Universitas Airlangga Official Website

Dosen UNAIR Bedah Buku: Benarkah Akuntansi Syariah, Sudah sesuai Syariah?

Dosen Ekonomi Islam UNAIR Noven Suprayogi SE MSi Ak saat melakukan bedah buku melalui zoom meeting pada Sabtu (25/2/2023). (Foto SS)

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga melakukan bedah buku “Menyibak Akuntansi Syariah”. Buku karya dosen Akuntansi Universitas Brawijaya itu menceritakan 17 tahun perjalanan nilai tambah akuntansi syariah.  

Acara melalui zoom meeting itu mengundang penulis buku sekaligus Dr A Dedi Mulawarman dan pembedah, yakni Dosen Ekonomi Islam Universitas Airlangga Noven Suprayogi SE MSi Ak. 

Cerita perjalanan akuntansi syariah tidak luput dari cerminan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dosen Ekis yang kerap disapa Noven itu mengatakan bahwa buku tersebut mencoba membongkar secara filosofis dan teoritis berkenaan dengan akuntansi syariah.  

Ia juga mengulik bahwa akuntansi syariah yang ada adalah tidak lepas dari nilai. Akuntansi juga berbicara tentang informasi yang berisi pengambilan keputusan. Dalam upaya itu, produk akhir dari buah perjalanan akuntansi adalah laporan keuangan. 

“Jadi, titik pangkal persoalan ada di sini sebenarnya. Orang-orang yang penasaran apa perbedaan akuntansi konvensional dengan syariah pasti yang dicari adalah produk akhirnya, yaitu di laporan keuangan,” ujar Noven saat melakukan sesi bedah buku melalui zoom meeting pada Sabtu (25/2/2023).  

Perbedaan Akuntansi Konvensional dan Syariah 

Format laporan keuangan, baik umum maupun syariah, tujuan akhirnya adalah untuk pengambilan keputusan. Namun, dalam kerangka dasar akuntansi ada beberapa yang menjadi pembeda di antara keduanya. 

Meluasnya ajaran konvensional akan membentuk ajaran kapitalistik atau kepentingan untuk memperkaya diri sendiri. Hal itu diterapkan di akuntansi konvensional. 

Noven juga menjelaskan di laporan keuangan konvensional banyak pihak yang tidak terpenuhi kebutuhannya. Meskipun secara kerangka dasar, laporan keuangan pasti memberikan informasi untuk pengambilan keputusan.  

“Tapi, kalau kita baca lebih detail lagi di standar akuntansi memang arahnya lebih fokus ke salah satu pihak saja yang memiliki kepentingan terbesar, yaitu investor,” terangnya. 

Ajaran akuntansi syariah sebenarnya sudah diterapkan dulu, yakni pasca-meninggalnya Rasulullah saw. Khulafaur Rasyidin yang beranggota empat orang yang dikenal sebagai sahabat dekatnya nabi sudah melakukan pencatatan di dalam praktek ekonominya.  

Anggap saja konsep dan filosofisnya sudah berjalan dari masa ke masa. Seperti contoh penggunaan dana zakat, infaq, wakaf dan shodaqoh merupakan produk dari ajaran para khulafaur rasyidin.  

Sehingga buku itu berisi bagaimana merekontruksi akuntansi syariah yang mulanya masih berupa konsep kasar menjadi halus dan jelas kembali guna memudahkan masyarakat untuk paham ilmu tersebut. Artinya, kerangka dasar yang semula berupa Entity Theory menuju Enterprise Theory.  

Penulis: Sintya Alfafa 

Editor: Feri Fenoria