Universitas Airlangga Official Website

Dosen FST Terlibat dalam SATA Jatim Award, Dorong Inovasi Data dan Digitalisasi Daerah

Dr M Fariz Fadillah Mardianto SSi MSi menyambut peserta (Foto: Koleksi Panitia)
Dr M Fariz Fadillah Mardianto SSi MSi menyambut peserta (Foto: Koleksi Panitia)

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr M Fariz Fadillah Mardianto SSi MSi dipercaya menjadi juri pada Satu Data (SATA) Jawa Timur Award 2025. Ajang bergengsi ini berlangsung pada Senin (29/9/2025) di Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi forum penting bagi pemerintah daerah di Jawa Timur untuk menampilkan inovasi pengelolaan data, tata kelola pemerintahan, serta digitalisasi layanan publik.

Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga tahap penilaian. Tahap pertama dilakukan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur sebagai wali data yang bertanggung jawab pada manajemen data. Penilaian awal ini meliputi tata kelola website hingga aspek umum.

Tahap kedua dan ketiga melibatkan Dr Fariz bersama dewan juri lainnya. Pada tahap kedua ini, terdapat audit dokumen sesuai tingkat maturitas yang masing-masing peserta pilih. Sementara tahap ketiga merupakan penyaringan akhir untuk menentukan pemenang yang nantinya akan diumumkan menjelang HUT Provinsi Jawa Timur.

Menurut Dr Fariz, banyak daerah menampilkan inovasi yang patut mendapatkan apresiasi. Inovasi tersebut bahkan sudah terwujud dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Ada yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk menyeleksi data penerima bantuan sehingga distribusi lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Juri dan Panitia SATA Jatim Award 2025 (Foto: Koleksi Panitia)
Juri dan Panitia SATA Jatim Award 2025 (Foto: Koleksi Panitia)

Selain itu, ada kota yang mengedepankan partisipasi publik lewat aplikasi Whistleblower. Aplikasi ini memberi ruang bagi masyarakat untuk melaporkan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat pemerintah. 

Ada juga daerah yang memiliki data kependudukan sangat rinci hingga tingkat RT, yang memudahkan pengambilan keputusan berbasis data. “Inovasi seperti ini sangat membantu pemerintah daerah. Data yang detail menjadikan kebijakan lebih akurat dan cepat,” tambahnya.

Meski begitu, ia menekankan masih ada tantangan besar yang harus teratasi. Salah satunya adalah kesenjangan antardaerah dalam pengelolaan data. Beberapa wilayah sudah maju, sementara lainnya tertinggal. “Masih ada masalah literasi pada pelaksana. Kadang mereka mampu, tetapi salah menafsirkan SOP yang mereka buat sendiri. Literasi data harus ditingkatkan,” tegasnya.

Untuk ke depan, ia menyarankan agar penghargaan SATA terbagi ke dalam klaster sesuai kategori daerah, hal ini akan membuat penilaian lebih adil. Keterlibatan dosen UNAIR dalam ajang ini menunjukkan peran nyata perguruan tinggi dalam mendukung transformasi digital pemerintahan. Inovasi yang lahir harapannya mampu mendorong pelayanan publik yang lebih transparan, efektif, dan berpihak pada masyarakat.

Penulis: Rizma Elyza

Editor:  Yulia Rohmawati