Olahraga/aktivitas fisik merupakan hal yang saat ini semakin jarang diminati oleh masyarakat dengan berbagai alasan mulai dari tidak ada waktu, jauh dari sarana olahraga, hingga kepadatan aktivitas lainnya membuat minat masyarakat terhadap olahraga menurun. Dilansir dari website resmi WHO pada Oktober 2022 lebih dari seperempat populasi orang dewasa dunia (1,4 miliar orang dewasa) tidak cukup aktif berolahraga, diseluruh dunia sekitar 1 dari 3 wanita dan 1 dari 4 pria tidak cukup melakukan aktivitas fisik untuk tetap sehat, serta poin utamanya adalah tidak ada peningkatan dalam tingkat global aktivitas fisik sejak tahun 2001.
Di Indonesia sendiri kondisi kebugaran masyarakat selama ini masih memprihatinkan. Selama hampir dua dekade sejak pengukuran SDI (Sport Development Index) nasional berturut-turut pada tahun 2004, 2005, dan 2006 dengan indeks kebugaran jasmani secara berurutan sebesar 0,540, 0,352, dan 0,355 hingga tahun 2021 sebesar 0,235 dan 2022 sebesar 0,194 tampak tidak menunjukkan adanya perkembangan yang berarti. Jika dikaitkan dengan isu kesehatan masyarakat, kebutuhan olahraga akan sangat penting untuk dipenuhi karena selain mengurangi risiko penyakit degeneratif, olahraga dengan dosis yang tepat juga membantu meningkatkan dan memeliharan kesehatan berbagai organ tubuh salah satunya adalah tulang. Tulang merupakan bagian tubuh yang memiliki peran yang sangat signifikan dan tak tergantikan sebagai penopang organ-organ lain dalam tubuh. Tulang secara sistematis akan mengganti sel tulang yang lama dengan yang sel tulang baru atau yang lebih sering dikenal dengan proses remodeling tulang.
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses remodeling tulang adalah olahraga. Berbagai dosis olahraga mulai dari frekuensi, durasi, serta intensitas memiliki efek yang berbeda pada tubuh, dengan dosis olahraga yang tepat tubuh secara natural akan memberikan respon positif salah satunya pada tulang. Kesehatan tulang tak terlepas dari proses remodeling tulang itu sendiri, melalui proses kopling yang terdiri dari formasi dan reabsorpsi. Proses tersebut merangsang molekul untuk melepaskan kolagen ke dalam sirkulasi, yaitu P1NP penanda aktivitas osteoblas pada proses formasi dan CTx penanda aktivitas osteoklas pada proses reabsorpsi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis disparitas efek akut akibat olahraga secara interval dan kontinyu dengan intensitas sedang selama masa pertumbuhan tulang, menggunakan desain penelitian eksperimen The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design dengan jumlah sampel sebanyak 16 orang yang dibagi menjadi dua kelompok (kelompok olahraga interval dan kelompok olahraga kontinyu). Teknik pengambilan subyek menggunakan teknik konsekutif. Intervensi dilakukan pada pukul 07.00 s/d 09.30 WIB. Pengambilan sample darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi dan diuji di laboratorium untuk menentukan P1NP dan CTx.
Kedua kelompok dilakukan pemanasan dengan melakukan treadmill dengan intensitas 50%-55% HRMax selama 5 menit. Kelompok interval melakukan treadmill dengan intensitas 65%-70% HRMax selama 2 menit pertama, dilanjutkan dengan aktivitas inti (Run 65%-70% HRmax) selama 4 menit diselingi pemulihan aktif selama 3 menit dengan intensitas 50%- 55% HRMax, dilakukan dalam 4 set. Sedangkan kelompok kontinyu melakukan treadmill secara kontinyu dengan aktivitas inti dengan intensitas 65%-70% HRMax selama 30 menit.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada rerata kadar P1NP (p=0,209 > 0,05), dan CTx pada kelompok interval maupun kontinyu (p=0,164 > 0,05), Namun pada uji beda terdapat penurunan kadar CTx sebelum (0,930 ± 0,566) dan sesudah (0,559 ± 0,398) pada kelompok aktivitas fisik kontinyu meskipun tidak signifikan (p=0,173 > p=0,05), sedangkan untuk kadar P1NP tidak terdapat kenaikan baik pada kelompok aktivitas fisik interval maupun kontinyu
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara efek akut interval dan aktivitas fisik kontinyu intensitas sedang pada tingkat P1NP dan CTx, yang berarti aktivitas fisik kontinyu dan interval dengan intensitas sedang tidak dapat meningkatkan kadar P1NP maupun menurunkan kadar CTx secara signifikan, namun pada kelompok kontinyu terdapat perbedaan trend rerata CTx sebelum dan 1 jam setelah aktivitas fisik, sehingga terdapat kecenderungan yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara terus menerus lebih baik daripada aktivitas fisik interval dengan intensitas sedang.
Penulis: Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes
Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link :
Gadis Meinar Sari; Yanuar Alfan Triardhana; Paulus Liben, Acute Effects of Interval and Continuous Physical Activity with Moderate Intensity on Biomarker Bone Formation Procollagen Amino Terminal Propeptide and Bone Carboxy-Terminal Crosslink Telepoptide. Journal of International Dental and Medical Research. Mar 2023, Vol. 16 No 1, p124-130.





