Universitas Airlangga Official Website

Efek Imunologis Cairan Empedu Kambing pada Hewan Coba yang Diinfeksi Malaria

Malaria adalah infeksi parasit menular yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria sebagai beban penyakit global masih menjadi perhatian serius bagi WHO karena banyaknya kematian yang terjadi, terutama pada anak-anak. Secara global, kasus malaria diperkirakan 245 juta pada tahun 2020 dan meningkat menjadi 247 juta kasus selama tahun 2021 di 84 negara endemis malaria.

Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2019-2021 diperkirakan ada tambahan 13,4 juta kasus disebabkan oleh terganggunya pelayanan terhadap pasien malaria akibat pandemi Covid-19, seperti penurunan lebih dari 30% penemuan kasus malaria, keterlambatan dalam distribusi kelambu berinsektisida, dan stok obat antimalaria karena pengurangan obat keterlambatan produksi dan transportasi.

Kasus malaria di Indonesia juga terus meningkat pasca COVID-19 pandemi, sejak tahun 2020 (235,700 kasus), 2021 (305,607 kasus), dan melonjak 36,29% pada tahun 2022 menjadi 415.140 kasus. Peningkatan kasus terjadi di wilayah yang terdapat penyakit malaria masih endemik seperti Indonesia bagian timur seperti Papua, Provinsi Kalimantan Timur khususnya di Kabupaten Penajam Paser tempat ibu kota baru Indonesia sedang dibangun, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Sumba. Untungnya, terjadinya peningkatan kasus malaria juga dibarengi dengan bertambahnya 372 dari 514 kabupaten (72,4%) tersertifikasi bebas malaria.

Pengobatan malaria di Indonesia berbahan dasar Artemisinin Combination Therapy (ACT) sesuai anjuran WHO. Namun, sebagian masyarakat Indonesia mengkonsumsi empedu kambing utuh untuk mengobati malaria dan meningkatkan stamina. Etnomedis sering dianggap sebagai pilihan utama mengobati penyakit di negara-negara berkembang karena hal tersebut terjangkau dan dapat diakses dari sumber alam yang tersedia.

Selama berabad-abad, Pengobatan Tradisional Cina (TCM) telah menggunakan empedu dari berbagai hewan dan komponen tertentu dari empedu dikombinasikan dengan obat herbal untuk mengatasi infeksi akut dan kronis, maupun penyakit infeksi maupun non infeksi, termasuk malaria.

Baru-baru ini, uji toksisitas akut dan sub-akut cairan empedu kambing (CEK) pada hewan coba mencit BALB/c telah dilaporkan, yaitu bahwa CEK menyebabkan diare ringan pada mencit. Hal ini enunjukkan menunjukkan bahwa CEK menyebabkan toksistas usus yang ringan. Aktivitas antimalaria dan efek supresif dari CEK juga telah dilaporkan pada mencit BALB/c yang diinfeksi Plasmodium berghei ANKA.

Penggunaan empedu kambing di Tiongkok telah didokumentasikan Chinese Materia Medica, yang secara terapeutik digunakan untuk mengobati atrofi optik, konjungtivitis hemoragik akut, dan berbagai penyakit kulit. Namun, belum ada laporan mengenai efek empedu hewan terhadap imunitas inang khususnya yang diinfeksi malaria. Imunoglobulin G (IgG) pada rodensia berperan penting dalam memediasi respon imun protektif untuk malaria.

Infeksi malaria berkaitan dengan peradangan. Peradangan memainkan peran penting dalam pertahanan inang terhadap patogen, seperti parasit malaria. Peradangan memainkan peran penting dalam hal pertahanan inang terhadap patogen, seperti parasit malaria. Sitokin pro-inflamasi yang penting, yaitu Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α) yang terlibat dalam respon imun terhadap infeksi malaria.

Sementara, sitokin anti inflamasi, yaitu IL-10 tidak hanya melindungi terhadap parahnya penyakit, tetapi juga menghambat imunitas protektif anti-parasit. Keseimbangan antara respon imun pro dan anti-inflamasi pada inang berperan penting dalam menentukan kesembuhan infeksi malaria. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek imunologi CEK terhadap kadar IgG, TNF-α, dan IL-10 pada mencit yang diinfeksi P. berghei.

Pada penelitian ini, kajian imunitas inang secara in vivo pada mencit yang diinfeksi P. berghei dan mencit normal yang diberi perlakuan dengan CEK pada konsentrasi 100%, 50%, maupun 25% menunjukkan bahwa, semua menghambat produksi IgG oleh mencit. Hal ini menunjukkan bahwa cairan empedu kambing menekan imunitas inang yang terinfeksi malaria, meskipun infeksi malaria memicu peningkatan kadar IgG, namun dengan pemberian CEK produksi IgG ditekan sampai hampir sama dengan mencit normal.

Penekanan produksi IgG ini diperankan oleh asam empedu ursodeoxycholic acid (UDCA). Meskipun UDCA sebagai obat telah dilaporkan dapat meningkatkan aliran urin, mengubah indeks hidrofobisitas kumpulan asam urin, sebagai obat penghancur batu empedu kolesterol, dan primary billiary chirosis (PBC) yang telah disetujui Food and Drug Administration (FDA), namun UDCA juga memiliki efek menekan imunitas tubuh.

Respon imun yang efektif terhadap malaria memerlukan keseimbangan sitokin pro-inflamasi dan anti-inflamasi. Infeksi malaria berhubungan dengan ketidakseimbangan produksi sitokin. Pada penelitian ini, mencit yang diinfeksi dengan parasit malaria, kemudian diberi CEK empedu kambing, lalu diukur kadar sitokin proinflamasi TNF-α dan anti inflamasi IL-10.

Pada mencit yang tidak diberi CEK menunjukkan parasitemia tinggi (40,58%), dan menyebabkan peningkatan kadar sitokin proinflamasi, namun kadar sitokin anti inflamasi yang rendah. Sebaliknya dengan pengobatan yang efektif dengan Dihidroartemisini piperaquine phosphate (DHP) menunjukkan pembersihan parasitemia total dan kadar sitokin pro inflamasi tetap tinggi namun sitokin anti inflamasi rendah. Hal ini karena respon imunologis yang berlarut-larut yang disebabkan oleh parasitemia sebelum terjadi efek pengobatan DHP.

Mencit yang diobati dengan CEK 100% mampu menekan parasitemia dan menunjukkan sitokin pro inflamasi pada kadar sedang dan anti inflamasi rendah. Pada konsentrasi yang lebih rendah, yaitu 50% dan 25%, cairan empedu kambing menurunkan parasitemia, tetapi diikuti dengan meningkatnya respon imun inang dalam bentuk peningkatan kadar sitokin anti inflamasi sebagai bentuk perlawanan inang melawan infeksi. Berdasarkan data ini, disimpulkan bahwa cairan empedu kambing pada kadar tinggi lebih bersifat terapeutik, tetapi pada kadar yang lebih rendah lebih bersifat meningkatkan respon imun. 

Menariknya, pemberian CEK 100%, 50% dan 25% pada mencit yang tidak diinfeksi (normal) menunjukkan kadar sitokin pro-inflamasi yang tinggi dan sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa CEK menyebabkan respon inflamasi yang tinggi. Kemungkinan inflamasi ini terjadi pada saluran pencernaan mencit karena terjadi diare pasca pemberian CEK.

Adanya reseptor asam empedu pada sel-sel imun intestinal memodulasi respon imun dan reaksi inflamasi pada usus. Hal ini menjadikan asam empedu mampu meningkatkan diferensiasi dan aktivitas beberapa jenis sel T yang terlibat dalam regulasi inflamasi intestinal. Selain itu, mikroba usus berperan penting dalam mengubah asam empedu menjadi molekul-molekul pemberi sinyal kekebalan.

Obat antimalaria tradisional Indonesia, CEK, ternyata mampu menyembuhkan malaria dan meningkatkan respon imun dengan cara yang bergantung pada konsentrasi CEK yang diberikan. Komponen CEK mempunyai sifat toksik dan khasiat yang bermanfaat. Belajar dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CEK bisa menjadi salah satu sumber obat antimalaria yang potensial. Namun, toksisitas CEK harus dipertimbangkan secara serius, karena efek kontradiktif terhadap efek terapeutik CEK. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengembangkan kandidat obat antimalaria baru berdasarkan sifat CEK yang inik tersebut.

Penulis: Heny Arwati dan Retno Handajani

Artikel selengkapnya dapat diakses pada:

International Journal of Scientific Advances 4(6): 804-810 atau www.ijscia.com