Volatilitas nilai tukar mata uang dapat berdampak negatif terhadap ekspor dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian yang menggunakan model asimetris ternyata efek volatilitas nilai tukar tesebut lebih banyak berdampak pada ekspor industri suatu negara. Penelitian tersebut menyatakan bahwa volatilitas nilai tukar memiliki efek jangka pendek pada 22 ekspor industri Thailand dengan model simetris. Penelitian yang melihat dampak asismetris menunjukkan volatilitas nilai tukar berdampak pada ekspor di hampir seluruh industri di Thailand.
Di sisi lain, efek asimetris dari volatilitas nilai tukar terhadap ekspor di 5 negara ASEAN yang memiliki kontribusi sangat besar dalam perdagangan internasional masih belum banyak dikaji. Volatilitas dikatakan simetris apabila tidak menunjukkan perbedaan antara volatilitas positif (peningkatan volatilitas) dan volatilitas negatif (penurunan volatilitas). Contoh dari volatilitas simetris adalah ketika peningkatan volatilitas nilai tukar sebesar x% menurunkan ekspor sebesar y%. Begitu juga sebaliknya, penurunan volatilitas sebesar x% akan meningkatkan ekspor sebesar y%. Sementara itu, volatilitas asimetris terjadi ketika volatilitas positif (peningkatan volatilitas) dan volatilitas negatif (penurunan volatilitas) dipisahkan atau memiliki nilai yang berbeda. Hal tersebut terjadi karena eksportir dapat memiliki reaksi yang berbeda terhadap peningkatan volatilitas dan penurunan volatilitas sehingga efek volatilitas nilai tukar terhadap perdagangan bersifat asimetris.
Volatilitas nilai tukar dapat memiliki pengaruh yang berbeda (positif dan negatif) terhadap ekspor baik dalam metode ARDL dan ARDL Nonlinier. Volatilitas nilai tukar berpengaruh positif dan negatif masing-masing pada 8 dan 5 komoditas dalam jangka pendek (Metode ARDL). Sementara itu dalam jangka panjang, volatilitas nilai tukar berpengaruh positif dan negatif signifikan masing-masing pada 1 dan 8 komoditas. Hasil dari ARDL Nonlinier juga menyatakan bahwa penurunan dan peningkatan volatilitas nilai tukar berpengaruh positif dan negatif signifikan dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Hasil dari penelitian ini juga menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh positif signifikan pada 7 komoditas dengan metode ARDL dan 6 komoditas dengan ARDL Nonlinier dalam jangka panjang. Indeks produksi industri berpengaruh positif signifikan pada 4 komoditas di masing-masing metode.
Penurunan dan peningkatan volatilitas nilai tukar berpengaruh negatif signifikan di sebagian besar komoditas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan dampak mana yang lebih besar antara peningkatan volatilitas dan penurunan volatilitas nilai tukar. Menjaga nilai tukar agar tetap stabil merupakan strategi yang sangat penting karena eksportir di negara ASEAN-5 secara umum memiliki perilaku risk averse, dimana penurunan volatilitas nilai tukar akan meningkatkan nilai ekspor yang cukup besar. Untuk menjaga kestabilan dari nilai tukar, pemerintah perlu untuk menjaga cadangan devisa yang cukup serta meningkatkan investasi yang masuk ke dalam negeri.
Di sisi lain, Indeks produksi industri yang berpengaruh negatif dalam jangka Panjang menunjukkan negara tujuan ekspor memiliki substitusi atas komoditas tersebut. Oleh karena itu, pelaku bisnis perlu melakukan diferensiasi produk dan meningkatkan daya saing komoditasnya. Diferensiasi produk dapat diwujudkan dengan melakukan inovasi dan adopsi teknologi, sedangkan meningkatkan daya saing dapat dilakukan dengan memperkuat strategi rantai nilai pasok (global value chain) yang dapat membuat produksi lebih efisien dan harga bersaing.
Penulis: Handoyo R.D., Alfani S.P., Ibrahim K.H., Sarmidi T., Haryanto T.
Link Jurnal : Exchange rate volatility and manufacturing commodity exports in ASEAN-5: A symmetric and asymmetric approach





