Kasus gemuk (overweight) dan obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data World Health Organization pada tahun 2016 menunjukkan peningkatan kasus obesitas sebesar 3% pada laki-laki dan 6% pada perempuan dibandingkan tahun 1975. Sedangkan kasus overweight mengalami peningkatan 20% pada laki-laki dan 23% pada perempuan dibandingkan tahun 1975. Di Indonesia, kasus obesitas pada tahun 2018 sebanyak 21,8 % dari penduduk Indonesia dan 13,6% termasuk overweight (Riskesdas, 2018). Peningkatan kasus overweight dan obesitas antara lain disebabkan oleh konsumsi makanan yang berlebih (diet tinggi kalori) dan kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. Kurangnya aktivitas fisik juga mendukung peningkatan lemak (trigliserida) karena rendahnya pengeluaran energi daripada energi yang masuk. Hal ini juga berbanding lurus dengan peningkatan marker keradangan, salah satunya adalah C-reactive protein (CRP). C-reactive protein (CRP) juga merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui faktor risiko berbagai penyakit (hipertensi, jantung, aterosklerosis) dan tingkat inflamasi sistemik. Kasus overweight dan obesitas juga berkaitan dengan terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Penelitian yang dilakukan oleh Damiri dkk. menunjukkan bahwa kasus overweight dan obesitas memiliki kadar glukosa darah puasa diatas 100 mg/dl (hiperglikemia/diatas batas normal).
Penangangan dan pencegahan overweight dan obesitas dilakukan dengan cara melakukan kombinasi antara olahraga dan pembatasan makanan yang tepat. Olahraga bertujuan untuk meningkatkan pengeluaran energi. Diharapakan dapat memperbaiki kerja organ tubuh, serta mengurangi jaringan lemak (adiposa) dan berat badan. Sedangkan, pembatasan makanan yang dikonsumsi bertujuan untuk mengurangi energi yang masuk ke dalam tubuh, dengan demikian dapat mencegah pembentukan lemak yang berlebihan. Olahraga juga mampu meningkatkan marker anti keradangan yang dapat menekan marker keradangan seperti CRP. Olahraga mempengaruhi sistem imun dengan menurunkan jumlah sel darah putih mononuklear di darah perifer yang merupakan sumber sitokin yang memicu keradangan seperti Interleukin-1, Interleukin-6, Interleukin-1β, Iinterleukin-8, dan CRP. Olahraga juga meningkatkan anti keradangan seperti Interleukin-10, Interleukin-1ra. Penurunan Interleukin-6 mempengaruhi penurunan CRP, karena Interleukin-6 merupakan stimulator sekresi CRP di hepar. Olahraga berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penggunaan glukosa sebagai sumber energi yang digunakan selama berolahraga.
Pembatasan makanan berperan dalam meningkatkan penggunaan energi lemak dan menurunkan kadar glukosa darah, lemak dan keradangan. Pembatasan makanan meningkatkan antioksidan dan anti-keradangan. Pembatasan makanan juga menunrunkan kadar glukosa darah puasa. Hal ini terjadi karena berkurangya asupan makanan yang masuk, sehingga digunakanlah lemak tubuh sebagai sumber energi tambahan. Glukosa yang ada di darah juga banyak dipakai untuk sumber energi sehingga kadar glukosa darah juga menurun. Pembatasan makanan juga meningkatkan kadar antioksidan dan menurunkan radikal bebas. Penurunanan radikal bebas juga berperan dalam menurunkan tingkat keradangan salah satunya CRP. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan kadar anti keradangan.
Kombinasi pembatasan makanan dan olahraga berperan dalam menurunkan kadar keradangan CRP. Kombinasi pembatasan makanan dan olahraga merupakan cara terbaik dalam menurunkan kadar keradangan CRP. Pembatasan makanan dan olahraga secara bersamaan meningkatkan kadar antioksidan dan menurunkan kadar radikal bebas. Selain itu, pembatasan makanan dan olahraga meningkatkan kadar anti keradangan, seperti interleukin 10 dan menurunkan kadar pro keradangan seperti interleukin 6 dan TNF-α. Kombinasi pembatasan makanan dan olahraga juga merupakan cara terbaik dalam menurunkan kadar glukosa darah dengan efektif. Pembatasanan makanan dan olahraga menyebabkan peningkatan penyerapan glukosa darah di otot yang lebih baik daripada olahraga saja atau pembatasan makanan saja. Hal ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan energi akibat pembatasan makanan dan olahraga.
Oleh karena itu, olahraga dan pembatasan makanan yang tepat dapat memberikan manfaat dalam menurunkan kadar marker keradangan CRP dan glukosa darah. Mekanisme bagaimana olahraga dan pembatasan makanan memberikan efek yang positif tersebut antara lain dengan cara membakar kalori/ lemak, meningkatkan marker anti radang, meningkatkan penyerapan glukosa darah di otot. Hal tersebut memicu penurunan marker keradangan yang lain, dan meningkatkan antioksidan yang bermanfaat menetralkan radikal bebas yang dapat memicu keradangan.
Penulis: Muchammad Rif’at Fawaid As’ad, M.Kes; Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes
Informasi detail dari review artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://journalskuwait.org/kjs/index.php/KJS/article/view/12365/799
As’ad, M.R. at F. et al. (2022) ‘The combination of intermittent caloric restriction and moderate-intensity interval training in decreasing blood glucose and CRP levels with a high glycemic index diet’, Kuwait Journal of Science, 49(2), pp. 1–11. Available at: https://doi.org/10.48129/kjs.12365.





