunakan dalam identifikasi forensik.

Gen amelogenin masing-masing menghasilkan amplikon 112 dan 116 bp dari kromosom X dan Y. Pengamatan khusus pada hasil elektroforesis diperlukan untuk membedakan letak pita X dan Y karena hanya berbeda empat bp, sehingga hanya menghasilkan pita tebal untuk laki-laki (kromosom XY) dan pita lebih tipis untuk perempuan (kromosom XX). Kekurangan dalam penelitian ini adalah melakukan penentuan jenis kelamin menggunakan metode visualisasi gel agarosa pada lokus amelogenin. Namun, jika tes amelogenin gagal menentukan jenis kelamin, metode lokus DXYS156 dapat digunakan.

Beberapa hal yang dapat peneliti simpulkan adalah penentuan jenis kelamin menggunakan DNA dapat dilakukan dengan menggunakan lokus amelogenin, suatu protein yang terdapat pada kromosom seks (X dan Y). Nilai konsentrasi DNA tusuk gigi pada penelitian ini masih dapat digunakan untuk mendukung identifikasi forensik setelah 20 hari pada suhu kamar.

Penulis: Beta Novia Rizky

Tulisan lengkap mengenai artikel ini dapat dilihat pada jurnal publikasi berikut:

THE SIGNIFICANCE OF AMELOGENIN LOCI FROM TOOTHPICKS AS THE FORENSIC EVIDENCE FOR SEX DETERMINATION

https://reader.elsevier.com/reader/sd/pii/S1658361222001494?token=2BF5E72FB3D070AA6B1518ACE0FEEBADDC45B2DCF3C6C809292B03DB8A2ECE1381556F1D22A403BFD121410C04E8CEA2&originRegion=eu-west-1&originCreation=20220926153304