Fibrosis hepar merupakan salah satu penyakit yang mematikan di dunia. Banyak sekali penderita fibrosis yang tidak tertolong setelah menderita selama beberapa tahun. Fibrosis hepar dapat terjadi setelah adanya proses kerusakan hepar yang terus menerus tanpa adanya pertolongan. Akibat kerusakan hepar secara terus menerus tersebut maka tubuh merespon perbaikan kerusakan tersebut dengan menciptakan jaringan parut yang disebut dengan fibrosis. Penyakit fibrosis ini dapat mengganggu proses metabolisme dan fisiologis bagi hepar khususnya. Akibatnya banyak zat-zat toksik pada tubuh yang gagal dimetabolisme dengan baik, sehingga ikut memperparah kondisi tubuh. Karbon tetraklorida (CCl4) sering dianggap sebagai pemicu fibrosis. Bahan kimia ini akan dimetabolisme oleh hepar ketika masuk kedalam tubuh menjadi radikal karbon triklorometil (CCl3*). Radikal tersebut menjadi sangat reaktif ketika berikatan dengan membrane sel sehingga memicu kerusakan membran tersebut. Membran yang rusak tersebut dapat mengacaukan mitokondria sehingga mempercepat proses nekrosis dan apoptosis pada sel-sel hepar. Proses ini dapat terjadi dikarenakan adanya sinyal kematian sel yang memicu mobilisasi makrofag kedalam sel-sel hepar dan memproduksi sitokin pro-inflammasi. Peningkatan sitokin inilah yang memicu transformasi hepatic stellate cells (HSCs) menjadi myofibroblast. Adanya myofibroblast ini ditandai dengan berlimpahnya α-smooth muscle actin (α-SMA). Selain itu, fungsi myofibroblast ini sebagai sumber jaringan parut berupa matriks ekstraseluler (ECM). Matrix metalloproteinase (MMPs) merupakan enzim pendegradasi ECM tersebut sehingga dapat sebagai penyeimbang banyaknya ECM didalam tubuh.
Pengobaan alternatif dengan bahan alam menjadi favorit masyarakat dikarenakan harganya yang murah dan aman bagi tubuh. Ganoderma applanatum dikenal sebagai jamurr yang memiliki manfaat medis yang tinggi seperti antidiabetes, antikanker, antihipertensi, dan antiinflamasi. Sementara itu, polisakarida dari jamur G. applanatum sendiri sering dimanfaatkan sebagai terapi alternatif pengobatan kanker baik kanker paru, kanker payudara, kanker hepar, dan kanker usus. Polisakarida G. applanatum berperan sebagai immunomodulator yang berpotensi mengatur sitokin pro-inflammasi sehingga dapat mencegah adanya transformasi HSCs menjadi myofibroblast yang berujung pada sedikitnya proses fibrosis yang terbentuk.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya efek signifikan dari polisakarida G. applanatum terhadap ekespresi α-SMA dan MMP1. Ekspresi α-SMA pada penelitian ini menunjukkan adanya pencegahan terhadap kenaikan pada kelompok yg diinduksi dengan polisakarida G. applanatum. Sebaliknya tanpa adanya polisakarida G. applanatum mengakibatkan ekspresi α-SMA menjadi sangat tinggi sehingga potensi terjadinya fibrosis menjadi semakin tinggi. Manfaat polisakarida G. applanatum yang sama juga terjadi pada ekspresi MMP1, dimana kelompok yang diinduksi dengan polisakarida G. applanatum tidak mengalami degradasi yang signifikan dibandingkan kelompok yang tidak diinduksi dengan polisakarida tersebut. Hal-hal tersebut menunjukkan adanya khasiat dari polisakarida tersebut terhadap pengobatan alternatif fibrosis hepar. Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan makin banyak masyarakat yang mengkonsumsi jamur ini khususnya yang telah diekstraksi polisakaridanya.
Penulis: Prof. Win Darmanto,Med.Sci.Ph.D
Judul jurnal: The Effect of Ganoderma applanatum Crude Polysaccharide against α-Smooth Muscle Actin and Matrix Metalloproteinase-1 Expressions in Mice after Induced by Carbon Tetrachloride.
Link Jurnal: https://biomedpharmajournal.org/vol16no1/the-effect-of-ganoderma-applanatum-crude-polysaccharide-against-%ce%b1-smooth-muscle-actin-and-matrix-metalloproteinase-1-expressions-in-mice-after-induced-by-carbon-tetrachloride/





